1
Peziarah @Saripati18
1. kalau hanya ngutip ayat atau ambil teori-teori modern tanpa ada cara pandang yang khas, akan hambar. berilah pandangan yang baru
Peziarah @Saripati18
2. pandangan baru itu bukan berarti mendistorsi ayat atau menjungkirbalikkan teori. Tapi sekadar ada pembaruan yang sifatnya sangat personal
Peziarah @Saripati18
3. Contoh jika Anda bicara soal salat sunah dhuha dan tahajud, hanya sebatas manfaat n praktik ritual, itu sangat biasa. Berilah pencerahan
Peziarah @Saripati18
4. sekadar pandangan lain, bahwa menjalankan syariat, salat misalnya. Salat hrs dipahami sbg kunci penyempurna segala gerak hidup kita.
Peziarah @Saripati18
5. maksud penyempurna itu, hanya salat yang mempercepat proses penyebaran Islam. Ia jadi ikatan dasar laju penyebaran yg begitu cepat
Peziarah @Saripati18
6. sy teramat yakin, tanpa ikatan salat, laju penyeban Islam akan lambat. Salah satu penggerak percepatan itu ada pada adzan.
Peziarah @Saripati18
7. Soal penyempurna. Zaman Nabi Isa, org tak boleh bercerai. Nabi Muhammad hadir, boleh bercerai. Meski itu tindakan halal yg dibenci Allah
Peziarah @Saripati18
8. Logika syariat Nabi Isa, org yg sdh disatukan Allah, tak boleh dipisahkan oleh manusia. Penyatuan yang sakral itu yang disasar Nabi Isa
Peziarah @Saripati18
9. Jadi jika Anda abaikan syariat dan merasa sdh makrifat atau jadi intelektual dan filosof, artinya Anda hnya bersandar pada olah nalar
Peziarah @Saripati18
10. Seolah-olah memainkan ayat-ayat suci itu dan teori2 besar, sebuah keberhasilan olah nalar. Tapi sejatinya, ia kosong dlm soal olah batin
Peziarah @Saripati18
11. orang yang hidupnya dikuasai olah nalar akan sulit menemukan kekhusyuan. Selalu ingin dianggap "wah", ingin dipuji
Peziarah @Saripati18
12. Otak, yang konon ada di kepala kita. Haruslah dijaga dengan olah batin, dengan kalbu. Ia akan saling berkelindan
Peziarah @Saripati18
13. Posisi kepala, yang dianggap paling tinggi dlm struktur tubuh kita, ia menjadi paling rendah ketika bersujud. Apa maknanya?
Peziarah @Saripati18
14. Itu artinya, olah nalar kita akan kembali pada olah batin. Posisi kepala yg tinggi akan jadi rendah di hadapan Tuhan
Peziarah @Saripati18
15. Merayakan isi kepala (olah nalar) tanpa mau membesuk ruang batin (olah batin), ia hanya akan menguar arogansi. Biar dianggap intelek
Peziarah @Saripati18
16. orang yang hidupnya dikuasai pikiran (olah nalar) tanpa mau menggandeng olah batin (makrifat), ia tak akan istiqomah. Sll ingin dipuja
Peziarah @Saripati18
18. Orang2 yg merayakan intelektualitas dan gemar memainkan teks-teks suci, hakikatnya blm menemukan kunci ilmu.
Peziarah @Saripati18
19. Kata ilmu, "ilm" hakikat memahami, mengerti, atau mengetahui ilmu Ketuhanan. Jadi olah nalar itu muaranya pd olah batin. al ilmu nurrun
Peziarah @Saripati18
20. Al ilmu nurun, ilmu itu pancaran cahaya. Jadi org yang tak berilmu itu gelap jiwanya. Tapi yg berilmu tanpa tahu hakikatnya, ya tersesat
Peziarah @Saripati18
21. orang yang bersandar pada olah nalar n abai pada olah batin dalam konteks mencari ilmu, hakikatnya lupa tentang makna ilmu
Peziarah @Saripati18
22. banyak betul orang yang kaya khazanah penguasaan ilmu agamanya dan hapal teori-teori besar, tapi terlihat hny bermain pada olah nalar
Peziarah @Saripati18
23. Olah nalar jadi diskursus yang sangat dominan ketika bicara banyak hal. Pada titik ini, yang ada hanyalah merayakan intelektualitas
Peziarah @Saripati18
24. kebiasaan orang yg gemar memainkan olah nalar, berapologi bahwa ilmu itu ada peranti2, logika yang terstruktur dan parameternya jelas
Peziarah @Saripati18
25. Pola argumen spti ini basi. Krn hakikat semua olah nalar itu bermuara pada olah batin. Akan sulit mmg mmberi pemahaman seperti ini
Peziarah @Saripati18
26. Jalaluddin Rumi, meletakkan akal dan pengetahuan lahiriah sebagai “jembatan” bagi pengetahuan yang lebih tinggi dan sempurna
Load Remaining (8)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.