1
Cania Citta @Cittairlanie
Waah makasih ibu Dwi jurnal-jurnalnya, menarik sekali untuk dibaca ☺️ Mohon izin, saya ikut baca juga & sharing pembacaan saya di sini🙏🏻 twitter.com/estiningsihdwi…
Cania Citta @Cittairlanie
Jurnal pertama, ini saya lampirkan executive summary-nya. Jadi, ini merupakan laporan tentang ketidakadilan (injustice) terhadap LGBT dalam berbagai aspek; akses pd rumah layak, pekerjaan layak, pendidikan, layanan kesehatan, dll. Laporan lengkapnya: transequality.org/sites/default/… pic.twitter.com/4U41rjvQEz
Expand pic
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Saya cari angka 93,8% di dalam laporan tersebut tidak ada, dan laporan tersebut sama sekali tidak mengulas mengenai gangguan kepribadian dll sebagaimana yang bu Dwi paparkan di tweet. pic.twitter.com/3Be6uYaDvP
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa LGBT: 1. Berpeluang tinggi utk mengalami pelecehan di tempat kerja, sekolah, tempat praktik dokter, & di jalan raya 2. Lebih sering dipecat, diusir, tidak dapat layanan kesehatan, hidup dalam kemiskinan ekstrem, & dibully di sekolah pic.twitter.com/jW2rNBLGWA
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Kembali ke angka 93,8% tadi, bu Dwi akhirnya membuat tweet baru dengan jurnal berbeda. Kita bisa baca di abstraknya, kesimpulan dari penelitian tsb adalah personality disorders itu marak terjadi pd pasien LGBT yg mengalami masalah ketergantungan kimiawi. pic.twitter.com/p6cDfwDfGs
Expand pic
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Jadi, penelitian ini bukan bicara mengenai LGBT pada umumnya, melainkan secara khusus LGBT (sebagai pasien medis) yang mengalami ketergantungan pada bahan kimia tertentu (substance use disorders). pic.twitter.com/G1RYtXRa66
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Lanjut ke bacaan kedua. Di sini, peneliti justru mendapati temuan yg membantah dugaan awal: 1. Frekuensi mental disorder&suicidal di kalangan mudamudi LGBT urban bisa dianggap setara dgn kalangan mudamudi heteroseksual urban 2. Frekuensi pd biseksual = atau < lesbian & gay. pic.twitter.com/Z8gnBCSBYZ
Expand pic
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Tapi, peneliti tetap merekomendasikan perhatian khusus thd LGBT youths. Peneliti menyampaikan: temuan dari penelitian2 seputar kesehatan mental LGBT sebelumnya mungkin tdk lagi tepat dlm menggambarkan kondisi saat ini, krn ada perubahan & penerimaan sosial yg lbh baik thd LGBT. pic.twitter.com/srXLQ1jt89
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Lanjut ke bacaan ketiga. Betul bahwa 59% dari LGBT yg menjadi responden penelitian melaporkan pernah mengalami episode depresi & 22% pernah mengalami percobaan bunuh diri. pic.twitter.com/TStJ5NSxzE
Expand pic
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
However, data tsb gak berdiri sendiri di dalam penelitian. Ini data lainnya: 1. 7,2% melaporkan pernah mengalami pelecehan fisik atau penyerangan dari keluarga 2. 55,5% melaporkan pernah mengalami pelecehan di perjalanan dari/ke sekolah karena identitas seksual/gendernya pic.twitter.com/6p6kQhWeLy
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
3. 38,5% melaporkan pernah mengalami keterlantaran (homelessness) Kemudian, data berikutnya ttg keterbukaan responden mengenai identitas seksual/gender mereka: 1. 47,9% sangat terbuka 2. 33,2% cukup terbuka 3. 10,2% agak terbuka 4. 8,7% hampir gak terbuka/gak terbuka sama sekali pic.twitter.com/tdKjw3rwPj
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Di akhir penelitian, peneliti menarik kesimpulan bahwa: 1. Perlu lebih banyak studi ttg NSSI (non-suicidal self-injury) & identitas minoritas seksual/gender pd orang muda & dewasa muda 2. NSSI tampaknya lebih umum terjadi pd yg mengubah gender (trans) dibanding tdk pic.twitter.com/2dHD2RZ46q
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
3. Semakin terbuka seseorang soal identitas seksual/gendernya, semakin cenderung melakukan cutting behavior (tindakan menyakiti diri sendiri) 4. Peneliti merekomendasikan hasil studi ini dilihat sbg tanda bahwa minoritas seksual/gender msh hidup dlm lingkungan sosial yg berbahaya pic.twitter.com/upI3DxZ4Ys
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
5. Peneliti juga merekomendasikan agar temuan penelitiannya dapat mendorong orang dewasa (guru, pekerja, konselor, dll) utk menciptakan lingkungan sosial yg aman bagi mudamudi minoritas seksual/gender, agar mereka gak lagi melakukan tindakan menyakiti diri sendiri (NSSI). pic.twitter.com/LtVNDwJ4FU
Expand pic
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Lanjut lagi bacaan keempat. Ini saya lampirkan abstraknya ya. Ada beberapa poin yang bisa diambil: 1. Dari judulnya, peneliti hendak mengamati perbedaan kesehatan seksual pd LGB vs heteroseksual 2. Peneliti menelaah faktor2 yg mendorong adanya perbedaan kesehatan seksual pd LGB pic.twitter.com/KJbyrXeLrX
Expand pic
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan biseksual & laki2 bi/homoseksual lebih banyak mengalami koersi seksual (pemaksaan seksual); mereka juga punya kebutuhan akan layanan kesehatan seksual yg lebih tinggi dibandingkan heteroseksual
Cania Citta @Cittairlanie
4. Faktor yg berpengaruh terhadap kesehatan seksual LGB terbagi dua: (a) faktor general (jumlah pasangan seksual) & (b) faktor LGB-spesifik (homonegativity & reaksi sosial negatif thd orientasi seksual mereka)
Cania Citta @Cittairlanie
Internalized homonegativity maksudnya persepsi/perasaan/emosi negatif terhadap homoseksualitas yg tertanam di dalam diri LGB karena tumbuh dalam masyarakat yg menanamkan nilai2 tsb. Hal ini berpengaruh thd kondisi kesehatan seksual LGB, termasuk memicu disfungsi seksual. pic.twitter.com/XFToE5883t
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Faktor lainnya yang juga berpengaruh adalah adanya reaksi sosial negatif terhadap ketertarikan sesama jenis (homoseksualitas). pic.twitter.com/nrKtPycWJc
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Di bagian akhir laporan penelitian, peneliti menekankan bahwa dengan adanya penjelasan mengenai faktor LGB-spesifik thd kesehatan seksual LGB, usaha2 mengurangi masalah pd kesehatan seksual LGB harus merespons kedua faktor; general & LGB-spesifik (gak bisa hanya yg general aja). pic.twitter.com/5D4KxlkZJc
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Faktor general di sini, sebagaimana dijelaskan oleh peneliti, adalah faktor2 yg juga berpengaruh pd kesehatan seksual non-LGB (heteroseksual), yakni: status pasangan (apakah tetap/berkomitmen/bebas berganti/dll) & jumlah pasangan seksual selama hidup. pic.twitter.com/RvZ6o1bYmQ
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Lanjut lagi nih kita baca referensi ilmiah kelima dari bu Dwi. Betul bahwa angka penggunaan AOD (alcohol&other drugs/alkohol&obat2an) lebih tinggi pd orang muda LGBT drpd populasi orang muda umum. pic.twitter.com/HxqiYyiJOd
Expand pic
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Dalam penelitian ditemukan bahwa angka penggunaan AOD yg tinggi pd LGBT itu dipengaruhi oleh persepsi soal AOD yg berkembang di tengah orang muda LGBT berbeda dgn orang muda umum. Sehingga, peneliti merekomendasikan agar penanganan AOD pd LGBT memperhatikan faktor persepsi ini. pic.twitter.com/FCv6EB6QiB
Expand pic
Cania Citta @Cittairlanie
Selain itu, faktor yg berpengaruh juga adalah pengalaman mereka terhadap homofobia yg berkembang di masyarakat.
Cania Citta @Cittairlanie
Lanjut lagi, semoga masih betah nih baca bareng 😃 Referensi keenam. Nah, ini penelitian paling menarik menurut saya, karena penelitian ini melihat bagaimana cara laki2 bi/homoseksual cope dengan status HIV positif (menghadapi hidup dengan kondisi HIV positif). pic.twitter.com/pWurj3kxmY
Expand pic
Load Remaining (22)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.