Chirpstory will close the service later this year. At the end of September, you will not be able to post stories or comments.

(Salah Satu Contohnya Anji) Sekilas Tentang Cancel Culture, Ketika Seseorang Dianggap Blunder Lalu "di-cancel" Dengan Cara Diunfollow atau Tidak Lagi Disupport Karya-karyanya

Thread by: @zahraamalias
2
Zahra Amalia @zahraamalias

PhD Student in Sociology @UCSanDiego • Political Sociologist • Social movement strategy & repertoire, social class, welfare politics, poverty & development.

Zahra Amalia @zahraamalias

Sering denger tentang #CancelCulture? Kayak waktu seseorang dianggap blunder terus dia “di-cancel” dengan cara diunfollow atau tidak lagi disupport karyanya. Atau mungkin kalian merasa kalau #CancelCulture itu masalah nyata dan cerminan sifat anti kebebasan berpendapat?

03/08/2020 19:01:49 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Yuk kita telaah lebih jauh masalah “cancel culture” ini secara Antropologis. Berikut terjemahan dan adaptasi dari utas @js_rubin tentang elemen budaya atau culture dari #CancelCulture itu sendiri. twitter.com/js_rubin/statu…

03/08/2020 19:01:49 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Kebanyakan, pembicaraan tentang #CancelCulture berfokus pada apakah “canceling” adalah fenomena yang nyata dan apakah cancelling itu mencerminkan sifat iliberal/anti kebebasan. Tapi, jarang ada yang mempertanyakan kenapa “meng-cancel” itu sampai disebut culture atau budaya.

03/08/2020 19:01:50 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

"Budaya" sangatlah sulit didefinisikan sehingga Antropolog modern sering menghindari penggunaan istilah itu. Sebenarnya, alasan Antropolog menghindari istilah “budaya” adalah alasan yang sama kenapa orang memakai istilah “budaya” untuk mengkritik aksi cancelling.

03/08/2020 19:01:50 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Tapi, sebelum masuk ke pembahasan tentang itu, kita kudu melihat definisi klasik (dan problematik!) dari “budaya.” Menurut Tylor (1871), budaya adalah suatu sistem adat, kepercayaan, simbol, dan kebiasaan yang diasosiasikan dengan suatu kelompok.

03/08/2020 19:01:51 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Sedangkan, Geertz (1964) menganggap budaya bersifat arbitrer, alias ga berlandasan logis. Misalnya, ga ada alasan logis kenapa orang Skotlandia memakai “rok” kilt. Pokoknya, kita lahir dalam suatu masyarakat yg punya suatu pemahaman tentang selera, perilaku, ritual & moral.

03/08/2020 19:01:51 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Antropologi klasik sempat memiliki tujuan kolonial, yakni untuk mendeskripsikan kepercayaan, budaya, praktik & simbol sebagai definisi dari "orang Nuer" atau "orang Cree." Di sini, perdebatan internal, perubahan historis, atau perbedaan dalam budaya tidak dianggap penting.

03/08/2020 19:01:52 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Analisis klasik tentang apa yang dianggap "budaya primitif" ini selalu dikontraskan dengan “budaya Euro-Amerika yang beradab.”

03/08/2020 19:01:53 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Meski orang Eropa mungkin memang punya budaya, poinnya adalah bahwa dunia "kita" (dari perspektif Eropa) dibangun berdasar logika rasional, sedangkan dunia "mereka" (orang lain seperti orang Nuer, Cree, atau Jawa misalnya) cuma merupakan cerminan budaya saja tanpa landasan logis.

03/08/2020 19:01:53 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Jadi, apa yang bisa kita ambil dari perbedaan antara “kita” dan “mereka" ini terkait #CancelCulture? Istilah #CancelCulture kerap dipakai oleh pengkritik tindakan cancelling yg menganggapnya sebatas pada budaya yang tak logis.

03/08/2020 19:01:53 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Dengan menganggapnya sekedar budaya tanpa landasan logis, tuntutan atas akuntabilitas dan tanggung jawab terhadap orang-orang yang di-cancel jadi seakan tidak valid lagi.

03/08/2020 19:01:54 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Kalau istilah #CancelCulture dipakai, alasan KENAPA orang kesal dengan sifat transfobik J.K. Rowling atau monumen konfederasi yg rasis di Amerika tidak perlu lagi dipusingkan. Tuntutan atas akuntabilitas di balik kekesalan para peng-cancel dinihilkan karena dianggap tidak logis.

03/08/2020 19:01:55 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Dengan menyebut tuntutan atas pertanggungjawaban sebagai #CancelCulture, orang yang mengkritik tindakan cancelling secara tidak langsung mengatakan bahwa komitmen aktivis atas suatu hal sifatnya arbitrer, ga rasional & cuma berdasarkan "budaya" generasi Milenial dan Gen Z saja.

03/08/2020 19:01:55 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Kenapa orang Inggris suka minum teh dan makan biskuit? Ga ada alasannya! Ya karena mereka orang Inggris aja. Kenapa Milenial dan Gen Z suka “nge-cancel” orang lain? Ga ada alasannya juga! Itu kan cuma kebiasaan kelompok Milenial dan Gen Z aja. Begitu kira-kira.

03/08/2020 19:01:56 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Ironisnya, dengan menganggap #CancelCulture sebagai sekedar “budaya” tanpa alasan logis yang jelas, kritikusnya bisa bebas terlepas dari tuntutan atas akuntabilitas dan pertanggungjawaban yang sebenarnya merupakan inti dari “cancelling” itu sendiri.

03/08/2020 19:01:56 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Dengan mereduksi tuntutan atas akuntabilitas & pertanggungjawaban sebagai "budaya," kritikus #CancelCulture bisa memakai kontras yg sama dengan Antropolog Klasik: “mereka” yang budayanya tak logis vs “kami” yang menjunjung tinggi prinsip kebebasan berpendapat & debat rasional.

03/08/2020 19:01:57 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Ini juga kenapa banyak Pembela Free Speech™ yang tidak menyadari betapa hipokritnya mereka sendiri karena "meng-cancel" pendapat lain yang tidak mereka sukai dengan menggunakan label #CancelCulture untuk menghindari perdebatan kritis dan tuntutan atas akuntabilitas.

03/08/2020 19:01:57 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Sebagai seorang konservatif @DouthatNYT mengakui kalo hampir semua orang percaya adanya batasan atas ide apa yang bisa diterima di ruang terbatas atau di ruang publik. nytimes.com/2020/07/14/opi…

03/08/2020 19:01:57 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

Jadi, kunci dari masalah ini adalah menentukan batasan hal apa yg bisa diterima & mana yg tidak. Tapi, masalah ini tak akan pernah bisa dibahas kalau ada pihak yg masih meyakini bahwa tuntutan atas akuntabilitas dan tanggung jawab hanyalah #CancelCulture yg arbitrer & irasional.

03/08/2020 19:01:58 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

@rakhmad_hp Apa iya dia korban? Dia ga kehilangan kebebasan berpendapatnya, kok. Hehe.

03/08/2020 19:13:45 WIB
Rakhmad HP @rakhmad_hp

@zahraamalias Buku dan beberapa merchandise harpot katanya sih dibanned di beberapa tempat.

03/08/2020 19:15:33 WIB
Zahra Amalia @zahraamalias

@rakhmad_hp Itu sebagai konsekuensi dari perkataan dia. Orang bebas berpendapat, tapi konsekuensinya harus mereka tanggung juga. Orang bebas untuk memberi platform atau tidak bagi seseorang (dalam hal ini nge-ban misalnya), toh itu ga mencabut kebebasan berpendapat Rowling, kan.

03/08/2020 19:19:38 WIB
Rakhmad HP @rakhmad_hp

@zahraamalias Iya sih. Tapi aku agak bingung, kemarin yang ikut meneken petisi kebebasan berpendapat itu penulis sohor dan andalan semua. Dari Salman Rhusdie sampai Malcolm Gladwell. Steven Pinker juga ikut dukung.

03/08/2020 19:21:19 WIB
Load Remaining (15)

Comment

No comments yet. Write yours!