3
Gui Ernald @guiernald
DI SUDUT “Harus gelap sama sekali! Dalam beberapa saat matamu akan menyesuaikan. Terlentanglah di lantai. Tepukkan telapak tanganmu tiga kali ke bawah. Ke lantai. Tunggu sejenak, lalu berjongkoklah dan bungkukkan badanmu. Lihat di antara sesela kakimu.” @bacahorror #bacahorror pic.twitter.com/EWHMp3L7m4
Expand pic
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror Sebuah cangkir berisikan teh lemon diletakkan di meja. Berikutnya tabung V60 Aceh Gayo dan sebuah gelas kaca bening. Disusul sebuah gelas besar berisi air putih. Sebuah kertas tipis diletakkan di atas gelas air putih itu, supaya airnya tidak terkena debu.
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror “Ada lagi. Mbak?” Pria berseragam hitam berlogo kedai 5th coffe itu tersenyum tidak terpaksa. Gadis itu menggeleng dan mengucapkan terima kasih. (OK sampai di sini aku lagi-lagi kudu bilang, bahwa semua tokoh dan tempat disamarkan. Yang bercerita kepadaku adalah gadis ini dan
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror aku mendapatkan beberapa tambahan sumber dari beberapa orang yang nanti mengetahui peristiwanya maupun yang mengetahui lokasinya) “Snack mungkin? Ada French fries, mendoan, singkong keju, pisang bakar?” Gadis itu menyangka senyatanya pria itu lebih ingin berlama-lama di mejanya
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror daripada benar-benar menawarkan menu. Dia menunjuk buku menu yang masih ada di atas meja dengan telunjuk kanannya, sambil terkikik kecil “Saya udah minta menunya ditinggal di sini kok tadi. Jadi kalau mau pesen lagi saya panggil masnya nanti ya.” “Siap!” Masih dalam senyuman
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror serupa pria itu menggamit nampan aluminium itu di dadanya, lalu menampakkan dirinya hendak berbalik ke meja barista. Namun baru dua langkah pria itu berbalik kepadanya, “Ini sendirian?” Gadis itu tertawa, “Iya… but… come on! What is it about, actually?”
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror (Serius! Ini ada apa sebenarnya?) Pria itu menyungging senyum malu-malu, lalu tiba-tiba mencomot kursi sebelah sang gadis, mendudukinya, Meletakkan nampannya di atas meja, “Saya tadi taruhan sama teman saya barista lain itu…” Sang gadis melihat pria yang dimaksud, pria seusia
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror dengan yang ada di depannya ini. Pria itu sedang mengelap coffee bar, sambil cengar-cengir geli. Mengetahui bahwa sang gadis melihatnya, kawan barista itu membuang muka sambil tetap cengengesan. Mengelap sisi meja yang lain. “… saya harus bisa dapat nomor Mbaknya.!”
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror Gadis itu membuka rahangnya dan menggeleng-geleng, “What!” Pria itu menampakkan wajah bersungguh-sungguh, “Usaha, Mbak. Usaha….” “Im not that kinda girl, you know! (Aku bukan cewek macam itu). Mungkin masnya pikir apa yang mas lakukan itu lucu-lucuan, tapi enggak banget.”
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror Dia mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan selingkar cincin di sana, “Im engaged (aku udah tunangan).” Dia menampakkan wajah serius. Pria itu menjadi nampak bersalah. Tapi tak selang beberapa detik, sang gadis tersenyum kembali dan tertawanya, “Sorry! Sorry! Aku kebawa terlalu
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror serius juga.” Gadis itu masih meneruskan tertawanya. “Mas, kalau mau kenalan sama cewek tuh hari ini ada Instagram, Tinder. Cantik-cantik tuh. Banyak. Mau model apa pun juga ada. But you cant do this to any girl, you know. Put some respect and you will get it back. (Tapi kamu
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror gak bisa ngelakuin barusan ke sembarang cewek. Respeklah dan kamu bakal juga dihargai). Tapi sorry, hariku hari ini juga agak berat, jadinya aku agak gak bisa guyonan juga. Biasanya aku juga nganggep perkara gini ini enteng. Tapi kebawa masalah tadi siang jadinya uring-uringan.”
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror Gadis itu tertawa, “Sorry too much information, ya (Sorry, banyak omong, ya)” Pria itu menundukkan kepalanya, “Maaf, Mbak! Gak bermaksud gak menghargai juga. Becandanya kami kelewatan.” “No! No! No! Take it easy! Aku juga yang terlalu serius. Kenalan aja ya…” Ella tersenyum
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror mengulurkan tangannya, “Aku Ella.” Dan pria itu membalas uluran tangan Ella dan menjabatnya, menyebutkan namanya. Dia bangkit dari kursi, memajukannya kembali ke bibir meja. Dan bersiap pergi. Ella memanggilnya, “Mas, bentar!” Dia membuka tasnya dan mengambil kertas yang
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror menutupi gelas air putih di depannya. Dia membuka handphonenya, menggeser layarnya beberapa kali. Lalu menuliskan sebaris nomor di sana. Ella memberikan nomor itu kepada sang pria. Pria itu menerimanya dengan sumringah sambil melirik kepada teman baristanya yang nampak mengumpat
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror ikut kegirangan. “Itu nomor toko papa saya. BM di Jalan GM. Toko bangunan itu, tahu kan? Kalau masnya butuh semen, kayu, atau sekalian paku buat nyantet orang bisa hubungi nomor itu.” Suara Ella jelas cukup keras, karena teman barista di coffee bar tertawa ngakak. Ella
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror tertawa keras juga, “Nanti tak bilangin sama papa, kalau yang beli masnya biar dikasih potongan!” Ella ngakak. Pria itu akhirnya ikut tertawa juga. Mukanya merah padam, tertawa dan malu sekaligus. “Minta nomor anaknya dikasih bapaknya.” Dia melanjutkan, “Ya selama janur kuning
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror belum melengkung ya, Mbak. Siapa tahu jadi mertua.” Ella terpingkal semakin keras. Mengangguk-anggukkan kepalanya dengan keras sambil memegang perutnya. “Makasih, calon istri...” Sambung sang pria, lalu melihat nomor yang ada di kertas itu, “Salam kenal, mertua.”
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror Dia mengangguk kepada Ella. Ella masih tertawa, begitu juga dengan teman barista. Ella mendegar kawan barista itu menggoblok-goblokkan kawannya itu. Ella mengganggukkan kepalanya kepada mereka berdua. Berusaha untuk berhenti tertawa. Dia mengambil cangkir yang berisi teh lemon.
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror Menyesapnya sedikit. Dia mengambil tisu, tertawa itu membuatnya sampai berkeringat. Dia menggeser tabung V60, gelas kaca dan gelas air putih ke depannya. Minuman itu memang bukan untuknya. Dia tidak biasa minum kopi. Jantungnya akan berdebar-debar. Ketika itu sebuah motor
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror diparkir di depan kafe. Ella hapal bunyinya. Seorang pria muda membawa tas ransel dengan rambut acak-acakan masuk. Duduk di kursi di depan V60 itu. Lalu meminum air putihnya. Pria yang baru datang itu mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Ella tersenyum nakal, dia mengangkat
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror tangannya dan menatap sejenak kepada barista yang tadi menggodanya. Dia menekuk jari-jarinya, kecuali jari manis di mana cincinnya berada. Memuntir-puntir cincin itu sejenak. Lalu meletakkan kembali tangannya di meja. Ella bisa mendengar pria itu dan kawannya mengumpat-umpat
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror sambil tertawa. Lalu si pria barista itu mengatakan dengan keras, “Kena sliding sodara-sodara!” Suaranya cukup keras hingga membuat beberapa pengunjung kafe melihatnya. Beberapa orang yang melihat adegan Ella bersamanya ikut tertawa. Demikian juga tiga waiter yang duduk di meja
Gui Ernald @guiernald
@bacahorror tersendiri di ujung kafe. Tetapi pria yang baru datang menatap pria itu dengan bingung dan menghadap kepada Ella. “Kenapa?” Tanya Tio, si pria yang barusan datang. Ella menggeleng, “Gak apa-apa.” Cincin yang dikenakan di jari manis itu jelas bukan cincin dari Tio. Mereka
Load Remaining (383)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.