"[G-Story] Pengalaman Seram Pak Paiman Seorang Supir Bus AKAP Lintas Sumatera" by @BriiStory

Chirpified By @M4ngU5il BACA ~~> https://chirpstory.com/li/378814 Disclaimer: Read More
awesomes horror storytelling
5
Brii @BriiStory
Hai 🙂 Kali ini gw akan cerita pengalaman dari seorang supir bis jalan lintas Sumatera, Pak Paiman namanya, salah satu teman dekat Bapak gw. Banyak pengalaman aneh dan menyeramkan yang pernah dia rasakan dalam menjalani profesinya itu, salah satunya akan gw ceritakan sekarang. pic.twitter.com/nMOgWi1uT6
Expand pic
Brii @BriiStory
Rangkaian peristiwanya, terjadi pada pertengahan tahun 1990-an. Yuk simak.. Oh iya, sekadar mengingatkan, jangan pernah baca sendirian karena terkadang mereka gak hanya sekadar hadir dalam cerita.
Brii @BriiStory
Bis ini aku pacu dengan kecepatan sedang, menembus pekat gelapnya sisi kota. Aku melihat spion dalam, hanya tinggal beberapa penumpang saja yang tersisa. Sementara Yanto masih dalam posisi yang sama dari beberapa saat lalu, berdiri diam di samping pintu keluar bagian depan.
Brii @BriiStory
Lampu di dalam bis kami biarkan dalam keadaan mati, memang biasanya seperti ini, keadaan menjadi gelap, hanya kilatan cahaya dari luar yang membantu penerangan.
Brii @BriiStory
Jalur lintas Sumatera ini menjadi jalur yang sudah kami arungi selama nyaris lima tahun terakhir, tapi walaupun begitu aku tetap saja merasakan sedikit was-was setiap kali melintasi banyak bagiannya.
Brii @BriiStory
Memang, beberapa kota besar maupun kecil kami lewati dalam perjalanan, namun hutan lebat belantara manjadi porsi pemandangan lebih banyak, dengan kondisi jalan berkelok menanjak dan menurun membelah lembah perbukitan. ***
Brii @BriiStory
Tombol klakson aku tekan sebanyak tiga kali, ketika beberapa belas meter di depan terlihat jembatan yang berdiri kokoh di atas sungai yang besar. ~Kenapa harus begitu? Kenapa harus menekan klakson ketika akan melintasi jembatan?
Brii @BriiStory
Sebagai supir bis malam, itu sudah jadi suatu hal yang harus kami lakukan, artinya kami mengucap “permisi”. Permisi kepada siapa?, Konon katanya setiap jembatan ada “penunggu”-nya, kita sebagai tamu harus bersopan santun dengan si penunggu jembatan.
Brii @BriiStory
Aku sih percaya percaya saja, intinya aku gak mau kalau nantinya akan terjadi apa-apa kalau sampai gak membunyikan klakson.
Brii @BriiStory
Tapi, akhirnya lama-kalamaan menekan tombol klakson menjadi suatu kebiasaan, karena beberapa kali aku dan Yanto melihat dan mengalami kejadian ketika sedang melintasi salah satu jembatan besar di perjalanan. ***
Brii @BriiStory
=Suatu malam di pertengahan tahun 1996= “Ngantuk kamu, To?” Tanyaku kepada Yanto yang berdiri di samping pintu depan. “Gak Bang, hehe, tadi kan sudah minum kopi. Abang ngantuk gak? Mau gantian Bang?” Jawabnya diakhiri dengan pertanyaan.
Brii @BriiStory
“Aman, To. Bisa lihat monas ini mata, hahaha.” Jawabku sambil terbahak. Beberapa menit lagi jam dua belas tengah malam, beberapa jam yang lalu kami baru saja meninggalkan kota Jambi, menuju kota Medan seperti biasanya.
Brii @BriiStory
Seperti biasanya juga, di Jambi tadi kami beristirahat cukup lama, aku memarkirkan bis di restoran yang sudah jadi langganan, memberikan kesempatan bagi penumpang untuk sekadar meluruskan badan, beristirahat dan makan malam tentunya.
Brii @BriiStory
Ini juga jadi kesempatan buat aku dan Yanto untuk beristirahat, melepas penat yang ada hasil dari perjalanan panjang sebelumnya. ***
Brii @BriiStory
Singkatnya, sekitar jam sembilan kami melanjutkan perjalanan. Kali ini penumpang tergolong sedikit, kursi hanya terisi kira-kira setengah dari seluruh kursi yang ada. Tapi walaupun begitu, kami harus tetap berangkat mengantar penumpang sampai ke kota Medan. ***
Brii @BriiStory
Sesekali aku melirik kaca spion dalam, melihat keadaan penumpang. kelihatan kalau ada yang tertidur ada yang masih kelihatan terjaga, ada yang duduk sendiran ada pula yang duduk berdua.
Brii @BriiStory
Tentu saja ada banyak bangku kosong. Yang aku tahu pasti, barisan kursi paling belakang benar-benar dalam keadaan kosong, gak ada orang sama sekali. Itu pengamatanku ketika kami lepas dari Jambi.
Brii @BriiStory
“Keseruan” dimulai ketika bis memasuki kawasan hutan belantara, hutan yang sangat gelap karena gak ada lampu sama sekali. Kanan kiri hanya ada pepohonan besar yang berdiri membentang sepanjang sisi jalan.
Brii @BriiStory
Memang, ada beberapa bangunan kecil kami lewati, ada yang berlampu ada nggak, ada yang kelihatan berpenghuni ada yang gelap gulita, kosong. Jarak satu bangunan dengan bangunan lainnya sangat jauh, bisa sekitar 500 meter atau bahkan lebih.
Brii @BriiStory
Sinar lampu dari kendaraan yang sesekali muncul dari arah berlawanan, berkelebat menerangi jalan dan bis yang ku kendarai ini. Cahaya lampu yang sangat menyilaukan, karena nyaris semua kendaraan menggunakan lampu jauh untuk membantu penglihatan.
Brii @BriiStory
Biasanya, kalau sedang melintasi wilayah hutan seperti ini, kami yang sebelumnya merasa lelah dan mengantuk akan segar seketika, ketegangan akan suasana sepi dan sedikit mencekam mendorong adrenalin ke titik atas. Membuat mata dan pikiran jadi terjaga penuh.
Brii @BriiStory
Belum lagi jalan yang berbelok ke kanan dan ke kiri, menanjak dan menurun membelah hutan dan perbukitan, membuatku terpaksa harus berkonsentrasi penuh memegang kendali kendaraan.
Brii @BriiStory
Walaupun injakan pedal gas gak terlalu dalam, yang menjadikan laju mobil juga tidak terlalu cepat, tetap saja aku harus fokus menatap gelaran jalan beraspal yang sesekali berlubang.
Load Remaining (226)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.