Tempat Pijat Dan Warung Remang Remang Kadang Ada Yang Nakal

0

Tempat pelacuran Rawa Bebek sebenarnya sudah ada sejak 20-an tahun silam. Namun, kawasan berlipat semakin semarak saat Gubernur DKI kala itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, pada 2016, menutup lokalisasi pelacuran Kalijodo yang namanya, saat itu, lebih top ketimbang Rawa Bebek. Para mantan penghuni Kalijodo serta merta pindah ke Rawa Bebek, “surga” mereka yang baru. "Royal ini yang memegang penuh adalah eks Kalijodo," ujar warga yang enggan disebut namanya kepada Tagar.

Gang Royal padat dengan bangunan. Puluhan kafe berdempetan di tempat ini. Aneka ragam namanya: Royal, Intan, Warung Remang-Remang, dan Salon Gaul. Ciri khas tempat ini, di depan bar atau kafe terdapat tempat duduk menghadap ke jalanan. Tak kurang ada sekitar 25 café –artinya menyediakan perempuan dan minuman- ada di kawasan ini. “Itu masih bisa bertambah. Karena kemarin ada warteg dijual untuk dijadikan cafe,” ujar warga yang ditemui Tagar tersebut.

Lokasi Prostitusi
Lokasi praktik prostitusi Royal di Jalan Rawa Bebek RT02 RW13 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu, 22 Februari 2020. (Foto: Tagar/Rahmat Fathan)
Royal adalah surga pelacuran anak-anak. Para anak-anak yang mestinya duduk di bangku sekolah dipaksa menjadi pelacur tanpa mereka bisa melawan. Dari puluhan pelacur yang ada di tiap bar atau kafe, hampir lima puluh persen di antaranya anak di bawah umur. "Kalau dihitung, satu kafe itu sekitar 30-35 PSK. Keseluruhan bisa hampir 500 lebih. Yang di bawah umur sekitar 40-50 persen," kata warga ini. Ia wanti-wanti namanya jangan ditulis. Para pelacur anak-anak itu “dibandrol” harganya sekali kencan Rp 150 ribu. Harga ini lebih tinggi ketimbang perempuan dewasa yang rata-rata “hanya” cepek alias seratus ribu. Dari nilai Rp 150 ribu itu, para pelacur anak-anak itu mendapat bagian Rp 60. 000.

Menurut sumber Tagar ini para perempuan di Rawa Bebek datang dari Bogor, Indramayu, Bandung, juga Medan. Sebagian mereka terpancing lewat iklan lowongan kerja yang mengiming-imingi mereka gaji besar. Kemudian mereka dijual ke para germo, seperti misalnya di Kafe Kayangan itu, dengan harga sekitar Rp 1,5 juta. “Ada yang usianya 10 tahun dan dia masih kerja di sini,” kata warga ini lagi.

Para germo, menurut warga ini, memperlakukan mereka dengan keras. Para perempuan itu tak hanya dieksploitasi mencari tamu sebanyak-banyaknya, juga dilarang memiliki handphone, dilarang bergaul dengan warga sekitar, dan diancam jika coba-coba melarikan diri.


Tak semua pelacur anak-anak itu takut dengan ancaman itu. Sebagian ada yang melarikan diri. Seorang warga Rawa Bebek menghitung setidaknya hingga kini ada sepuluh kali para pelacur kabur dari tempat itu. Pria ini bercerita, pernah suatu ketika ia menolong tiga pelacur belia yang kabur dengan cara membongkar genteng cafe tempat mereka berada. “Agak gugup saya, naikkan mereka ke Bajaj dan akhirnya mereka kabur,” ujarnya.

Para warga Rawa Bebek yang ditemui Tagar mengaku pelacuran di daerah mereka ini sudah merusak para anak-anak di sana. Narkoba misalnya relatif mudah didapat. "Berapa banyak anak yang meninggal karena narkoba, berapa banyak anak yang meninggal karena AIDS, semua dampak prostitusi di Royal ini," ujar seorang warga. Dampak lain, ujarnya, anak-anak yang baru lulus SD juga emoh melanjutkan sekolah. “Mereka memilih ngamen, mintain duit, menodong sopir-sopir truk, nawarin kondom, dan lain-lain,” katanya lagi.

Kepada Tagar Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Trafficking dan Eksploitasi, Anak Ai Maryati, menyatakan pihaknya tidak mengetahui perihal masih adanya anak-anak di bawah umur yang dipekerjakan sebagai PSK di Royal selain yang telah diambil polisi beberapa hari lalu. "Saya mengikuti prosesnya. Tapi kalau dibilang sekian puluh, saya tidak mendapat info itu dari kepolisian," ujar Ai.

Menurut Ai Maryati, KPAI telah meminta instansi terkait mengusut lebih jauh adanya eksploitasi anak di Rawa Bebek. Ia juga meminta masyarakat membantu dengan cara melapor ke polisi "Saya mengharap sekali partisipasi masyarakat dalam hal ini,” katanya.

Rawa Bebek memang akan belum ditutup. Surga pelacuran itu, dengan segala gemerincing uangnya yang ke sana-ke mari, akan terus hidup. Para germo tak pernah kehabisan pelanggan, juga pelacur anak-anak yang terjebak di dalamnya. Kecuali aparat serius memberangusnya

Comment

No comments yet. Write yours!