5 Kesalahpahaman yang Paling Sering Kita Dengar Tentang Krisis Iklim

perubahan iklim sama bahayanya dengan covid-19 @tumbenlucu
1
Andhyta F. Utami @Afutami

5 Kesalahpahaman yang Paling Sering Kita Dengar tentang Krisis Iklim [A THREAD]: pic.twitter.com/LHxiuhHhTm

30/07/2020 15:23:13 WIB
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

(1) "Perubahan iklim dampaknya masih lama, lebih baik kita urus dulu isu yang lebih urgent dan ada 'di depan mata'..." pic.twitter.com/qmZAPNNJ1P

30/07/2020 15:25:14 WIB
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Faktanya: krisis iklim sudah di depan pintu: - Frekuensi dan intensitas banjir tahunan meningkat (2017 & 2020) - Musim kemarau panjang sudah menyebabkan puluhan ribu hektar gagal panen, sekaligus - Kekeringan yang menyebabkan kebakaran lahan sulit dikontrol (2015 & 2019) pic.twitter.com/pHetZYrxao

30/07/2020 15:31:30 WIB
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

(2) "Iklim memang selalu akan berubah, bukan salah manusia. Bencana alam hanya bisa ditanggulangi dengan berdoa dan berserah kepada YMK..." pic.twitter.com/TWgl97SOZ6

30/07/2020 15:34:07 WIB
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

A tale of two graphs: kiri, anomali kenaikan suhu rata-rata global sejak awal mula revolusi industri vs. kanan, total emisi CO2 ke udara. Hmm kenapa pola keduanya mirip ya? pic.twitter.com/8fdVzX6dGx

30/07/2020 15:38:07 WIB
Expand pic
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Mayoritas ilmuwan (utamanya yang tergabung dalam IPCC) sudah sepakat bahwa krisis iklim disebabkan oleh manusia. Angka yang sering disebutkan adalah 97%, tapi angkanya memang beragam tergantung cakupan 'ilmuwan' tersebut. forbes.com/sites/uhenergy… pic.twitter.com/QZxhfIaubK

30/07/2020 15:59:45 WIB
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Apa yang sebenarnya terjadi? Mudahnya, panas dari matahari terperangkap di permukaan bumi oleh lapisan gas-gas polutan di atmosfer. Efeknya seperti 'rumah kaca', makanya sering disebut sebagai gas rumah kaca. pic.twitter.com/m092rNKhrf

30/07/2020 16:02:54 WIB
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Gas-gas rumah kaca ini datangnya dari mana? Aktivitas ekonomi manusia yang membakar bahan bakar fosil (batu bara, minyak, gas), serta sektor lahan seperti deforestasi atau karhutla. pic.twitter.com/ZWxPux0gZ6

30/07/2020 16:10:34 WIB
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

(3) "Naik cuma 1-2 Celsius bukannya nggak seberapa ya? Kenapa pada panik sih?" (Meme brilliantly made by @asumsico.) pic.twitter.com/cO1WrTbrv5

30/07/2020 17:06:00 WIB
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Jawaban: bayangin tubuh manusia naik dari 37 ke 38 derajat Celsius, naiknya 'cuma' 1 derajat, tapi itu batas ambang yang menentukan apakah fungsi ekosistem dan siklus musiman tetap berjalan. Ini empat skenario dari 2 sampai 4.8 derajat Celsius (kalau nggak ngapa-ngapain). pic.twitter.com/Qa6vczTTey

30/07/2020 17:13:31 WIB
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Ini kutipan lepas beberapa studi tentang potensi dampak pemanasan global >2 derajat Celsius bagi Indonesia. Di Jakarta, dampaknya diperparah dengan tanah yang turun terus, salah satunya sumur bor air tanah berlebihan. bbc.com/news/world-asi… pic.twitter.com/MtKaNNW3X6

30/07/2020 17:41:03 WIB
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

(4) Salah satu yang paling trigering untuk saya: "Ngomongin krisis iklim itu elitis, masih banyak orang miskin yang harus dibantu dulu..." pic.twitter.com/BhU6bQwIGz

30/07/2020 17:45:59 WIB
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Patut dipertanyakan: siapa yang diuntungkan oleh degradasi lingkungan? Ketika pembakaran lahan terjadi, mayoritas keuntungan bersifat privat, sedangkan biaya sosial ditanggung oleh masyarakat secara keseluruhan (eksternalitas). Belum lagi kekayaan masih terkonsentrasi... pic.twitter.com/4oHXnhleQh

30/07/2020 17:57:25 WIB
Expand pic
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Krisis iklim justru adalah isu kelas. Pembiaran model ekonomi intensif karbon dan krisis iklim lebih berdampak pada kelompok ekonomi rentan. Ketika banjir kemarin, yang kaya bisa nginep sementara di hotel, beli furnitur baru. Dampaknya tidak proporsional. pic.twitter.com/EnVGFLFcgS

30/07/2020 18:04:44 WIB
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Contoh lain: ketika polusi PLT batu bara menyebabkan penyakit pernapasan/NDCs, biaya yang harus dikeluarkan sangat berat untuk kelompok pendapatan rendah, yang biasanya tidak memiliki pilihan tempat tinggal. pic.twitter.com/kAHhKYiWNI

30/07/2020 18:06:37 WIB
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

(5) "Ok ini isu penting, tapi Indonesia kan berhak memajukan ekonomi dulu sebagai negara berkembang. Toh ini salahnya negara-negara Barat sejak revolusi industri." pic.twitter.com/lZeW5392Rk

30/07/2020 18:10:01 WIB
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Faktanya: komitmen di bawah Paris Agreement saat ini MASIH JAUH untuk menahan laju pemanasan global di 2°C. Ambisi dan keseriusan harus terus didorong, baik untuk Indonesia *maupun* 9 negara dengan emisi terbesar lain yang btw menghasilkan 60-70% emisi global! pic.twitter.com/gXGnZMPhDj

30/07/2020 18:26:26 WIB
Expand pic
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Menariknya, begitu emisi karbon dibandingkan dengan luaran ekonomi, terlihat inefisiensi ekonomi Indonesia (intensitas emisi tertinggi di dunia), kemungkinan karena kebanyakan emisi datang dari sektor hutan dan lahan yang nilai tambahnya cukup rendah. pic.twitter.com/rS53J3f2cF

30/07/2020 18:30:10 WIB
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Seiring populasi meningkat, sektor energi diestimasi akan berkontribusi setengah total emisi 2030 (BAPPENAS, 2015). Potensi energi terbarukan kita besar, tapi pertumbuhan di era ini melambat, mungkin karena persepsi pembangkit batu bara yang 'murah' tanpa lihat biaya sosial. pic.twitter.com/i6KBVFi7E4

30/07/2020 18:41:07 WIB
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Indonesia sudah berkomitmen reduksi emisi 29% per 2030 (41% dengan bantuan internasional) di bawah Paris Agreement, melalui kebijakan seperti proteksi hutan, meningkatkan bauran energi terbarukan, dan restorasi. Implementasinya gimana? (Jawabannya “It’s complicated,” hehe.) pic.twitter.com/DCCy3Yt2tP

30/07/2020 18:49:45 WIB
Expand pic
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Di awal saya bilang lima, tapi ada satu kalimat yang bukan kesalahpahaman dan memang perlu dipikirin bersama-sama: "Solusinya apa?" pic.twitter.com/c4LCDOdOKX

30/07/2020 18:52:40 WIB
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

[#1] Carbon pricing" yang menginternalisasi biaya sosial emisi karbon yang tadinya ditanggung publik ke pasar, sehingga menjadi insentif untuk adopsi teknologi rendah karbon. Secara global, 61 inisiatif sudah diluncurkan, baik dengan pajak maupun ‘sistem dagang emisi’. pic.twitter.com/MACMh3hIgR

30/07/2020 19:34:57 WIB
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Andhyta F. Utami @Afutami

Saat ini Indonesia sedang membuat R-PERPRES-nya disebut sebagai NEK (Nilai Ekonomi Karbon). Apa bedanya instrumen pajak atau ETS? Baca: wri.org/blog/2016/03/c…

30/07/2020 19:37:09 WIB
Andhyta F. Utami @Afutami

Canggihnya, pendapatan negara yang dikumpulkan melalui skema pajak karbon bisa didistribusikan ulang untuk membantu proses transisi atau stimulus ekonomi lain (tax cuts, cash transfer) sehingga secara keseluruhan dampak terhadap ekonomi dapat diminimalisir dan tetap efisien.

30/07/2020 19:39:37 WIB
Andhyta F. Utami @Afutami

[#2] Skema insentif lain yang menghasilkan nilai tambah ekonomi dari kegiatan konservasi, restorasi, maupun komoditas berkelanjutan. Misal: payment for ecosystem services, ecological fiscal transfer, sertifikasi, result-based payments, atau (un)conditional cash transfer.

30/07/2020 19:43:44 WIB
Load Remaining (7)

Comment

No comments yet. Write yours!