Chirpstory will close the service later this year. At the end of September, you will not be able to post stories or comments.

Ujung-Ujungnya Demi Uang, Analisa Isu LGBT yang Ternyata Merupakan Strategi Marketing Bagi Sebuah Perusahaan

Thread by @WidasSatyo
1
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

[THREAD] RAINBOW CAPITALISM - Analyzing The LGBT-Friendly Marketing Strategy Menarik untuk diulas gimana isu LGBT memberikan pengaruh dalam strategi marketing sebuah perusahaan. Termasuk manuver yg dilakukan oleh Unilever kemarin. Yuk sama-sama dibahas aja ๐Ÿ˜ pic.twitter.com/QVzigARCvG

28/06/2020 19:22:14 WIB
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุฎู…ู† ุงู„ุฑ ุญูŠู…. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Seperti biasa, sebelum masuk inti bahasan, saya pengen sensus penduduk bentar. Menurut kalian nih, apa yg jadi alasan banyak perusahaan gede pake konsep marketing LGBT-Friendly??

28/06/2020 19:22:17 WIB
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Berawal dari postingan yg melintas di timeline. Liat orang2 pada ngamuk sama keputusan Unilever bikin aku jd pengen bahas ini dari kacamata lebih besar. Pertama, kita harus pahami kalo Unilever adalah perusahaan skala global. Bukan institusi keagamaan. Jadi pahami ini dulu aja. pic.twitter.com/h3b2fajKBQ

28/06/2020 19:22:22 WIB
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Sbg gambaran aja nih, customer produk Unilever dalam skala global diklaim sebanyak 2,5 milliar orang. Kalo populasi dunia aja 7,8 milliar orang, berarti market share unilever mencapai 32% penduduk dunia. Bahkan 84% dari brand mereka merupakan market leader di segmentasinya. pic.twitter.com/fZZDiDJiUt

28/06/2020 19:22:26 WIB
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Data ini kuambil dari laporan dari annual reports mereka. Di tahun 2019, scara global Unilever meraih net sales sejumlah โ‚ฌ52 milliar euros. Kalo di rupiahkan, berarti itu setara kurang lebih Rp. 837 Trilliun rupiah. Net sales terbesar kontribusi dari beauty & personal care. pic.twitter.com/KYlm32sGAq

28/06/2020 19:22:30 WIB
Expand pic
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Sedangkan di market Indonesia nih, net sales mereka mencapai Rp.42 Trilliun rupiah. Kalo dibandingkan dengan market global yg mencapai Rp. 837 Trilliun tadi, artinya kontribusi net sales market Indonesia cuman 5,01% aja. Kalopun diboikot massal disini yaaa kyk dicubit aja :))) pic.twitter.com/qWpA2tTaO0

28/06/2020 19:22:31 WIB
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Itu td sekelumit ilustrasi case nya Unilever yak. Skrg kita geser pada perspektif bahasan yg lebih luas. Kenapa banyak brand besar yg menggunakan konsep LGBT-Friendly? Siapa pelopornya? Dan seberapa efektif strategi ini dalam generate sales dan membuat brand image jadi positif? pic.twitter.com/r0TNY1nDya

28/06/2020 19:22:33 WIB
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Siapa brand besar yg pertama kali mengenalkan konsep LGBT-friendly? Facebook? Google? Coca Cola? Bukan. IKEA yg pertama kali pakai konsep ini pada tahun 1994. 26 tahun yg lalu. Reaksi publik Amerika saat itu? Mulai ancaman boikot seluruh gerai toko sampai bomb threats. :))) pic.twitter.com/bo7rxHfR8W

28/06/2020 19:23:02 WIB
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Berdasar ulasan @YouGov nih, 71% individu gay dan lesbian, 53% biseksual, 52% kelompok liberal, 32% generasi millennials, dan 34% orang dengan income besar, akan cenderung lebih suka berbisnis dengan perusahaan yg LGBT-Friendly. Jadi marketnya bukan dr kalangan LGBT aja. pic.twitter.com/KQOB5EKAr2

28/06/2020 19:23:05 WIB
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Kelompok LGBT, liberals, dan high earner money di Amerika punya kecenderungan untuk beli produk yg advert-nya menyertakan model same sex couple. Dari sini bisa dipahami banyak brand berlomba mendeklarasikan kalo mereka pro LGBT dan bikin advert yg lebih inklusif dan diverse. pic.twitter.com/tKtDnb0vTL

28/06/2020 19:23:11 WIB
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Riset @YouGov diatas senada dengan yg ditulis oleh @PRNewswire. 47% LGBT adults akan cenderung mempertimbangkan beli produk atau jasa suatu perusahaan, kalo mereka lihat advertising mereka melibatkan same sex couple. pic.twitter.com/owqzaPvCT6

28/06/2020 19:23:14 WIB
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Gillian (2013) dan Kaur (2016) sama2 menjelaskan kalo buying power kelompok LGBT itu cukup gede. Hal ini yg mendorong perusahaan menginvestasikan banyak uang untuk bikin advert dengan target customer kelompok LGBT. Mereka udah dianggap sbg potensi demografi market baru. pic.twitter.com/S8TJQGeyf1

28/06/2020 19:23:19 WIB
Expand pic
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Kenapa perusahaan rela keluar duit banyak untuk bisa masuk market kelompok LGBT? @PRNewswire berpandangan kalo itu menyangkut brand loyalty. Sebanyak 71% kelompok LBGT cenderung akan memilih loyal pada perusahaan yg dia anggap vibes-nya "bersahabat" dengan kelompok LGBT lainnya. pic.twitter.com/fnifnYl4nd

28/06/2020 19:23:23 WIB
Expand pic
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Riset dari @FortuneMagazine menunjukkan kecenderungan yg sama. Bahwa brand atau bisnis yg punya image LGBT-Friendly cenderung lebih dipilih customer. Mereka jg berpendapat diversity marketing yg merangkul kelompok LGBT dianggap baik dampaknya buat ekonomi. pic.twitter.com/DKqngJGNSV

28/06/2020 19:23:24 WIB
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Namun ndak sedikit juga yg berpendapat bahwa korporasi atau brand2 besar itu pansos doang di Pride Movement untuk sebatas marketing purposes. Setidaknya ada 53% customer yg berpendapat demikian menurut @Econsultancy. Mereka menyebut fenomena ini dgn istilah RAINBOW CAPITALISM. pic.twitter.com/v2BBqMrBKC

28/06/2020 19:23:27 WIB
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Riset senada juga pernah disajikan oleh @YouGov yang berpendapat bahwa tema LGBT-Friendly gak lebih dari sebatas taktik marketing dibandingkan refleksi value yg beneran diyakini sm perusahaan. Bisa jadi pencitraannya pro LGBT, tp workplace mereka belum ramah dgn kelompok LGBT. pic.twitter.com/ZFF3iVF6yH

28/06/2020 19:23:29 WIB
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Dua survey diatas cukup beralasan mengingat ternyata belum semua wilayah negara bagian Amerika menerapkan legal protection buat pekerja dari kalangan LGBT. Kabar baiknya, Supreme Court di Amerika pada 15 Juni 2020 menyatakan pekerja gak boleh dipecat hanya karna mereka LGBT. pic.twitter.com/FW9Bg7bave

28/06/2020 19:23:32 WIB
Expand pic
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Sebelum aturan ttg The Civil Rights Act of 1964 ditegaskan oleh Supreme Court, riset @CatalystInc menyebutkan pekerja dari kalangan LGBT sering mengalami harrasment di lingkungan kerja mereka. Mulai dari saat melamar kerja, beda nominal upah, hingga offensive jokes. pic.twitter.com/BF4LPkItNE

28/06/2020 19:23:36 WIB
Expand pic
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

@CatalystInc menjelaskan lebih lanjut kalo kultur kerja yg lebih inklusif berpengaruh pada turn over karyawan LGBT disana. Sebanyak 25% pekerja LBGT memilih bertahan di pekerjaaannya sekarang karena kultur kerja yg ramah dan inklusif pada kelompok LGBT. pic.twitter.com/WZ0NyrWttc

28/06/2020 19:23:39 WIB
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Kritik tentang rainbow capitalism dijelaskan dengan sangat baik dalam tautan artikel yg saya lampirkan. Penulis di artikel @voxdotcom ini menanyakan apa brand yg ikut pansos dlm Pride Month ini beneran support kelompok LGBT? Atau cuman sebatas branding? google.com/amp/s/www.vox.โ€ฆ

28/06/2020 19:23:40 WIB
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Kritik dalam tulisan itu relevan dengan casenya Unilever kemarin. Unilever global fully support soal equal rights LGBT, namun pihak dari Unilever Indonesia memilih defensif dan bersikap hati-hati. Jadi semua emang kembali tergantung pada karakteristik target market itu lagi. pic.twitter.com/UuXPbdAAez

28/06/2020 19:23:45 WIB
Expand pic
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

CONCLUSIONS : Saya pribadi berpendapat bahwa ketika sebuah brand menyatakan mereka LGBT-Friendly, maka harus ada bukti implementasi konkret dari sikap mereka. MINIMAL yg bisa dilakukan menurutku adalah menciptakan kultur kerja yg diverse dan ramah pada kelompok LGBT.

28/06/2020 19:23:46 WIB
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Buatku ironis aja kalo ada brand deklarasi mereka support gerakan LGBT, tapi pabrik produksi atau kantor mereka masih melakukan diskriminasi dan harrasment pada pekerja LGBT. Alias mereka cuman memanfaatkan momen Pride Month buat brand image dan boosting sales aja.

28/06/2020 19:23:46 WIB
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Jadi tidak sepenuhnya salah kalo ada yg beranggapan bentuk support korporasi hanya bagian dari gimmick marketing untuk cuan juga ujung2nya ๐Ÿ˜๐Ÿ˜† Yaaa namanya juga perusahaan. Mereka disetting buat cari untung. Bukan untuk menegakkan keadilan dan hak asasi manusia.

28/06/2020 19:23:47 WIB
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo

Sekian yg bisa saya sampaikan ttg bahasan rainbow capitalism. Karna pada dasarnya, kita semua ini cuman target market kok. ๐Ÿ™ƒ Makasih udah mampir ya. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya. [THREAD - END]

28/06/2020 19:23:48 WIB
Load Remaining (4)

Comment

No comments yet. Write yours!