Chirpstory will close the service later this year. At the end of September, you will not be able to post stories or comments.

Kenyataan yang Menikam Sanubari: Ketika Ada Orang2 yang Membuat Dirinya Bahagia di Sosmed, Sebenarnya Ada Orang Lain yang Tidak Sebahagia di Sosmed

sosial media dipenuhi anonimitas
1
#TogetherInADistance @lumaktonian

@tahilalats Mungkin artikel saya bisa beri gambaran kesepian dalam keriuhan sosmed... kompasiana.com/girilu/5913f30…

25/12/2019 17:37:17 WIB
Mr.Marshall @EM3REZ

@tahilalats Yang membuatmu benar2 bahagia bukan media sosial. Tapi dirimu sendiri.

25/12/2019 17:38:06 WIB
Luwak Senior @KorbanMilenial

@tahilalats Ciri2 yg ingin terlihat bahagia Ava+status+foto tentang diri sendiri. Ciri2 yg tidak jelas bahagia Ava korea +status nol +foto ga ada + digembok. Masih online. Ciri2 yg mungkin bahagia. Aku yang seneng maidho diatas.

25/12/2019 17:47:59 WIB
Adhykusuma @ariefadhykusuma

@tahilalats Jitiin iring tidik minyidiri bihwi mimin bihigii iti sijitinyi diibidikin din disimpin intik diri sindiri tinpi pirli dibikin2 hinyi dimi dibigi intik pimir di midsis.. pic.twitter.com/GXrvR9Dqs2

25/12/2019 17:48:09 WIB

Media Sosial dan Kesepian Kita Berawal dari Penemu Facebook yang Introvert

Mark Zuckerberg, si penemu Facebook adalah seorang introvert. Ia belum punya banyak teman. Merasakan memiliki teman baik baginya adalah hal yang kurang sreg. Maka diciptakanlah Facebook walau pada awalnya FB adalah chat room untuk para alumni Harvard, lalu berkembang antarkampus, di Amerika Serikat, dan akhirnya seluruh dunia. Mark merasa dengan Facebook, semua orang kini bisa menjadi ekstrovert.

Kisah 'ke-introvertan' ini serupa dengan Larry Page (Google), Steve Wozniack (Apple), dan Bill Gates (Microsoft). Mereka sukses dengan kesendirian dan rasa minder mereka, bahkan saat ini memfasilitasi orang-orang dengan kepribadian ekstrovert melalui teknologi. Terutama dengan media sosial yang kini menjadi bagian dari artefak kebudayaan manusia modern. Media sosial kini menjadi medium mengumbar kepercayaan diri. Di sisi lain, ia juga sarana menyembunyikan kesepian kita.

Sebuah studi menemukan bahwa kita memang berinteraksi di socmed untuk mengekspos diri dan mencari pengalaman baru, dengan emosi yang terkontrol. Adanya interaksi sosial di sosmed memang paralel dengan jiwa sosial kita. Sosmed nyatanya membuka dan memperluas interaksi sosial kita, terutama bagi digital natives yang lahir dan hidup dengan teknologi. Bagi digital immigrant, hal ini teknologi menjadi kecakapan yang harus dipelajari.

Namun, faktanya, socmed kini dipenuhi dengan anonimitas. Seseorang bisa memilih mendeskripsikan pribadi asli di akun sosmed mereka, atau tidak. Mereka bisa memasang foto yang bukan dirinya, plus detail yang bisa dibuat-buat. Semua demi satu tujuan, yaitu bersembunyi dibalik akun sosmed. Kemungkinan ekstroversi bisa saja ada di balik anonimitas. Namun, layaknya bersembunyi, ada hal yang membuat seseorang enggan dan sungkan untuk diketahui.

Studi lain juga menunjukkan adanya kaitan neurotisisme dengan sosmed. Neurosis adalah perilaku seperti cemas, gugup, kesepian, bahkan depresi. Tingginya tingkat khawatir dan gugup juga dirangkum dari studi ini. Seseorang akan lebih cenderung gugup dan khawatir untuk tidak menengok notifikasi di HP mereka. Mungkin juga merasa takut ketinggalan isu aktual atau viral. Ataupun terlalu cemas foto yang diunggah di FB tidak ada yang like atau komentar.

Sebuah riset pada generasi milenial menemukan bahwa sosmed menimbulkan isolasi sosial dan kesehatan. Kehidupan modern dengan socmed nyatanya tidak membuat kita semakin sosial, namun kita menjadi terkotak-kotak. Pengalaman interaksi sosial di dunia nyata tidak bisa disimulasi di sosmed sehingga, ada disorientasi dari makna interaksi sosial itu sendiri.

Beberapa orang memilih Facebook lebih daripada Twitter misalnya. Karena di FB isinya banyak membenci pemerintahan, sedang Twitter tidak. Namun faktanya, preferensi ini tidak ditentukan kita sebagai user, namun lebih kepada algoritma trending topic dari lokasi, teman, hits status internet, Google search, dll.. Sebuah hal yang ditentukan oleh bot untuk muncul di halaman muka socmed kita. Apa pun itu, preferensi personal adalah ilusi yang diciptakan di sosmed.

Sehingga, secara psikologis juga kita akan lebih kesepian dengan socmed, baik dari intensi kita ingin berinteraksi sosial atau sebuah preferensi alter ego, kita tetap kesepian. Di dunia nyata mungkin kita dikelilingi riuh rendah teman, keluarga, dan sanak famili, namun mungkin kita akan lebih banyak menengok chat room atau sosmed yang kita punyai. Kadang tidak cukup satu sosmed, minimal dua akun kita punyai.

Kita akan selalu merasa kesepian di dunia maya. Dengan sosmed, kesepian itu kian ditekankan. Akankah benar adanya plesetan axioma gadget 'Mendekatkan yang jauh. Menjauhkan yang dekat'? Bisa saja suatu waktu. Untuk sementara, bayangan distopia generasi sosmed 'ekstrem' jelas digambarkan di film animasi Pixar, Wall-E.

Referensi: Corea, Willard & Gil de, 2010 | inc.com | telegraph.co.uk

sumber: kompasiana.com
artikel asli ditulis oleh:
Giri Lumakto
FOLLOW
Pegiat Literasi Digital
Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, dan Budaya | Awardee LPDP di University of Wollongong, Australia 2016 | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: girilumakto | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

kentangggg @iyaakukentanggg

@rahadianzu @tahilalats DULU AKU GINI 😭 UNINSTALL IG GARAGARA INSEKYUR SAMA RANGORANG IG YG CANTIK CANTIKK 😭😭 Dan setelah uninstall ig, ak ngerasa ademmmm bgtt njirrr 😭

25/12/2019 19:02:03 WIB
🦆 @rerechees

@ariefadhykusuma @tahilalats Jutaan orang tidak menyadari bahwa momen bahagia itu sejatinya dibidik dan disimpan untuk diri sendiri tanpa perlu dibikin bikin hanya demi dibagi untuk pamer di medsos

25/12/2019 19:04:02 WIB
Rio Pale @riopalee

@magribisaman @tahilalats Waduh bener banget pak. Di twitter semua orang jadi dirinya. 😂

25/12/2019 19:59:32 WIB

Comment

No comments yet. Write yours!