Mengulas Kisah Ibu Siti Fadilah Supari, Mantan MenKes Era SBY yang Pernah Melawan WHO Saat Virus Flu Burung Melanda Indonesia 2005

Thread by @cigaftercat
siti fadilah supari General knowledge viralnow Famous People
3
sat @cigsaftercat
Mengulas Kisah Ibu Siti Fadilah Supari, Mantan Menteri Kesehatan Era Susilo Bambang Yudhoyono yang Pernah Melawan WHO Saat Virus Flu Burung Melanda Indonesia Tahun 2005 - Sebuah Utas - pic.twitter.com/dmN9S8KXMV
Expand pic
sat @cigsaftercat
konten om deddy @corbuzier belakangan ini berhasil buat aku liat Indonesia dari sudut pandang yg berbeda. baru aja kemaren om deddy upload video wawancaranya sama Ibu Fadilah, jd makin banyak masyarakat yg penasaran ttg siapa sih beliau ini? kisahnya gimana kok banyak bgt
sat @cigsaftercat
yang bicarain belakangan ini? nah, disini aku mau ceritain ttg kisah beliau, kebetulan topiknya pas bgt sama kondisi pandemi covid-19 skg. (sumber bakal aku cantumin di sepanjang thread ini yaa)
sat @cigsaftercat
Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 6 November 1949. Beliau adalah seorang dosen  dan ahli jantung yang menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden dari 25 Januari 2010 hingga 20 Oktober 2014. Sebelumnya
sat @cigsaftercat
beliau menjabat sebagai Menteri Kesehatan Indonesia Pada Era Susilo Bambang Yudhoyono. Sebelum menjadi Menteri Kesehatan, Beliau bekerja sebagai staf pengajar kardiologi Universitas Indonesia. Setelah itu, selama 25 tahun, Beliau menjadi ahli jantung di Rumah Sakit Jantung
sat @cigsaftercat
Harapan Kita. Beliau menyelesaikan sekolah atasnya di SMAN 1 Surakarta dan menerima gelar sarjana dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1972. Pada 1987, beliau menerima gelar master (S-2) untuk penyakit jantung dan pembuluh darah dari Universitas Indonesia pada 1987. Pada 1996,
sat @cigsaftercat
beliau menerima gelar doktor (S-3) dari Universitas Indonesia. Pada 1993, beliau mengambil kursus Kardiologi Molekuler di Heart House Washington dan kursus Epidemiologi di Universitas Indonesia (1997). Pada 1998, beliau mengambil kursus Preventive Cardiology di Goteborg (Swedia)
sat @cigsaftercat
dan peneliti di Bowman Grey Comparative Medicine (Universitas Wake Forest, Amerika Serikat). Riwayat karir dan pendidikan beliau bisa dibilang sangat cemerlang. Lalu, bagaimana asal muasal masalah ini terjadi?
sat @cigsaftercat
Kisah dimulai ketika tahun 2005, virus flu burung masuk ke Indonesia (penularan virus dari unggas ke manusia, jadi yang jatuh sakit adalah manusia). Untuk mendeteksi virus, atas perintah WHO, sampel spesimen harus dikirim ke Hongkong, hasilnya baru dapat 5 hingga 6 hari kemudian
sat @cigsaftercat
(Jelas ini memperlambat upaya penanganan. Padahal, ternyata hasil pemeriksaan lab di Indonesia sama saja dengan hasil lab di Hongkong). Secara bersamaan, berdatanganlah para penjual alat pendiagnosa cepat (rapid diagnostic test) ke Dr Siti. Pembuatan alat itu didasarkan pada
sat @cigsaftercat
virus strain Vietnam. Jadi, virus dari korban flu burung di Vietnam dikirim ke WHO, lalu dibuat seed (benih) virusnya dan seed virus ini yang dibuat jadi alat tes. Tapi yang membuat alat tes bukanlah WHO melainkan perusahaan di negara-negara maju.
sat @cigsaftercat
Lalu, WHO merekomendasikan obat bernama Tamiflu. Parahnya, ketika Indonesia mau beli, obat itu habis di pasar, karena sudah diborong negara-negara kaya (padahal mereka tidak kena flu burung). Kemudian, tiba-tiba saja, tanpa penelitian virologi, staf WHO mengumumkan ke CNN bahwa
sat @cigsaftercat
di Indonesia sudah terjadi penularan dari manusia ke manusia. Jelas pengumuman sepihak dari WHO ini berbahaya buat Indonesia. Indonesia bisa diisolasi dan ekonomi akan ambruk. Dr. Siti langsung meminta ilmuwan Indonesia untuk meneliti virus itu, apa benar sudah ada perubahan
sat @cigsaftercat
(sehingga bisa menular dari manusia ke manusia). Sambil menunggu hasil lab, yang dilakukan Dr. Siti tidak main-main. Mengusir staf WHO dari Indonesia dan meminta CNN mencabut berita tersebut.
sat @cigsaftercat
Lalu, beliau menggelar konperensi pers. Menyampaikan argumen-argumen logis, misalnya, kalau benar sudah ada penularan dari manusia ke manusia, tentu yang pertama tertular adalah perawat dan jumlah orang yang tertular sangat banyak. Dan kemudian terbukti dari hasil lab, bahwa
sat @cigsaftercat
virus flu burung H5N1 tidak menular dari manusia ke manusia. Peristiwa ini membuat Dr. Siti semakin penasaran, mengapa tatanan dunia soal virus harus seperti ini? Ia lalu mendapati ada 2 jalur perjalanan virus.
sat @cigsaftercat
Pertama, virus dari negara yang terkena wabah diserahkan ke WHO melalui mekanisme GISN (Global Influenza Surveillance Network), lalu entah dengan mekanisme apa, jatuh ke Los Alamos. Ini adalah lab yang dulu bikin bom atom Hiroshima. Kedua, dari WHO, virus diproses menjadi seed,
sat @cigsaftercat
lalu diserahkan ke perusahaan vaksin. Dr Siti menulis : “Kapan akan dibuat vaksin dan kapan akan dibuat senjata kimia, barangkali tergantung dari keperluan dan kepentingan mereka saja. Benar-benar membahayakan nasib manusia sedunia. Beginilah kalau sistem tidak transparan dan
sat @cigsaftercat
tidak adil.” (hlm 17). Yang dilakukan oleh Dr Siti berikutnya adalah menolak menyerahkan virus flu burung Indonesia ke WHO, tapi diserahkan langsung ke perusahaan vaksin yang siap membuat vaksin dari virus itu. Logikanya, virus yang tersebar di Indonesia tentu “jenis” (strain)
sat @cigsaftercat
Indonesia, jadi vaksin yang lebih cocok adalah vaksin yang dibuat dari strain Indonesia, bukan vaksin dari virus Vietnam. Menurut Dr Siti, perusahaan asing memang punya teknologi dan uang, tapi mereka tidak bisa bikin vaksin kalau seed virusnya tidak ada. Jadi, posisi Indonesia
sat @cigsaftercat
sebenarnya sejajar dengan mereka, tidak perlu minder, apalagi menyerahkan virus secara gratis, lalu membeli dengan harga yang ditetapkan semaunya oleh perusahaan. Tahun 2007, ditandatanganilah MoU antara Depkes RI dengan Baxter, perusahaan vaksin. Lalu, bagaimana dengan WHO?
sat @cigsaftercat
Tentu saja “panas”. Diutuslah wakilnya bernama David Heymann. Dia menjanjikan bantuan. Lab Indonesia akan diperbagus dan Indonesia akan dikasih jatah vaksin berapapun yang diminta. Syaratnya, Indonesia tidak bikin vaksin flu burung sendiri dan semua virus dikirim tanpa syarat
sat @cigsaftercat
ke WHO. Alasan yang dikemukakan Heymann, dengan bahasa zaman now : "Bikin lab virus itu mahal lho, kalian nggak akan sanggup, berat, biar kami saja." Tentu saja Dr. Siti menolak. Apalagi sebelumnya, Menkes AS sudah berjanji mau kasih bantuan 3 juta juta dolar AS.
sat @cigsaftercat
Ternyata, harus disindir dulu oleh Dr Siti lewat media massa, baru dikirim uangnya, itupun diserahkan ke NAMRU, lab militer AS (tapi gedungnya ada di Indonesia). NAMRU sudah ditutup tahun 2009, atas perintah Dr. Siti, tapi konon kini berlanjut dengan nama baru.
sat @cigsaftercat
Singkat cerita, perjuangan berlanjut ke sidang World Health Assembly di Jenewa. Yang disuarakan Indonesia: mekanisme pengiriman virus ke WHO harus disertai transparansi (negara asal diberi tahu, virusnya dipakai untuk apa?) dan perjanjian pembagian keuntungan.
Load Remaining (39)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.