"Sahabatan, Tapi Musuhan" Hubungan Soekarano-Hatta yang Tak Selalu Mesra Karena Banyak Berbeda Secara Pandangan Politik

Thread by: @andikamalreza
STUDY hatta persahabatan soekarno soekarnohatta sejarah hubungan
1
Kamal Reza @andikamalreza

Social concern / RTs are not endorsements, sometimes I do it just for the sake of satire.

linkedin.com/in/andi-kamal-…
Kamal Reza @andikamalreza
Namanya sering kita ucapin secara bersambungan. Kalo ngucapin Soekarno, ga tau kenapa kata “Hatta” spontan ngikutin kan? Tapi, apa bener keduanya punya hubungan semesra itu dari awal karirnya sampai keduanya udah tiada? SOEKARNO-HATTA; STM (SAHABATAN, TAPI “MUSUHAN”) -A Thread- pic.twitter.com/zx2zHjLdb2
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Thread ini ga akan ngebahas soal kisah patriotik dua pahlawan ini, karena semua udah ada di buku sekolah. Thread ini hanya akan ngebahas soal hubungan yg dikira mesra oleh masyarakat awam kini, tapi sebenernya, mereka banyak berbeda secara pandangan politik. Cerita disingkat ya pic.twitter.com/ZRJlTHSO6g
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Pernah denger Indische Partij (PI = Perhimpunan Indonesia) kan? Jadi ini perhimpunan pertama pemuda Indonesia (dulu disebut Hindia- elands) untuk nyuarain kemerdekaan Indonesia. Anggotanya Douwes Dekker (Indo/keturunan Belanda) juga K.H. Dewantara & Cipto Mangunkusumo (Pribumi). pic.twitter.com/86gZhvMoHT
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Nah intinya, PI ini dibentuk dgn semangat memerdekakan Indonesia. Beberapa tujuannya, mereka ga mau ada diskriminasi sosial & agama yg terjadi di masyarakat, juga memperkuat ekonomi warga yg lemah. Sayangnya, mereka bertiga diasingkan. PI pun bubar. Tapi semangatnya belum habis. pic.twitter.com/0whf7FY6po
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Cita-cita & misi PI, membuat Soekarno berpikir buat bikin partai resmi bersama beberapa tokoh lain. Akhirnya, beliau ngebuat PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 4 Juli 1927. Soekarno kan pinter tuh dalam berorasi, akhirnya PNI dapet pendukung yg banyak dalam waktu singkat. pic.twitter.com/vpIooAKWF7
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Karena Soekarno dianggap ancaman, Belanda akhirnya ngasingin beliau. Nah, PNI kan kosong nih ketuanya, salah satu pendirinya (Sartono) buat partai baru, namanya Partai Indonesia. Hatta, yg juga anggota PNI, membuat partai lain namanya Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru). pic.twitter.com/c1oJGZSAwi
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Setelah selesai diasingin Belanda, Soekarno balik nih ke Indonesia. Tapi, Soekarno lebih milih Partai Indonesia dibanding PNI Barunya Hatta. Fokusnya beda. Soekarno muda lebih ngumpulin massa, Hatta muda ngutamain pendidikan segelintir elite (ucap Sejarawan UI, Andi Achdian). pic.twitter.com/effmmTngIV
Expand pic
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Konflik awal di sini. Hatta tuh cukup sedih, di saat PNI lagi bagus2nya, PNI malah mau dibubarin gitu aja, bukannya milih pemimpin baru. Hatta nyebutin, kalau bubarnya PNI itu, ngehianatin semangat rakyat Indonesia. Juga, PNI percuma kalau rame, tapi ga diajarin ilmu pendidikan. pic.twitter.com/1ObOPJVHm3
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Soekarno baper dikit. Dia bilang Hatta sebagai “Pedantik”; orang yg suka mamerin kepinterannya, kebanyakan teori & kebarat2an. Bisa dipahamin juga. Soekarno arsitek, kuliah di ITB, ga pernah ke luar negeri (saat itu). Hatta belajar ekonomi, kuliah di Rotterdam. Perbedaan wajar. pic.twitter.com/E8SiTEmb1F
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Meski gitu, Soekarno kuat banget baca postingan akun tubir, ehh baca buku terbitan asiingg, termasuk dari Belanda. Singkat cerita, karena desakan kemerdekaan, Soekarno & Hatta bersatu lagi nih. Dan akhirnya jadi Pres-Wapres pertama Indonesia. Ceritanya makin seru nih. Siap ga? pic.twitter.com/exOX8cHQHJ
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Indonesia setelah merdeka, masih gampang digoyang. Soekarno mau bikin nih satu partai pelopor (maksudnya partai negara) biar ga banyak partai gitu; mudah dikendalikan. Nah Hatta ga setuju. Ia bikin Maklumat Wapres No.X Nov 1945. Isinya? Semua orng, siapa pun, boleh bikin partai pic.twitter.com/QTuAOneu7z
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Di sini ada masalah. Banyak partai muncul, keinginan juga banyak untuk negara baru ini. Konsep negara juga berubah dari Presidensial ke Parlementer. Intinya, Pres-Wapres cuma hiasan aja, Perdana Menteri (yg waktu itu dijabat Sutan Syahrir) yg memerintah, kabinetnya orang parpol. pic.twitter.com/IRps2TCDqE
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Tidak sesuai perkiraan, kebijakan politik jadi rebutan elit parpol. Soekarno-Hatta cuma jadi lambang negara, ga punya kuasa. Hatta cuma bisa orasi ke masyarakat, yg seterusnya isi pidatonya akan diteruskan ke kabinet, yg di dalam sana aja, orang parpol masih sering berantem.. pic.twitter.com/DYChIJyUUT
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Hatta bilang, kalau revolusi udah selesai. Ga perlu perang lagi. Tugas negara cukup menyejahterakan warga Indonesia saja. Mengembangkan ekonominya, dll. Soekarno bilang, revolusi belum selesai. Kemerdekaan hanya jembatan aja menuju Indonesia makmur. Perjuangan tetap harus ada. pic.twitter.com/8DKTIulGPS
Kamal Reza @andikamalreza
Hatta udah mulai ngerasa ada yg janggal dengan pemikiran Soekarno. Pada 1955, Hatta menyatakan akan mundur dari jabatannya setelah DPR terbentuk (maksudnya pas Pemilu udah kelar) lewat surat ke Ketua DPR. Soekarno bujuk Hatta untuk tetap, tapi 1 Des 1956, Hatta resmi mundur. pic.twitter.com/9hCT1fYN7F
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Kepada anak angkatnya, Hatta juga bilang: "Aduh, Des, Om cuma disuruh ngurus koperasi. Segala keputusan politik tidak dikonsultasikan dengan saya. Jadi Om berhenti saja jadi wakil presiden," kata Hatta kepada Des Alwi, dikutip dari buku 'Wapres: Pendamping atau Pesaing?'.
Kamal Reza @andikamalreza
Hatta juga bilang: “Bagi saya yg lama bertengkar dengan Soekarno soal konsep negara yg efisien, ada baiknya beliau (Soekarno) diberikan kesempatan memimpin, mengalami sendiri sistemnya, apakah berakhir sukses, atau kegagalan”. Ga ada yg tau (kala itu) alasannya, sampe 1960.. pic.twitter.com/M3aWfL1tzQ
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
4 tahun setelah Hatta mundur, Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden, soal mulainya era Demokrasi Terpimpin. Hatta ngomenin Soekarno. Beliau bilang dalam tulisannya yg berjudul “Demokrasi Kita” : 1. Soekarno ga bisa bikin kabinet sendiri, toh yg mimpin kan PM, sesuai UUDS 1950.
Kamal Reza @andikamalreza
2. Tentara dilibatin ke hal yg ga berkaitan soal pertahanan; dilibatin politik. 3. Soekarno bikin DPR baru, padahal DPR lama aja belum dibubarin. 4. Soekarno bubarin konstituante pilihan rakyat, sedangkan UUD baru aja kelar. Hatta menilai niat Soekarno baik, tapi caranya salah pic.twitter.com/nqVxStqYnC
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Hatta juga akhirnya ngeluarin 8 akumulasi kekecewaanya saat jadi Wapres Soekarno, saya sebutin beberapa aja ya, takut ga muat di 25 tweet ini: 1. Wapres cuma jadi simbol negara aja, ga bertindak sebagai perancang negara; ga efektif. 2. Menteri2 bekerja atas keinginan partai.
Kamal Reza @andikamalreza
3. Pegawai & jabatan publik diisi oleh orang partai, bukan profesional. 4. Tidak setuju dengan Demokrasi Terpimpin Soekarno. Tulisan ini dimuat sama majalah Pandji Masyarakat, yg dibuat oleh Buya Hamka. Namun 6 tahun kemudian, Buya Hamka ngeluarin satu pernyataan mengejutkan. pic.twitter.com/AfaJeQI9bD
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Meski sering beda pendapat, Hatta & Soekarno layaknya sepasang sahabat, tetap saling taruh rasa hormat. Hatta yg ketika sudah menjadi rakyat biasa & pembicara, sering ditanya mahasiswa soal pandangannya ke Soekarno. “Baik buruk beliau, Soekarno Presiden & sahabat saya”, ucapnya pic.twitter.com/FQe5fl4iC1
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
19 Juni 1970, Hatta dapet kabar bahwa Soekarno sedang sakit. Hatta lalu meminta izin pada Soeharto untuk menjenguk. Beliau diizinkan. Meutia Hatta, anak Bung Hatta, menemai ayahnya untuk menjenguk Soekarno. Mereka kembali bertemu meski dalam rentang 1950-1960 sering “berantem”. pic.twitter.com/CSQ08vuQSl
Expand pic
Kamal Reza @andikamalreza
Hatta berucap: “Ah no, bagaimana kabarmu?” Soekarno membalas: ““hoe gaat het (apa kabarmu)? Soekarno meminta ajudannya mengambilkan kacamata. Soekarno melihat dalam2 wajah Hatta. Keduanya menangis sambil berpegangan tangan. Momen yg sangat mengharukan bagi dua pahlawan bangsa. pic.twitter.com/l2j8CBxNE7
Expand pic
Load Remaining (13)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.