Ancaman Perang Dagang ke Indonesia? Di Balik Indonesia Naik Level Jadi Negara Maju Menurut Amerika Serikat (Kantor Perwakilan Dagang AS/USTR)

Benarkah kita pantas mendapatkannya?
Indonesia negara maju USTR of preference THREAD Indonesia-Amerika PerangDagang Thread Asik Generalize system AS gsp
1
DetikFinance @detikfinance

Akun resmi situs informasi ekonomi bisnis & finansial terkini Contact: promosi@detik.com | redaksi@detikfinance.com

detikfinance.com
DetikFinance @detikfinance
#THREAD Naik level. Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang dan dinyatakan sebagai negara maju. Bagaimana faktanya? detik.id/6sbXnU pic.twitter.com/CaEMH7P5GV
Expand pic
DetikFinance @detikfinance
Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang dan dinyatakan sebagai negara maju dalam perdagangan internasional.
DetikFinance @detikfinance
Selain Indonesia, ada China, Brasil, India, dan Afrika Selatan yang 'naik level' jadi negara maju.
DetikFinance @detikfinance
Kadin Indonesia mengatakan hal ini bisa membuat Indonesia kehilangan fasilitas Generalize System of Preference (GSP) atau keringanan bea masuk impor barang ke Amerika Serikat (AS).
DetikFinance @detikfinance
Dia menjelaskan fasilitas GSP hanya diberikan untuk negara-negara kurang berkembang (LDCs) dan negara berkembang.
DetikFinance @detikfinance
Terlepas dari dicoretnya Indonesia dari negara berkembang, saat ini AS sedang mereview fasilitas GSP untuk Indonesia. Harapannya negara tersebut akan kembali memberikan keringanan bea masuk impor tersebut.
DetikFinance @detikfinance
GSP adalah sebuah sistem tarif preferensial yang membolehkan satu negara secara resmi memberikan pengecualian terhadap aturan umum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
DetikFinance @detikfinance
Dampaknya ke kinerja ekspor bagaimana?
DetikFinance @detikfinance
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani menilai keputusan AS itu ujung-ujungnya akan membuat ekspor dari Indonesia terganggu.
DetikFinance @detikfinance
Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani pun menjelaskan, ketika fasilitas GSP dicabut karena Indonesia dikategorikan negara maju maka ekspor ke AS akan mengalami gangguan.
DetikFinance @detikfinance
Sebenarnya tidak masalah jika AS mencoret RI dari daftar negara berkembang jika pengaruhnya hanya membuat Indonesia terkena Countervailing Duties (CVDs). Dengan kata lain fasilitas GSP tak dihapus.
DetikFinance @detikfinance
"Cuma saja akan aneh dan karena AS jadi nggak konsisten dan double standarddengan kebijakannya sendiri kalau status Indonesia sebagai 'negara maju' cuma berlaku di satu UU tapi nggak di UU yang lain yang sama-sama mengatur perdagangan,"
DetikFinance @detikfinance
Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) Bhima Yudhistira memperkirakan AS sedang memberi sinyal ancaman perang dagang kepada Indonesia. Pasalnya Negara Paman Sam itu mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang.
DetikFinance @detikfinance
Bhima menjelaskan, sebelumnya AS tidak pernah mengotak-atik fasilitas tersebut kepada Indonesia. Tentu saja sikap negara tersebut saat ini merupakan ancaman buat Indonesia.
DetikFinance @detikfinance
AS kelihatannya ingin membatasi ekspor dari Indonesia karena sejauh ini negara tersebut defisit perdagangan dengan Indonesia, termasuk dengan empat negara lainnya yang dicoret AS dari negara berkembang.
DetikFinance @detikfinance
Setidaknya selama ini, kata Bhima ada ribuan jenis barang dari Indonesia yang mendapatkan keringanan bea masuk ke AS.

Pantas atau tidak?

detikcom @detikcom
Kantor Perwakilan Dagang AS mencoret RI dari daftar negara berkembang dan dinyatakan sebagai negara maju dalam perdagangan internasional. Sudah pantas belum sih? via @detikfinance finance.detik.com/berita-ekonomi…

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto, Indonesia belum siap 'naik level' jadi negara maju. Itu bisa dilihat dalam dua hal. Pertama, kata Eko, 70% produk yang diekspor Indonesia masih berupa komoditas. Sementara yang non komoditas pun masih ketinggalan dalam penggunaan teknologinya.

"Secara umum sih sebetulnya kita memang belum pantas dikatakan sebagai negara yang perdagangannya sudah cukup maju, karena porsi dominannya di komoditas, pun yang sudah tidak komoditas masih menggunakan teknologi rendah dalam proses produksinya," kata dia kepada detikcom, Senin (24/2/2020).

"Kalau dianalisa secara industri, misalnya ada produk berteknologi rendah, sedang dan tinggi, kita juga sebagian besar masih produk berteknologi rendah yang kita jual gitu. Jadi dalam proses pengolahannya itu masih menggunakan industri berteknologi rendah," jelasnya.

"Dan kalau kita lihat di ukuran yang lain, misalnya dalam klasifikasi masyarakatnya sendiri juga kelas menengahnya masih banyak yang penghasilannya rendah. Kita kan mau keluar dari middle income (negara berpenghasilan menengah) ya, itu pun masih jauh," lanjutnya.

Namun dilihat dari produk domestik bruto (PDB) per kapita, Indonesia sudah cukup tinggi. Bisa saja hal itu membuat negara lain menilai Indonesia sudah maju di bidang perdagangan internasionalnya.

Konsekuensinya, AS akan mencabut fasilitas Generalize System Of Preference (GSP) atau keringanan bea masuk impor barang ke AS yang selama ini diberikan untuk negara berkembang.

"Tapi memang dalam beberapa hal karena melihat PDBnya cukup besar dan ini juga dibangga-banggakan pemerintah, peringkat 7 dunia. Akhirnya negara lain juga melihat bahwa 'oh iya kayaknya ini sudah tidak saatnya lagi memberikan bantuan ataupun keringanan dalam konteks perdagangan'," tambahnya.

STAY AT HOME! @foggen_
@detikcom @detikfinance Ketika pemerintah dikasih buah simalakama. Mau terima, itu jadi prestasi, namun privilege negara berkembang hilang. Mau tolak, kita tetap dapat privilege, namun akui negara jalan di tempat.
Load Remaining (5)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.