(Kemampuan Menyaring Informasi Orang Indonesia Mati) Supaya Tidak Menjadi Bagian dari 'Kematian' Itu, Ini Trik yang Bisa Kamu Terapkan di Kehidupanmu

baca, itu bagian dari perintah agama
2
Logos ID @logos_id

Linimasa sedang ramai dengan sikap ignoran terhadap Covid-19 dalam obrolan Anji bersama Hadi Pranoto, yg mengaku sebagai profesor. Sebagai awam, bagaimana langkah kita berhati2 dalam memfilter informasi semacam itu? Jadi Awam yang Bijak Lewat Buku Matinya Kepakaran - a thread! pic.twitter.com/3QBxr9QjgO

03/08/2020 11:18:26 WIB
Expand pic
Logos ID @logos_id

Sebelumnya, buku Matinya Kepakaran merupakan hasil tulisan Tom Nichols. Buku ini berangkat dari keresahannya melihat bagaimana orang-orang dari “tak mendapat informasi” menjadi “salah informasi”.

03/08/2020 11:18:27 WIB
Logos ID @logos_id

Fenomena tersebut bisa berbahaya karena akan ada orang-orang yang bukan saja percaya hal-hal bodoh, tetapi juga menolak belajar lebih jauh dan tidak mau melepaskan apa yang mereka yakini. Membaca buku ini bisa menajamkan rasa skeptis kita terhadap informasi.

03/08/2020 11:18:27 WIB
Logos ID @logos_id

Tom Nichols menyampaikan banyak hal yang bisa menjadi bekal kita menghadapi orang-orang semacam Anji, Hadi Pranoto, maupun Jerinya. Saya akan membaginya dalam tiga poin.

03/08/2020 11:18:28 WIB
Logos ID @logos_id

1. Kita Adalah Awam Bisa saja orang semacam Anji pernah kita temui di kehidupan nyata. Mungkin temanmu, pamanmu, tantemu, atau kakakmu. Mereka punya kesamaan bahwa mereka orang biasa yang merasa dirinya adalah timbunan pengetahuan.

03/08/2020 11:18:28 WIB
Logos ID @logos_id

Kenyataannya, kita tidak dapat berfungsi tanpa mengetahui batas kemampuan sendiri dan percaya keahlian orang lain. Dengan arti lain, tidak ada seorang pun yang bisa ahli dalam segala hal.

03/08/2020 11:18:28 WIB
Logos ID @logos_id

Kebebasan individu dalam demokrasi menciptakan ruang publik yang berisik. Ini sekaligus menjadi tantangan bagi pengetahuan yang mapan. Wacana publik kita mengalami perubahan, semua orang menjadi setara. Pandangan pakar menjadi sama baiknya dengan yang lain, termasuk awam.

03/08/2020 11:18:29 WIB
Logos ID @logos_id

Kondisi tersebut bisa memberikan rasa percaya diri di dalam diri seorang Anji. Namun, sekaligus bahaya bagi awam yang lain. Oleh karena itu, kita harus menjadi awam yang mau untuk mencari dan tidak meninggalkan rasa skeptis dalam memproses informasi.

03/08/2020 11:18:29 WIB
Logos ID @logos_id

Selain itu, ada cara untuk membedakan awam dengan pakar. Kita bisa melihat 4 aspek yang terdiri dari pendidikan, bakat, pengalaman, dan pengakuan rekan sejawat. Langkah netizen yang mencari jejak publikasi Hadi Pranoto, bisa menjadi contoh proses pembuktian kepakaran seseorang

03/08/2020 11:18:29 WIB
Logos ID @logos_id

2. Bahaya Bias Konfirmasi Orang yang tidak mau mengakui kapasitas diri bisa dijelaskan dengan Efek Dunning-Kruger yang mengatakan bahwa semakin bodoh seseorang, maka semakin yakin kalau dirinya tidak bodoh, sehingga sulit menyadari kesalahannya.

03/08/2020 11:18:30 WIB
Logos ID @logos_id

Fenomena seperti itu muncul karena seseorang tidak memiliki metakognisi. Metakognisi merupakan kemampuan untuk menyadari kesalahan, dengan mengambil jarak, melihat apa yang sedang dilakukan, lalu menyadari bahwa itu merupakan kesalahan.

03/08/2020 11:18:30 WIB
Logos ID @logos_id

Ruang publik yang ramai bisa mempertemukan orang-orang tanpa kemampuan metakognisi yang baik di satu tempat. Ketika sudah seperti itu bisa saja muncul sebuah perdebatan yang hanya bertujuan membuktikan bahwa lawan salah.

03/08/2020 11:18:30 WIB
Logos ID @logos_id

Perbedaan pendapat menjadi ajang lempar kontradiksi, factoid acak, dan sumber-sumber tidak meyakinkan. Kita juga memiliki kecenderungan mencari bukti yang sejalan dengan keyakinan kita. Dalam hal ini, tak terkecuali bagi pakar. Akhirnya tercipta debat kusir yang melelahkan.

03/08/2020 11:18:31 WIB
Logos ID @logos_id

Perdebatan semacam itu terjadi karena adanya bias konfirmasi pada pelaku perdebatan. Sebenarnya, untuk masalah sehari-hari bias konfirmasi bisa diatasi dengan akal sehat. Namun untuk hal-hal yang lebih rumit, membutuhkan sebab dan akibat, sifat bukti, dan statistik.

03/08/2020 11:18:31 WIB
Logos ID @logos_id

Ribet, kan? Makanya ada teori konspirasi yang merupakan hasil dari bias konfirmasi yang ekstrem. Ketika seseorang merasa kesulitan memahami dunia yang rumit dan tidak ada kesabaran untuk memahaminya, ya bukan nggak mungkin akan lebih mudah memberikan omong kosong yang rumit.

03/08/2020 11:18:31 WIB
Logos ID @logos_id

3. Hati-hati Bermain Mesin Pencari Ketidaktahuan kita bisa dikurangi dengan bantuan mesin pencari. Dengan menuliskan beberapa kata, lalu jawaban atas pertanyaanmu tersedia. Internet menjadi ruang terbuka bagi segala macam informasi, baik yang matang maupun masih setengah matang.

03/08/2020 11:18:32 WIB
Logos ID @logos_id

Pencarian informasi akan menampilkan hasil sesuai dengan algoritmanya. Ukuran dan volume internet yg besar, memungkinkan adanya informasi buruk yang mengelilingi informasi yang baik. Artinya, 2 jenis informasi tersebut tidak bisa dipisahkan hanya dengan mengandalkan internet.

03/08/2020 11:18:32 WIB
Logos ID @logos_id

Kita tidak bisa menganggap sudah melakukan penelitian hanya dengan menuliskan kata kunci di mesin pencari. Alih-alih mengedukasi, banjir informasi yang beragam justru bisa menempatkan kita dari di posisi tidak tahu menjadi keliru.

03/08/2020 11:18:32 WIB
Logos ID @logos_id

Semakin banyak mengklik portal informasi, semakin kita merasa sudah mengerti. Padahal kita ada dalam situasi salah mengartikan pengetahuan yg didapat dari luar sebagai pengetahuan internal. Proses bertambahnya pengetahuan seperti ini memberikan tantangan bagi seorang ahli.

03/08/2020 11:18:33 WIB
Logos ID @logos_id

Dalam memproses yang ada di internet melibatkan peran aktif kita sebagai pembaca. Tidak seperti ensiklopedi yang merupakan hasil kerja kolektif, pengguna bisa mengawasi setiap entri dan membersihkan kesalahan dan bias. Bermain mesin pencari tidak serta merta membuat kita ahli.

03/08/2020 11:18:33 WIB
Logos ID @logos_id

Sebagai bagian dari negara demokrasi, kita tidak bisa meredam hak freedom of speech seseorang. Namun, kita masih punya kendali untuk memilah suara mana yang akan kita dengar. Kita juga perlu mawas diri, menyadari kemampuan diri sendiri supaya tidak menjadi Anji yang lain lagi.

03/08/2020 11:18:33 WIB
Logos ID @logos_id

“Kadang-kadang,” tulis Tom Nichols, “manusia perlu berhenti dan merenung, memberi waktu untuk menyerap dan mencerna informasi.” Sumber: Matinya Kepakaran (Tom Nichols, 2018) Konten oleh: @afitaasm

03/08/2020 11:18:34 WIB
Verren Nadhifa M. S. @iniverren

@logos_id udah baca! emg top. kalau di kedokteran mgkin kerasa bgt ya “kesegenan” kita dlm berilmu dan berucap. krn kita tau proses “berilmu” itu ga mudah. kita jg dididik buat kasi pernyataan kredibel dgn jurnal berlapis, tp yg salutnya guru2 besar kita gapernah ngerendahin walau salah.

03/08/2020 11:34:45 WIB
soelthan @thesoelthan

@logos_id aksioma dari demokrasi-liberal + perkembangan teknologi yang pesat adalah unfiltered information and bubble effect, satu informasi bisa langsung menjejalahi berbagai dunia dengan mudah. Belum lagi pengguna nya yang belum tentu bisa memilah dan berpikir rasional dalam menelaah.

03/08/2020 11:41:23 WIB
Netijen baik ⚪ @linggafjr

@thesoelthan @logos_id Kalo boleh bilang, berpikir dan bersikap kritis-rasional adalah hal yg sulit sekarang. 😭

03/08/2020 11:43:57 WIB
Load Remaining (9)

Comment

No comments yet. Write yours!