Saya Pingsan Beberapa Hari, Setelah Ditelusuri Ternyata Hampir Jadi Korban Pesugihan: Tumbal Beruntun #threadhorror

lalu...
baca horor horor FUN Cerita Horor korban pesugihan
0
Sekala Niskala @niskala_sekala
Selamat Pagi, pengguna twitter yang berbahagia. Saya akan kembali menulis sebuah cerita yang lagi-lagi bersumber dari teman saya, Anto. Cerita ini merupakan sebuah cerita nyata, yang menimpa di salah satu keluarga besar Anto. Saya akan mulai bercerita nanti malam.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Halo, selamat malam. Mohon maaf saya baru bisa mulai menulis karena kemarin malam saya kurang enak badan. Malam ini saya akan mencoba menulis semampu saya, karena saya merasa belum terlalu sehat.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Alasan saya mengangkat cerita ini karena saya ingin kita semua dapat memetik hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian. Anto sebagai pemilik cerita ini pun sepakat dengan statement saya. Karena manusia tidak pernah terlepas dari kesalahan yang ia perbuat di sepanjang hidupnya.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Dan tidak ada satupun manusia yang benar-benar suci, tak pernah melakukan dosa dan khilaf sama sekali. Semua pasti pernah berbuat khilaf, melanggar syariat agamanya, mengabaikan Tuhannya. Tetapi yang harus selalu diingat bahwa Allah SWT Maha Pengampun sebanyak apapun dosa kita.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Saya tidak akan berpanjang lebar, saya akan mulai menceritakan sebuah pengalaman yang kurang baik yang menimpa salah satu keluarga besar kawan saya, Anto. Sebelum masuk ke cerita, semua nama tokoh dan tempat saya samarkan untuk menjaga privasi dari keluarga besar Anto.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Saya menggunakan sudut pandang orang pertama dalam cerita ini, saya sebagai Anto. Untuk memudahkan proses bercerita dan penulisan.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Tahun 1994. Aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Karena saat itu Mbah Buyutku merupakan orang paling kaya didesaku, yaitu Desa P, di salah satu Kabupaten di Jawa Timur. Bagaimana tidak? Mbah Buyutku merupakan pemilik sekitar 40% tanah didesaku.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Rumah Mbah Buyutku tidak terlalu besar, tapi untuk ukuran rumah di jaman itu, sudah masuk kategori mewah. Karena rumah Mbah Buyutku memiliki arsitektur rumah adat Jawa, yaitu Joglo. Mbah Buyutku pun memiliki seperangkat alat gamelan lengkap yang itu bukan terbuat dari besi,
Sekala Niskala @niskala_sekala
ataupun perunggu. Melainkan yang terbuat dari kuningan. Bayangkan saja di tahun tersebut ada orang desa yang memiliki seperangkat gamelan jawa kuningan, yang saat ini saja harganya masih berkisar 100-jutaan. Tidak diragukan lagi, Mbah Buyutku merupakan orang yang kaya raya.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Seminggu setelah kelahiranku, aku terjatuh saat Bapakku sedang menggendongku. Di usia satu minggu aku sudah jatuh dari gendongan orang dewasa, dan Bapakku memiliki perawakan yang cukup tinggi. Aku terjatuh ke lantai begitu saja.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Dan detik itu juga aku mengalami koma selama satu minggu. Orangtuaku benar-benar bingung dan terpukul atas kejadian yang menimpaku, terutama Bapakku yang sangat merasa bersalah karena beliau telah lalai menjagaku.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Namun, untuk keluarga besarku dimana Mbah Buyutku merupakan seorang petani sukses di desaku, bukan perkara sulit untuk membawaku ke dokter. Pada waktu itu, untuk periksa dan berobat ke dokter masih terbilang cukup mahal untuk ukuran orang desa.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Karena hal tersebut, pada masa itu orang-orang desa lebih memilih untuk berobat ke dukun atau mantri. Keluargaku membawaku ke dokter dengan harapan baik agar aku mampu disembuhkan melalui jalur medis. Akan tetapi, setelah dilakukan pemeriksaan secara medis,
Sekala Niskala @niskala_sekala
menurut dokter tidak ada masalah atau kerusakan di seluruh bagian tubuhku. Dokter pun tidak mampu menjelaskan apa yang sebenarnya menimpaku. Bagian dalam kepalaku pun baik-baik saja, padahal secara logika bayi berusia satu minggu masih memiliki tulang tubuh apalagi tengkorak
Sekala Niskala @niskala_sekala
kepala yang sangat lunak. Tetapi tidak terdapat sedikitpun kerusakan di dalam kepalaku ataupun benturan di tengkorak kepalaku. Semua benar-benar baik-baik saja. Hal tersebut semakin membuat keluargaku bingung bukan kepalang.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Akhirnya keluargaku berusaha melakukan pengobatan ke dukun desa dan tetap tidak membuahkan hasil. Aku masih saja koma. Namun, keluargaku tidak putus asa. Keluargaku mencoba bertanya kepada orang pintar di desaku. Dan jawaban dari orang pintar tersebut cukup membuat
Sekala Niskala @niskala_sekala
keluargaku terkejut. Orang pintar tersebut mengatakan, "Bocah iki kudu ucul seko silsilah keluargane ben iso mari." (Anak ini harus terlepas dari silsilah keluarganya agar bisa sembuh). Sontak keluargaku pun kaget dan bingung. Keluargaku sempat mencari alternatif lain,
Sekala Niskala @niskala_sekala
namun pada akhirnya memang harus menuruti nasehat orang pintar tersebut. Keluargaku pun berinisiatif untuk membawaku ke rumah adik nenekku dan meminta beliau untuk mengakuiku sebagai anaknya. Dengan begitu maka aku akan terlepas dari silsilah keluarga yang sebelumnya.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Sesampainya di rumah adik nenekku, pada saat itu beliau sudah memahami musibah yang sedang menimpaku, tanpa berfikir panjang, beliau pun menuruti kemauan keluargaku. "Wes yo, tangi o, sadar o, mulai saiki koe dadi anakku." (Sudah ya, bangunlah, sadarlah, mulai sekarang kamu
Sekala Niskala @niskala_sekala
jadi anakku) ucap adik nenekku sambil mengelus kepalaku. Tak berselang lama setelah beliau berkata seperti itu, seperti sebuah keajaiban, saat itu juga aku tiba-tiba terbangun dan menangis.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Hanya karena aku telah diakui anak oleh adik nenekku bukan berarti aku benar-benar menjadi anak beliau. Itu diibaratkan hanya seperti sebuah ucapan untuk sekedar memutus silsilah atau garis keturunan dari keluargaku yang sebenarnya. Aku tetap dirawat dan dibesarkan oleh
Sekala Niskala @niskala_sekala
kedua orangtuaku. Pada saat itu karena kedua orangtuaku belum memiliki rumah sendiri, kami sekeluarga, Bapak Ibu, aku, dan kakakku satu-satunya yaitu Mas Darso, masih tinggal bersama Mbahku (orangtua ibuku). Aku hanyalah dua bersaudara bersama Mas Darso.
Sekala Niskala @niskala_sekala
Namun, tak berselang lama semenjak aku terbangun dari koma, kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke desa tetangga, sebut saja Desa S. Orangtuaku memang sudah menyicil membangun rumah, namun baru sampai pada tembok pembentuk rangka rumah saja, itu pun bukan
Sekala Niskala @niskala_sekala
dibuat menggunakan semen dan pasir, melainkan menggunakan tanah liat. Sedangkan atapnya pun belum ada, tetapi karena ibuku sempat berkonflik dengan Mbahku, akhirnya kami memutuskan untuk pindah. Di rumah kami yang baru, kami sempat merasakan hanya tidur diatas satu dipan
Load Remaining (30)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.