"tau atau tidak, pak de mu meninggal secara gak wajar, di dalam mulutnya di temukan cincin yg sengaja di pakai untuk surup rumah ini" #memetwit Keganjilan2 Kematian Pak De by@SimpleM81378523

apa itu sorop?
FUN horor story baca horor Cerita Horor Memetwit
6
SimpleMan @SimpleM81378523
@bacahorror pertama kali saya dengar cerita ini dari sebuah pesan Dm di twitter. seorang perempuan yg ingin bercerita tentang pengalamannya saat ia pertama kali bersentuhan dengan penghuni di dalam rumahnya. awalnya saya tidak tertarik, bagi saya sendiri setiap rumah pasti ada penghuninya.
SimpleMan @SimpleM81378523
namun saya tetap antusias untuk mendengarkan ceritanya, satu persatu kepingan ingatan yg pernah ia alami ia ketik dalam pesan pendek email dan saya baca satu persatu, masih belum tergugah dengan ceritanya hingga mata saya berhenti pada satu titik kalimat yg membuat saya tiba-tiba
SimpleMan @SimpleM81378523
-begitu tertarik. satu kalimat yg seakan merubah presepsi saya pada sebuah cerita rumah berpenghuni yg klise karena apa yg akan kalian baca ini bukan sekedar cerita hantu melainkan sebuah cerita yg benar-benar akan menjadi salah satu cerita paling berkesan teruntuk saya sendiri.
SimpleMan @SimpleM81378523
"Sorop" itu adalah ketikan kalimat yg membuat saya tiba-tiba berpikir untuk menemuinya, berbicara langsung dengan kontributor saya dan di sini perstiwa itu akan saya ceritakan sedetail mungkin. cerita tentang tenggelamnya matahari dan membangunkan mereka semua.
SimpleMan @SimpleM81378523
butuh waktu 5 jam untuk sampai ke kota kontributor saya, berbekal lokasi tempat kita berjanji yg tiba-tiba di batalkan karena beliau ingin saya melihat langsung rumahnya. saya tidak keberatan karena saya juga ingin melihat rumah yg akan saya ceritakan nanti.
SimpleMan @SimpleM81378523
sampailah saya di rumah itu. hal pertama yg saya rasakan tentang rumah itu tidak berbeda jauh seperti rumah kebanyakan hanya saja rumah ini memanjang di bandingkan meluas dengan tatanan pintu kamar di satu lorong panjang yg langsung menuju pawon (dapur).
SimpleMan @SimpleM81378523
saya duduk dan memandang kontributor saya. rumah ini hangat tidak sedingin yg dia ceritakan, dan ekspresi wajah kontributor saya hanya tersenyum sembari mengangguk sebelum ia berbicara pelan-sangat pelan nyaris membuat saya membungkuk untuk mendengarkan, "mereka di sana"
SimpleMan @SimpleM81378523
kontributor saya menunjuk satu pintu. benar saja, ada satu pintu yg terlihat menggelitik saya karena hanya pintu itu yg memiliki geligik seakan pernah di bakar sebelumnya. kayunya sudah rapuh namun di gembok dengan kuat. "itu adalah kamar pak de yg saya ceritakan mas"
SimpleMan @SimpleM81378523
seketika bulukuduk saya berdiri, mungkin karena saya sudah mendengar cerita ini sebelumnya dari email yg kontributor saya kirim. "pak de mu sing iku" (pak de kamu yg itu) kata saya dan dia mengangguk. saya mengangguk berusaha mengerti.
SimpleMan @SimpleM81378523
satu jam saya menunggu di rumah itu, berbicara dan bertanya banyak hal dan dia menjawabnya sesuai dengan email yg ia kirim, terbesit pertanyaan yg pasti keluar terlebih bila seseorang mengalami gangguan hingga sesinting itu. "lapo gak di dol ae omahe mbak?" (kenapa gak di jual?)
SimpleMan @SimpleM81378523
kontributor saya hanya menunduk. tepat setelah saya bertanya itu ia langsung menunduk seakan pertanyaan saya gak sepantasnya dipertanyakan tentu saja saya sendiri menyesal karena saya spontan dari rumah yg awalnya bagi saya biasa saja namun perlahan mampu membuat bulukudukberdiri
SimpleMan @SimpleM81378523
untungnya, perempuan lain yg saya tunggu datang. ia melihat saya dan setelah tahu siapa saya dia langsung duduk tanpa mengembalikan tasnya terlebih dahulu ke kamar, dia menatap saya ragu sebelum mulai mengatakan kepada saya bahwa cerita yg kakaknya ketik tentang rumah ini-
SimpleMan @SimpleM81378523
benar adanya. semua itu di mulai saat "pak de kulo peja" (paman saya meninggal)
SimpleMan @SimpleM81378523
"nduk mantuk yo, wes talah sepuroen pak de mu, kabeh keluarga wes sepakat, omah iki ngunu hak-mu, timbang merantau ngunu mbok di urus ae omahmu iki" (nak pulang ya, sudah lah maafkan pak de mu, semua keluarga sepakat, rumah ini hak kalian, daripada merantau begitu mending-
SimpleMan @SimpleM81378523
-rumahmu ini di urus) Isti nama perempuan itu, berbekal telephone di wartel setempat ia melirik kakaknya, Hanif. Hanif menggeleng seakan menolak untuk kembali, apa yg menimpa keluarganya tepat setelah kematian orang tuanya tidak akan pernah ia lupakan terlebih perlakukan-
SimpleMan @SimpleM81378523
dari keluarga ayahnya. "ngapunten bu lek, kulo kale mbak boten purun mbalik nek tasik enten pak de kale bu de" (maaf tante, saya dan kakak saya gak akan kembali kalau masih ada om sama tante di rumah itu) hening. tak beberapa lama Isti menutup telepone, wajahnya pucat.
SimpleMan @SimpleM81378523
"lapo Is?" (kenapa is?) tanya Hanif, wajah adiknya masih sangat pucat. "pak de sakaratul maut mbak, bu de minggat, bu lek kepingin kene muleh" (pak de sakaratu maut, sedangkan bu de pergi dari rumah, bu lek ingin kita pulang) Malam itu juga, Isti dan Hanif pulang.
SimpleMan @SimpleM81378523
selama di perjalanan Hanif dan Isti saling melihat satu sama lain, entah kenapa setelah mendengar kabar itu keduanya justru tidak tenang seakan ada yg membuat mereka ketakutan. "bener sing di omongno bulek?" (bener yg di omongin bu lek) Isti mengangguk.
SimpleMan @SimpleM81378523
"iyo mbak, jare pak de mutah getih, trus nyelok-nyelok jeneng'e kene ambek" (iya mbak, katanya pak de muntah darah, trus dia manggil-manggil nama kita sama-) Isti terdiam lama, "Sorop" Hanif tidak lagi melihat Isti, ia memilih melihat ke jendela kereta, sudah lebih dari 14 jam
SimpleMan @SimpleM81378523
-perjalanan mereka, dan sebentar lagi mereka akan tiba tepat ketika matahari akan tenggelam, cahaya kemerahan di barat terlihat begitu mencolok. Hanif masih ragu apakah ia siap melihat wajah pak de setelah apa yg mereka perbuat kepada dirinya dan adiknya.
SimpleMan @SimpleM81378523
rumah itu memang tak seharusnya di pertahankan bila akhirnya menjadi seperti ini.
SimpleMan @SimpleM81378523
di stasiunt, seorang lelaki kurus melambaikan tangan, Hanif dan Isti mendekatinya sebelum mencium tangannya. "ayok ayok, kabeh wes ngenteni" ucap si lelaki kurus, namanya Supri tetangga sekaligus orang yg dulu paling dekat dengan almarhum orang tua mereka. "pak de yo opo mas?"
SimpleMan @SimpleM81378523
(pak de gimana mas?) Supri yg tengah menyetir mobil tidak langsung menjawab. wajahnya khawatir, "ra eroh" (gak tau) Isti dan Hanif hanya saling melihat satu sama lain, belum terlalu jauh dari stasiunt tiba-tiba hujan deras turun, wajah Supri semakin khawatir. "pertondo elek"
SimpleMan @SimpleM81378523
mobil tua itu tetap menerjang meski hujan semakin deras dan langit mulai menggelap. tepat maghrib mereka sampai di depan rumah yg sudah di penuhi warga kampung. Isti dan Hanif turun dari mobil sebelum mengucap terimakasih pada Supri, Hanif menyadari ada yg salah dari wajahnya.
Load Remaining (92)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.