Trauma Psikologis Bisa Berefek Pada Obesitas via @jiemiardian

ilmu berfaedah @tumbenlucu
trauma health efek THREAD obesitas jiemiardian psikologis
0
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Trauma psikologis itu tidak terlihat, tapi efeknya bisa terbawa hingga seumur hidup. Pada beberapa kasus, trauma berhubungan juga dengan kejadian obesitas. Mencoba mengatasi obesitas pada orang dengan trauma, tidak cukup hanya fisik saja. Utas hubungan trauma dan obesitas pic.twitter.com/mI0qfXpF9y
Expand pic
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Utas ini dimulai dengan cerita pada tahun 1985. Saat itu Vincent Felliti,MD adalah kepala Preventive Medicine Department Kaiser Permanente di San Diego, di sana pusat kedokteran pencegahan terbesar pada zamannya. Felliti juga penggerak klinik yang khusus menangani obesitas.
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Felliti memiliki teknik yang pada saat itu disebut “supplemented absolute fasting”, sebuah teknik penurunan berat badan drastis tanpa operasi (udah kaya iklan pelangsing dari influencer belom?) Sebelumnya Felliti tidak berencana menilai obesitas dan trauma, sampai suatu hari...
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Seorang perawat wanita berusia 28 tahun dengan obesitas datang ke kliniknya dan dia dimasukkan dalam program pelangsingan. Bobotnya dengan ajib berkurang dari 185 kg menjadi 59 kg dalam 51 minggu. Keren bukan?! Maka beli pelangsing ini. Sayang ini bukan iklan pelangsing
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Hanya dalam hitungan bulan anehnya wanita ini mengalami peningkatan berat badan bahkan lebih dari berat sebelumnya, yang secara biologis mustahil dicapai dalam waktu sesingkat ini Felliti menjadi penasaran dan mencari tahu apa yang terjadi... selanjutnya membuatnya tercengang..
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Apa yang terjadi? Ketika wanita ini langsing, para lelaki mulai mendekati (yang sebelumnya tidak ada yang mau deket). Beberapa diantara lelaki ini mengajaknya berhubungan seksual. Pada saat itulah masalah terjadi. Tiba tiba dia menjadi makan sangat banyak...disaat tertidur...
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Kalau pernah nonton film horor conjuring, ada adegan seorang anak berjalan saat tertidur. Nah ini mirip, cuma adegannya dia berjalan lalu makan saat tertidur. Di hidup bangun dia makan, bahkan disaat tertidur pun dia juga makan. Felliti penasaran, ada apa dgn reaksi ekstrim ini
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Setelah ditelusuri, Felliti menemukan riwayat incest dari kakek sang klien. Ini adalah kasus incest kedua yang dia temukan. Karena penasaran Felliti meluaskan penelitiannya. Dia menemukan sebagian besar pasiennya yang obese berat ternyata pernah mengalami trauma seksual.
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Tahun 1990 Felliti pergi ke Atlanta untuk menyajikan hasil penelitiannya. Dari sana center for disease control and prevention (CDC) dan Kaiser Permanente bekerja sama untuk penelitian yang lebih besar dalam program ACE (adverse childhood experience)
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Lebih dari 50ribu pasien menjadi subjek dalam penelitian ini. Hasilnya, hanya 1/3 orang saja yang tidak mengalami trauma masa kecil. Artinya sebagian besar orang mengalami trauma psikologis. Angka 1/3 membuat saya tercengang pic.twitter.com/VYL6jOfGqv
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
1 dari 10 anak menyatakan, orang tuanya pernah menyumpahi, merendahkan, menghina, menjatuhkan Lebih dari 1/4 mengaku pernah dipukul/didorong/ditampar/dilempari benda/ mengasari hingga meninggalkan bekas fisik 28% wanita dan 16% lelaki pernah mengalami trauma seksual saat kanak
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Sayangnya pengalaman traumatik yang berjalan sepanjang waktu seringkali ditutupi, dianggap mempermalukan keluarga, rahasia, aib yang harus disembunyikan, dan tabu yang tidak boleh diungkap Padahal jika tidak diselesaikan, dampak trauma ini akan berlangsung seterusnya
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Semakin besar trauma saat kecil, semakin mungkin seseorang mengalami depresi pada masa dewasa. Dan bukan hanya depresi, peningkatan resiko kanker, nyeri, kecanduan alkohol, obesitas, gangguan jantung, liver, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, dan ragam penyakit kronik lain
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Kembali ke klien obesitas di awal thread yang makan saat tidur 20 tahun kemudian Felliti menemukan dia sudah langsing lagi, kali ini karena operasi operasi bariatric (operasi lambung gitu, biar makan jadi sedikit). Tapi ada sesuatu yang menarik terjadi... oke dia langsing...tapi
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Klien ini 5 kali masuk rumah sakit karena percobaan bunuh diri, 3 kali kejutan listrik untuk menyembuhkan kecenderungan bunuh diri berat yang dirasakan. Obesitas yang dianggap masalah kesehatan dunia, sebenarnya adalah solusi bagi klien ini. Solusi agar tidak lagi dilecehkan. pic.twitter.com/kISP7ZosKN
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Bagi klien ini, obesitas adalah solusi terhadap pelecehan yg dialami sejak kecil Namun karena para dokter menganggap obesitas adl masalah kesehatan, maka obesitas ini dihilangkan darinya Sehingga apalagi solusi terhadap pelecehan yang dirasakan? Kita bahkan tidak memikirkannya
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Penelitian ACE berkesimpulan "Sekalipun secara luas diterima bahwa obesitas, kecanduan, alkohol, rokok, itu berbahaya untuk kesehatan, namun hal ini sulit diubah... Kita hanya melihat ini sebagai masalah kesehatan, walau mungkin sebenarnya ada masalah lain dibalik itu"
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Trauma adalah masalah kesehatan yang sering terabaikan. Obesitas bisa jadi hanya gejala yang nampak dari apa yang mendasar dan tidak terlihat. Untuk menyelesaikannya, kita perlu menyentuh sampai penyebab rasa sakitnya. It's okay to seek for psychologist/psychiatrist
dr. Jiemi Ardian @jiemiardian
Semoga utas panjang ini bisa dipahami. Trauma perlu disembuhkan. Menguburnya bersama waktu hanya akan membuatnya bangkit dalam bentuk lain. Carilah pertolongan segera, karna diri kita layak untuk bahagia. -sekian dan terima retweet-
A. Priska @apulinapriska
@jiemiardian Aku banget nih : Trauma - > terapi ke psikiater - > obesitas - > trauma - > terapi ke psikiater, udah kayak lingkaran setan. Udah diet, olahraga tiap hari, atur makan, masih ga mempan.
.aingazima @123aingtehazima
@jiemiardian Gatau kenap setiap kali temenku pd ngomongin BB aku slalu pengen nangis tapi gabisa karena bnyak orang.Lalu aku ditanya ama mereka "ehh.. Lo beratnya berapa? Kok gamau ngurusin badan sih? Padahal kalo lo kurus pasti lo cantik" miris bgt aku ngliat tmn kyk gini. Gapnya Otak anjjg
Rahma Nindita Z. Soeraatmadja @nindysoe
@jiemiardian Baca thread ini jd keinget ada cewek periang yg akhirnya kena bulimia. Berdsrkan BMI, sbnrnya dia gak obes, cuma memang mendekati obes. Tp temen2nya bnyk yg suka manggil dia dlm bentuk apapun yg mengartikan 'gendut'.
Rahma Nindita Z. Soeraatmadja @nindysoe
@jiemiardian Tanpa sadar, dia terpacu ngurusin badan dan ngerasa bersalah tiap abis makan. Selesai makan, dia akan congkel mulutnya sampe muntah. Kalo gak muntah, dia tuang sabun atau sampo ke mulutnya biar dia bisa muntahin semua makanannya. Kasian dia. Selalu ngerasa cape tiap abis makan.
Rahma Nindita Z. Soeraatmadja @nindysoe
@jiemiardian Karena tau ada kejadian kyk gitu, bener2 gak berani lg aku ngomentarin badan org walaupun mksdnya bercanda. dia emang tetep ketawa, tapi hati dia gak bisa kita baca kan? Emg paling baik diam kalau susah menjaga kata, drpd merusak mental org. Kasian dia. Kasian mereka.
sapiganteng nan gondrong di sabana @abelsumanas
@nindysoe @jiemiardian Ada kenalan sy dia prnh endorse catering diet. Orgnya sama sekali gk obes dan dia blg "skrg aku mau coba makan sekali sehari", implikasi bhw dia menganggap dia msh merasa BB nya gk ideal. Mnrt sy apa yg dia posting tu jg pengaruhnya sm spt panggilan "gendut".
Load Remaining (7)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.