Istri Bukan Pembantu! Tentang Perempuan yang Sulit Berkembang Karena Terkuras Mengurus Rumah Tangga via @iimfahima

perempuan harus baca @tumbenlucu
women Utas perempuan empowerment THREAD feminisme
3
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Tentang perempuan - perempuan yang sulit berkembang karena habis tenaganya ngurus domestik. Dan pria-pria yang ngga paham kewajibannya. . . Sebuah utas.
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Tadi malam saya memberikan kulwap bagaimana perempuan bisa membangun bisnis dari rumah. Banyak pertanyaan: Gimana caranya bisa ngurus jualan, ngurus bisnis kalo saya ga punya ART dan ngurus anak sendiri?
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Tujuan saya mengajak perempuan dagang/jualan/bisnis dari rumah adalah: Untuk perempuan berdiri tegak di kaki sendiri. Punya duit sendiri. Ga tergantung pada suami. Anytime hal buruk terjadi, mis suami meninggal, sakit, etc perempuan ga limbung ketika ambil alih nahkoda.
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Saat perempuan mandiri finansial, yg mendapat manfaat ngga hanya diri sendiri tapi juga keluarga dan society. Study menyebutkan, perempuan menggunakan 80% income nya untuk diinvestasikan ke keluarga. Tp bagaimana bisa berkembang jika dikepung tugas domestik dan GA DIBAYAR?
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Twitter saya minggu lalu ramai saat saya men-tweet bahwa Ibu Rumah Tangga WAJIB mendapat bayaran finansial. Selama ini banyak suami dengan dalih agama maupun budaya, menyerahkan sepenuhnya urusan domestic seperti ngurus anak, cucian, kebersihan rumah masak pada istri.
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Padahal, jika rujukannya ajaran Islam, laki-laki penanggung jawab penuh SEMUA urusan rumah. Dari mendidik anak, makanan matang, rumah dan pakaian yang bersih hingga menyusui bayi. Jika suami ngga mampu tenaganya, tp mampu finansial, hukumnya WAJIB bagi suami menyediakan ART
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Bagaimana jika tidak mampu membayar ART? Maka suami WAJIB mengerjakan pekerjaan rumah itu sebisa mungkin, DIBANTU istri. Jadi istri di sini fungsinya adalah membantu suami. MEMBANTU ya, bukan menjadi penanggung jawab utama. Paham kan ya, bedanya.
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Jadi kalo ada anak yang ga bener, rumah kotor, makanan matang tidak tersedia, cucian kotor numpuk, anak kurang gizi ya itu tanggung jawab suami. Jika ada bagian yang ngga beres di dunia, maka suami-lah yang akan dimintai tanggung jawab di akhirat kelak, bukan istri.
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Terkait soal bayaran finansial alias gaji pada istri yang menjalankan pekerjaan domestik. Ngga usah lah kalian bertanya soal dalilnya mana, kecuali kalian kelompok orang yang malas berpikir.
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Pakai logika aja, jika pembantu saja bekerja dibayar, kok bisa istri yang posisinya jauuuuuuh lebih tinggi dan terhormat, ngga dibayar? Beberapa ulama bahkan menambahkan, istri setiap melahirkan dibayar pakai emas!
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Jadi dihitung saja tuh berapa suami seharusnya membayar gaji istri. Dari melahirkan, menyusui, jadi dokternya anak, psikolognya anak, guru, guru ngaji, tukang masak, beberes rumah, pakaian, supir dll ..... dikerjakan oleh satu orang!
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Banyak yang berkelit, “Lha itulah sebabnya ibu tuh ngga perlu dibayar, karena jadi istri/ibu itu pekerjaan mulia, bayarannya surga”. Allahurabbi. Kalau ngga mampu uangnya, jangan ditambah dengan ngga mampu berpikir lurus.
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Dokter itu pekerjaan mulia, mereka dibayar. Supir itu pekerjaan mulia, mereka dibayar. Tukang masak itu pekerjaan mulia, mereka dibayar. Jadi apa dasarnya tidak membayar Ibu Rumah Tangga yang dari A - Z dikerjakan semua?
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Saya pribadi, meski bapaknya anak-anak melengkapi rumah dengan supir, pembantu dll, saya memutuskan untuk: Jadi juru masak di rumah. Jadi guru ngaji anak-anak. Jadi guru anak saya yang homeschooling. Jadi psikolog dan tempat curhat anak-anak, dan masih banyak lagi. TAPI
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Saya melakukan pekerjaan itu semua karena KEMAUAN SENDIRI. Karena saya punya ilmunya, punya waktunya dan tenaganya. Bukan karena indoktrinasi agama. Bukan karena tekanan sosial maupun budaya. Paham kan bedanya? Mindsetnya yang beda.
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Dan atas apa yang saya kerjakan, saya juga dibayar pakai uang. Ngga cuma ucapan terimakasih atau basa-basi “bayarannya di surga”. Saya paham, tidak semua orang mampu finansial, tapi membenahi mindset ini krusial. Bukan hanya utk perempuan, tp juga keluarga dan society.
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Secara global, perempuan menghabiskan tiga per empat atau 76.2 persen dari total jam mereka setiap harinya untuk melakukan pekerjaan tidak dibayar aka domestik. Di Asia, bahkan, angkanya mencapai 80 persen total jam setiap harinya.
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Pekerjaan domestik yg ngga dibayar ini, membuat perempuan 15 kali lebih miskin dari laki-laki ... Dan akhirnya, tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka yang berujung pada sulit berpartisipasi dalam aktivitas sosial-politik.
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Survei nasional di 34 provinsi dengan sampel 2.041 ibu rumah tangga (IRT) mengungkapkan bahwa rata-rata lama bekerja IRT ialah 13.5 jam per hari. Angka ini lebih besar dari rata-rata perempuan di Asia Pasifik yang mencapai 7.7 jam per hari (Jurnal Perempuan, 2020)
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Pekerjaan IRT dianggap rendah dan ga dibayar. Padahal, jika dikaji, pekerjaan tersebut ialah aspek penting dalam aktivitas ekonomi sekaligus faktor yang sangat berkontribusi pada kesejahteraan individu, keluarga maupun masyarakat. (Stiglitz dkk, 2007)
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Nanti tweet dilanjut kalo sempet. Mau nemenin anak-anak tadarusan dulu sebelum tidur. Yang mau mayah mayah, mending disimpan energinya buat mengerjakan tanggung jawabmu 😋😋
Iim Fahima Jachja @iimfahima
1. Yang mau menjadikan IRT sebagai ART gratisan 2. Yang sudah kadung merangkap jd IRT plus ART 3. Yang mau nikah. Ini slide bisa di save 😋😋😋 pic.twitter.com/godYAaTHnH
Expand pic
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Yang posisinya jadi bapak di rumah dan punya anak perempuan. Kalian rela, anak perempuanmu yang udah kamu sayang-sayang, sekolahin tinggi2, dinikahi orang yang kemudian menjadikannya IRT rasa ART? Jadi IRT merangkap ART gratisan itu ngga hanya berat di fisik tp jg mental.
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Kalian yg posisinya sebagai perempuan dan bisa melakukan banyak hal. Ada jutaaan perempuan lain yg ngga berdaya fisik, mental, ekonomi, sosial karena harus jadi IRT rasa ART. Diantara jutaan itu. Mungkin salah satunya IBUMU. Yg selama ini diam krn takut bersuara.
Iim Fahima Jachja @iimfahima
Ini panduan buat yang Islam. Di share oleh mas @almaujudy . ISTRI BUKAN PEMBANTU. Jangan jadikan IRT sebagai ART gratisan. pic.twitter.com/MlyXwlSMtq
Expand pic
Load Remaining (12)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.