1
Rizal Do @afrkml
KISAH ERATOSTHENES: PENEMU KELILING BUMI PERTAMA --- A THREAD Eratosthenes mampu mengukur keliling bumi pada 2.200 tahun yg lalu secara cukup presisi dg menggunakan tongkat, kaki, & otak saja! Dia membuktikan bahwa bumi “harus” bulat agar seluruh fenomena dapat terjawab. How? pic.twitter.com/o3H3jkR2Rt
Expand pic
Expand pic
Rizal Do @afrkml
Siapa Eratosthenes? Asing dengan nama itu? Dia adalah ahli astronomi, sejarah, geografi, syair, teater, dan matematika dari Alexandria kuno. Selain itu, dia merupakan direktur dari perpustakaan besar Alexandria, Btw, ada kisah kelam yang menyedihkan tentang perpustakaan ini 😔
Rizal Do @afrkml
Nah, di dlm perpustakaan ini, Eratosthenes membaca suatu buku/kitab yg dibentuk dari daun lontar. Kitab tsb nantinya akan membangkitkan rasa penasaran Eratosthenes pada sesuatu yg mengantarkannya pada usaha utk mengukur keliling Bumi Apa yang sebenarnya ada di dalam buku itu?
Rizal Do @afrkml
Eratosthenes menemukan bahwa tongkat yang ditegakkan di sebuah tempat bernama Syene (sekarang bernama Aswan, Mesir) pada tengah hari tanggal 21 Juni, tidak memiliki bayangan! pic.twitter.com/BvtFLOvYxJ
Expand pic
Rizal Do @afrkml
Hal tersebut terjadi tepat pada saat Summer solstice (titik balik musim panas), yaitu sebuah hari terpanjang dalam setahun ketika jam-jam merayap mendekati waktu tengah hari dan bayangan pilar-pilar kuil makin memendek.
Rizal Do @afrkml
Akan tetapi, bayangan tersebut akan melenyap pada siang hari. Pantulan matahari dapat dilihat dari air di dasar sumur. Pada waktu itu, Matahari berada tepat di atas kepala.
Rizal Do @afrkml
Bagi sebagian orang, hal-hal semacam itu merupakan hal yang biasa dan cenderung diabaikan. Untuk apa memikirkan hal yang biasa dan selalu terulang setiap waktu? Akan tetapi, Eratosthenes memiliki perbedaan cara berpikir.
Rizal Do @afrkml
Otak ilmuwannya menolak untuk menganggap biasa hal yang memang biasa terjadi. Ia mencoba untuk mencari tahu penjelasan dan jawaban dari segala fenomena yang terjadi, termasuk bayangan matahari.
Rizal Do @afrkml
Tempat Eratosthenes berada pada saat itu adalah Alexandria. Jaraknya sekitar ratusan kilometer dari Syene, nama tempat yang ia baca pada kitab yang sudah kita sebut sebelumnya
Rizal Do @afrkml
Eratosthenes ingin mengamati perilaku bayangan yang muncul pada tongkat tegak di Alexandria pada tanggal 21 Juni. Ia ingin memastikan, apakah tongkat tegak tersebut tidak memiliki bayangan pada tengah hari di tanggal 21 Juni seperti yang terjadi pada tongkat tegak di Syene.
Rizal Do @afrkml
Hasilnya sangat mengejutkan. Tongkat tegak di Alexandria memiliki bayangan!
Rizal Do @afrkml
Eratosthenes lantas bertanya pada diri sendiri. Gmn bisa tongkat tegak di Syene tdk memiliki bayangan, sedangkan di Alexandria yg berada jauh di utara, tongkat tegak memiliki bayangan. Pengetahuan astronomi & geografi saat itu tidak mampu menjelaskan fenomena tersebut
Rizal Do @afrkml
Skrg coba bayangin deh, ambil peta dunia, gelar di sebuah bidang datar. Lalu tancapkan tongkat pada masing2 titik di Alexandria dan Syene, kemudian sinari peta tsb dg cahaya. Akan mnjadi masuk akal apabila bayangan pd kedua tongkat memiliki panjang yg sama, namun faktanya tidak.
Rizal Do @afrkml
Itulah yang dipikirkan oleh Eratosthenes Tdk mungkin tongkat tegak di Alexandria dan Syene memiliki panjang bayangan yg berbeda apabila bumi itu datar (Ingat! Waktu yang dipakai untuk pengamatan oleh Eratosthenes adalah waktu ketika Matahari berada tepat di atas puncak kepala)
Rizal Do @afrkml
Kira-kira apa yang terjadi ya? Ada yang bisa menjelaskan? 😆👌
Rizal Do @afrkml
Eratosthenes menyimpulkan bahwa permukaan bumi “harus” melengkung agar fakta yang ditemukan dapat diterima oleh akal. Itulah satu-satunya jawaban yang masuk akal. Tidak hanya itu, semakin besar perbedaan panjang bayangannya, semakin besar pula kelengkungannya.
Rizal Do @afrkml
Selain itu, apabila berkas cahaya matahari jatuh sejajar menuju bumi, jarak matahari haruslah jauh dari bumi kita. Hasil pemikiran Eratosthenes tersebut telah terbukti saat ini. Matahari memang sangat jauh, sekitar 150 juta kilometer dari bumi.
Rizal Do @afrkml
Artinya, tongkat-tongkat tegak yang memiliki perbedaan panjang bayangan apabila didirikan pada tempat yang berbeda, akan memiliki sudut yang berbeda pula (karena asumsi awal bahwa bumi itu melengkung). pic.twitter.com/rgfx2Qpbpw
Expand pic
Rizal Do @afrkml
Setelah memahami hal tersebut, Eratosthenes lantas mengukur panjang bayangan menara tinggi di Alexandria. Ia menghitung sudut antara bayangan menara dan menara vertikal itu sendiri menggunakan geometri sederhana. Hasilnya, ia menemukan bahwa sudut tersebut sekitar 7,2 derajat. pic.twitter.com/B5iQz5dqwh
Expand pic
Rizal Do @afrkml
Krn sinar cahaya matahari jatuh sejajar ke permukaan bumi, garis jatuhnya sinar yg sejajar dg tongkat dpt ditarik lebih jauh menuju pusat bumi. Kedua garis sejajar tsb akan membentuk sudut yg sama, yaitu 7 derajat. Masih inget teori sudut garis sejajar pelajaran matematika kan? pic.twitter.com/tHE74O8Krb
Expand pic
Rizal Do @afrkml
Lingkaran memiliki sudut 360 derajat, artinya 360/7,2 = 50. Dg kata lain, 7,2 derajat sama dg seperlimapuluh dari tiga ratus enam puluh derajat. Eratosthenes lantas membayar orang untuk berjalan dari Alexandria ke Syene dengan tujuan utk mengukur jarak antara kedua kota tersebut
Rizal Do @afrkml
Bayangin tuh, mengukur jarak dua kota pake jalan kaki!
Rizal Do @afrkml
Akhirnya, jarak Alexandria dn Syene ditemukan sekitar 800 km! Seluruh variabel matematis sudah lengkap. Saatnya berhitung! Apabila 7,2 derajat = 800 km, berapa kilometer utk mencapai 360 derajat atau satu lingkaran penuh? Yap! 800 km dikalikan 50 = 40.000 km.
Rizal Do @afrkml
Bingo! Keliling Bumi akhirnya terungkap! pic.twitter.com/sIVlXBNxgL
Expand pic
Rizal Do @afrkml
Sekarang cek google masing-masing dan search keyword, “keliling bumi” berapa hasilnya? pic.twitter.com/OSNwnduvTg
Expand pic
Load Remaining (4)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.