Sepenggal Kisah Dokter Cipto Mangunkusumo Membasmi Wabah Pes di Jawa, Turun Tangan Tanpa Masker dan Adopsi Anak Yatim Piatu yang Diberi Nama "Pestiati"

Atas jasanya dalam membasmi wabah Pes, pada tahun 1912, dr. Cipto Mangunkusumo mendapat penghargaan dari Ratu Wilhelmina.
0
Gunartoo @bergunarta

Naming a baby after some big events (even the catastrophic ones) is an old Javanese tradition. When dr Cipto Mangunkusumo was in charge of severe plague (pes) in Dutch East Indies, he named her adopted daughter "Pestiati", taken from "Pes" and I would suppose "tiati" (cautious). twitter.com/oinkbundell/st…

23/03/2020 21:45:11 WIB
Dr. priyono nyoto gaul keren, S.H., S.Pd., M.M. @LAKNATULLOVE

@bergunarta That would also mean that "Wartiati" means caution... about... the War?

24/03/2020 13:42:14 WIB
Kya @Riskyanaad

@bergunarta @belindch sama kayak momen taun 98 banyak anak dinamain krismon = krisis moneter 🙃

24/03/2020 10:11:14 WIB
MΛGIK @TyrellMartell

@bergunarta @kmtolol Temen aku lahir tahun 98 juga namanya Kris, kayaknya dari Krisis Moneter.

24/03/2020 12:23:04 WIB
Mirip @mflazuardiii

@bergunarta @Soviet_Foxtrot Setuju. Setelah reformasi juga banyak yang namanya bertema reformasi. - Reformatika - Genta Reformasi - Gempur Soeharto

24/03/2020 15:21:04 WIB
fuad jamil @fuadjamil

@ofathurahman Awal abad 20 negeri ini pernah diserang wabah pes (black death). Pada momen ini dr. Cipto Mangunkusumo menjadi terkenal baik karena kepahlawannya melawan wabah maupun protesnya terhadap Rezim Kolonial.

23/03/2020 14:12:59 WIB
Ditjen Kebudayaan @budayasaya

#Tahukahkamu kalau hari ini adalah hari lahir dr. Cipto Mangunkusumo. Berkat jasanya memberantas wabah Pes yang melanda Malang pada 1911, membawanya dianugerahi jasa dari Ratu Wilhemina pada 1912. Jadi, apalagi fakta tentang dr. Cipto Mangunkusumo yang kalian ketahui? pic.twitter.com/9Eb4oaYYRd

04/03/2020 20:42:29 WIB
Wagiso @Wagiso17397743

@budayasaya @Kemdikbud_RI bersama Goenawan, Soetomo, dan para mahasiswa STOVIA, Tjipto merealisasikan gagasan dr. Wahidin Soedirohoesodo yaitu mendirikan organisasi bersifat modern yg pertama di Indonesia, 20 Mei 1908, dan menamainya BOEDI OETOMO

04/03/2020 23:36:22 WIB
Sayidah Rohmah @SayidahRohmah

@budayasaya Tahun berikutnya wabah yang sama terjadi di Solo. Dr. Cipto kembali berniat menjadi relawan di sana. Tapi niat baiknya ditolak pemerintah Belanda.

05/03/2020 20:08:43 WIB
PSIKOLOGI 2010 @kecap2010

atau Dr. Cipto. Dokter cerdas yg pernah terjun langsung menangani wabah pes di malang. dan ia berhasil, beliau menolak di beri penghargaan.

10/11/2013 06:13:29 WIB
Sayidah Rohmah @SayidahRohmah

@fajriedetmen @budayasaya Karena dr. Cipto menilai pemerintah Belanda tidak adil memperlakukan warga yang menderita pes. Perlakuan terhadap pribumi dan orang belanda berbeda. Cmiiw.

05/03/2020 20:05:13 WIB
goenawan mohamad @gm_gm

20 Mei: dr. Cipto pembangkang yg luar biasa. Ia dpt bintang dr Ratu Bld krn jasanya melawan wabah. Bintang itu dipasangnya di pantat.

20/05/2010 08:56:36 WIB
hërris @herristiawan

@budayasaya @BisKota_ Beliau dimakamkan tidak di makam pahlawan, di pemakaman umum di Ambarawa

09/03/2020 14:40:17 WIB

Dr. Tjipto Mangunkusumo (Cipto Mangunkusumo) adalah salah satu pahlawan nasional Republik Indonesia. Lahir di Jawa Tengah pada 4 Maret 1886, dia adalah anak sulung dari Mangunkusumo, seorang priyayi golongan rendah dalam struktur masyarakat Jawa.

Berkat didikan orang tuanya, Cipto Mangunkusumo tumbuh menjadi pemuda yang berani, penuh talenta, dan berani mengambil resiko dalam melawan penjajah. Saat diberi kesempatan untuk menjadi pegawai pemerintah pribumi yang membantu tugas-tugas pemerintahan kolonial, ia justru menolak. Padahal waktu itu jabatan itu menjadi kebanggaan setiap keluarga di Jawa.

Justru ia meminta restu dari ayahnya untuk melanjutkan pendidikan di sekolah dokter STOVIA dengan harapan bisa lebih dekat untuk membantu masyarakat lemah yang tertindas karena pemerintah kolonial.

Dari pendidikan inilah ia kemudian mempunyai bekal sebagai seorang dokter, yang kemudian ia kerahkan untuk membasmi wabah Pes di Jawa waktu itu. Berikut adalah kisah Cipto Mangunkusumo dalam melawan wabah Pes yang menyerang Pulau Jawa pada 1910.

Dibenci Belanda

Cipto Mangunkusumo merupakan siswa yang aktif semasa menjalani studi di STOVIA. Walaupun berada di sekolah yang memiliki peraturan yang diskriminatif terhadap pribumi, di sekolah itu justru ia menemukan kebebasan untuk berpikir dan mengemukakan semua pemikirannya itu.

Setelah lulus dari STOVIA di tahun 1905, Cipto menjalani masa dinas pemerintah. Dilansir dari Kemendikbud.go.id, saat itu dia dibenci Belanda karena sering menyindir pemerintah Belanda baik dalam sikap maupun tulisan-tulisannnya untuk koran de Locomotief yang terbit di Semarang.

Membuka Praktik Dokter

Lepas dari ikatan dinas, Cipto Mangunkusumo kemudian membuka praktik dokter di Solo. Praktik itu bernama "Dokter Rakyat". Kemendibud dalam laman resminya menyebut, selama berprofesi sebagai dokter, Cipto Mangunkusumo masuk ke kampung-kampung naik sepeda untuk mengobati rakyat kecil dan tidak meminta bayaran.

Membasmi Wabah Pes Di Malang

Pada tahun 1910, wabah Pes merebak di Malang. Penyakit yang disebabkan karena kutu tikus itu sangat mudah menyebar dan sulit ditangani karena sarana kesehatan dan alat-alat dokter yang tidak memadai. Ditambah itu banyak dokter Belanda yang tidak mau pergi ke Malang untuk menyembuhkan para penderita Pes.

Mengetahui ini, Cipto yang geram kemudian memberanikan diri menjadi dokter dinas pemerintah agar bisa ditempatkan di Malang. Sesampainya di Malang, ia kemudian membantu menyembuhkan para penderita Pes.

Tanpa memakai masker ataupun penutup hidung dan mulut, Cipto dengan berani masuk ke pelosok Malang untuk memulihkan kondisi para penderita Pes di sana

Mengangkat Anak yang Disembuhkan dari Pes

Saat mengobati wabah Pes di Malang, Cipto berhasil menyelamatkan seorang anak perempuan yang hampir terbunuh. Saat itu Cipto mendengar tangisan anak dari sebuah rumah seorang penderita Pes. Rumah itu sudah setengah terbakar.

Dengan sigap dia menggendong anak perempuan yang menderita Pes itu. Ia pun kemudian mengobati anak itu sampai sembuh. Anak perempuan yang diselamatkannya itu sudah yatim piatu karena kedua orang tuanya meninggal akibat Pes.

Cipto kemudian mengangkatnya sebagai anak dan diberi nama Pestiati. Pestiati-lah yang setia merawat Cipto hingga akhir hayatnya.

Dapat Penghargaan Dari Ratu Wilhelmina

Atas jasanya dalam membasmi wabah Pes, pada tahun 1912, dr. Cipto Mangunkusumo mendapat penghargaan dari Ratu Wilhelmina. Dilansir dari Kemendikbud.go.id, penghargaan itu berupa suatu bintang jasa Ridder In De Orde Van Oranje Nassau. Namun tidak sampai satu tahun Cipto mengembalikan bintang jasa itu. Alasannya dia tidak diizinkan untuk menangani wabah Pes di Solo.

Soal bintang jasa itu, Cipto punya kisah unik dalam mengekspresikan kekesalannya pada pemerintah kolonial. Dia menempelkan bintang jasa itu di kantung belakang celananya, sehingga, bila ada serdadu yang harus hormat pada penghargaan itu, dia harus hormat pada pantat Cipto Mangunkusumo.

URL merdeka.com Kisah Cipto Mangunkusumo Basmi Wabah Pes di Jawa, Turun Tangan Tanpa Masker | merdeka.com Dr. Tjipto Mangunkusumo adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Pada tahun 1910, dia berjasa saat membasmi wabah Pes yang menyerang pulau Jawa. Berikut kisahnya. 24

Comment

No comments yet. Write yours!