Rumah Kosong Bekas Praktek Bidan: "Terimakasih Tuhan Telah Memberikan Kesempatan Hidup Untuk Kedua Kalinya"

Thread by @TuyulBucinn
Memetwit awesomes viralnow
1
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
RUMAH KOSONG BEKAS PRAKTEK BIDAN : "Terima Kasih Tuhan Telah Memberikan Kesempatan Hidup Kedua Kalinya" ( Based on True Story ) . . ===== A Thread ===== pic.twitter.com/d6CzvNhlty
Expand pic
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
Sebelum dimulai, saya sebagai penulis mau meminta maaf apabila nama dan juga tempat saya rahasiakan sesui permintaan narasumber. Apa yang ada di foto ini hanyalah pemanis untuk menambah sensasi pembaca.
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
Kenalin nama aku Laras, ini ceritaku waktu masih berumur 12th. Anak desa di sebuah kabupaten kecil di Jawa Tengah. Aku anaknya terbilang tomboy, gak heran kalau saat itu teman mainku banyakan anak cowok.
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
Waktu itu aku dan ke 3 temanku, sebut saja bram (12th), bagus (12th) dan ari (13th). Kami berjalan-jalan di belakang rumah pak Ahmad. "Eh, lihat mangganya Pak Ahmad kayanya enak tuh." Ucapku memulai keisengan yang biasa kami lakukan.
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
"Ngawur, Pak Ahmad galak tau. Ntar kalau di pukul gimana?" Selalu bram si anak polos satu ini mencoba menjadi penghalang tindak kejahatan kami. "Udahlah, Pak Ahmadnya lagi berak tuh di empang. Liat tuh kann. Masih nongkrong" Dan selalu ada ari yang meyakinkan kita untuk terus-
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
-maju tak gentar. Tak lama ari pun memanjat pohon mangga yang gak terlalu tinggi itu. Satu demi satu mangga berjatuhan. "Woyy maling.. oalaa cah edan.. tak kandake bapakmu nko koe..!!" (woyy maling. Oalaa anak gila. Aku aduin ke Ayah kalian ntar). Ternyata Pak Ahmad melihat aksi-
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
-kami, teriak sambil lari dengan tangan satunya menggenggam gulungan sarung di perutnya. Larinya lucu, seperti kepiting. Mungkin karena belom cebok sih . xixixixi "Ari ari, turun cepetan.! Pak Ahmad dateng!" Bagus yg panik teriak sambil memungut jarahan yang bisa kami bawa pergi.
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
Seketika ari pun loncat dan kita lari lunggang langgang. Sudah mulai jauh sih, tapi langit yg gelap sedari tadi akhirnya menggugurkan hujan dari awannya. Karena bingung mau neduh dimana, akhirnya kami pun memutuskan neduh di teras belakang sebuah rumah kosong. Rumah yang-
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
-tergolong mewah pada saat itu. Namun entah mengapa dikosongkan begitu saja. "Eh, tau gak sih. Kata bapak aku rumah ini dulunya buat tempat bu bidan. Buat lahiran anak-anak di desa kita." Bagus memulai percakapan setelah sedari tadi kita sibuk menertawakan Pak Ahmad sembari-
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
-memakan buah mangga. "Lalu kenapa sekarang kosong?" Sifat ingin tahu aku pun terus menyeruak. "Gak tahu tepatnya sih, tapi kata bapak karena masyarakat sudah milih ke puskesmas yang fasilitas lebih lengkap dan lebih terjangkau biayanya" Bapaknya bagus ini kepala RT jadi banyak-
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
-info yang bisa didapat dari mulut embernya bagus. "Tapi, kata ibu aku rumah ini berhantu. Makanya dikosongkan." "Ish.. Ari, kamu jangan nakut nakutin. Ini hujan deres banget. Mana gelap lagi. Kan aku takut." "Alah Bram, kamu jadi cowok penakut banget sih" ya inilah aku, suka-
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
-ceplas ceplos kalau ngomong. "Ceklekkk..." Tiba tiba, pintu yang sedari tadi tertutup agak terbuka. Kami berempat spontan melihat ke arah sana. Aku melihat seperti ada sosok bayangan yang seakan memanggil kami untuk ke dalam. Tidak begitu jelas sih bayangan itu. Tapi cukup-
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
-membuatku penasaran tentang bayangan itu. "Tuh tuh tuh.. pergi yuk.. aku takut nih.." Bram mulai merengek seperti lagi minta Tamiya ke bapaknya. "Kalian gak penasaran rumahnya gimana?" Aku tanya sambil menatap mata mereka agar bisa meyakinkan untuk bisa masuk. Sejenak kita-
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
saling bertatapan, wajahku melukiskan pinta yang luar biasa kepada mereka. "Jangan gila deh, ayolahh pulang. Ujan-ujanan gak papa deh" Kali ini Bram merengek lebih keras. "Kalau kamu pulang sekarang, yang ada malah makin dimarahin bapak kamu. Udah nyuri, ujan ujanan lagi"
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
Spontan ari pun jengkel pada Bram. "Eh, yang nyuri kalian ya.! Aku kan cuma dikasih dikit." "Sama aja Bram..!!" Serentak kami menyangkal kekonyolan si gembul Bram. "Kalian mau ikutan masuk apa tunggu disini?" Sikap sok berani aku pun keluar. Jujur karena penasaran banget sih-
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
-sama sosok bayangan tadi. "Yaudah aku ikut" "Aku juga" bagus sama ari meng-iyakan permintaan aku. "Kamu mau nunggu disini sendirian Bram?" Tanya bagus. "Yauda deh aku juga ikut. Tapi janji jangan lama-lama loh ya. "Iya bawel"
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
Aku pun membuka pintu lebih lebar dan berjalan di paling depan. Begitu masuk, dihidung baunya agak aneh sih. Seperti bau busuk kayu yg terkena air dicampur bau bangkai gitu. Ya mungkin bangkai tikus atau apa gitu dipikiranku.
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
Rumahnya masih layak huni sih sebenernya. Cuma beberapa atap sudah bocor, kaca jendela banyak yang pecah dan juga lantai keramik yang mulai mengelupas karena genangan air.
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
"Bau banget, udah yok keluar. Takut nih." Bram terus merengek dibelakang ari sambil memegang bajunya sangat erat. Kita bertiga gak memperdulikan si gembul. Kami lebih penasaran dengan seisi rumah ini. Gak terlalu luas sih, sekitar 120 meter persegi. Tapi ada beberapa ruangan yang
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
sangat menarik. Aku kembali melihat bayangan itu. Sekarang semakin agak jelas sih. Tapi cepat banget. Mengarah ke salah satu kamar. "Kalian lihat gak ada sesuatu yang masuk ke kamar sebelah sana?" Tanyaku pada mereka. Mereka gak jawab. Cuma ari menganggukkan kepala pertanda iya.
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
"Ihh.. ayo pergi lahh.. Takut aku .." Sekarang rengekan Bram bercampur mata yang makin berkaca-kaca dan memerah. "Bentar bram, baru juga masuk" bagus mencoba menenangkannya. Kami pun dengan langkah perlahan mulai membuka tirai pembatas kamar. Jadi kamar ini tidak memakai pintu,
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
melainkan tirai. "Blaakkkkk..... Ceklekkkk....." Tiba tiba pintu belakang menutup sendiri dengan keras. "Eh kenapa? Ayok buru keluar" Bram semakin gemetaran. "Itu angin bram. Lihat hujannya campur angin." Kembali aku menepis dengan pikiran realistis.
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
Padahal jantungku juga sudah berdegup sangat kencang. Aku lanjutkan untuk membuka tirai warna putih itu. Saat kebuka, disini baunya lebih anyir. Lebih amis. Seperti bau darah. Entah cuma aku saja yang mencium bau ini atau teman temanku juga menciumnya aku tidak tahu, aku tidak-
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
-bisa banyak bicara waktu itu. Ternyata ini ruang prakteknya. Dimana masih ada tempat tidur untuk pasien dan beberapa peralatan yang lainnya. Perlahan kami mulai masuk ke dalam kamar itu. Gelap, hanya disinari cahaya dari jendela disamping tempat tidur pasien.
TUYUL BUCIN @TuyulBucin
Kamarnya tidak terlalu luas. Namun entah mengapa masih ada beberapa alat medis yang tersimpan disini. Harusnya peralatan ini bisa dipindahkan ke rumah baru penghuninya dulu. Entah apa yang terjadi dulu aku tak tahu. Semakin kesini aku semakin penasaran.
Load Remaining (34)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.