0
bilven @sandalista1789
Kita hadirkan Pancasila melalui olahraga, musik, dan film. Tidak masalah kita lupakan Sudharnoto pencipta lagu Garuda Pancasila yg jd tahanan politik 65 krn anggota LEKRA. Tidak apa-apa. Kisah Menyedihkan Soedharnoto, Sang Penggubah Lagu Garuda Pancasila suratkabar.id/17773/news/kis…

Tentunya tidak banyak orang yang akan langsung mengenal jika ditanya mengenak satu lagu nasional Indonesia berjudul “Mars Pancasila.” Akan tetapi lain halnya jika judul tersebut adalah “Garuda Pancasila.”

Tahukah Anda bahwa sebenarnya lagu Mars Pancasila dan lagu Garuda Pancasila adalah sama. Lantas siapa pengubahnya? Pengganti lagu Mars Pancasila adalah salah seorang anggota Lekra yang bernama Soedharnoto.

Tidak banyak rekam jejak informasi terkait Soedharnoto, akan tetapi diketahui bahwa pria kelahiran Kendal, Jawa Tengah, pada tanggal 24 Oktober 1925 ini adalah seorang komponis dan ilustrator di dunia perfilman.

Sebelum melakukan gubahan lagu Mars Pancasila di tahun 1956, Soedharnoto pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Kedokteran, Universitas Indonesia, walaupun hanya sampai tingkat 2 saja.

Terlahir dari seorang ibu yang mahir memainkan alat musik akordeon, Soedharnoto akhirnya menemukan passionnya, yaitu di bidang seni, khususnya seni musik. Dia gemar bermain gitar, suling dan piawai dalam memainkan biola.

Bakat musiknya semakin terpupuk saat dia belajar ke sejumlah seniman lain, seperti Jos Cleber, Daljono, Soetedjo, dan R.A.J. Soedjasmin. Dia juga ikut bergabung dengan Orkes hawaiian Indonesia Muda pimpinan Maladi.

Dia juga sempat menjadi pengasuh salah satu acara di Radio Rakyat Indonesia (RRI) di Sala yang kemudian pindah ke kantor pusatnya di Jakarta pada tahun 1952. Dia juga pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Musik dan pengisi acara tetap di Hammond Organ Sudharnoto.

“Mengisi acara siaran RRI Sala. Sejak 1952, Sudharnoto bekerja di RRI Jakarta, dan menjadi pengisi acara tetap Hammond Organ Sudharnoto,” ungkap Tjahjono Rahardjo, seorang peminat sejarah asal Kota Semarang, Jawa Tengah, seperti yang dikutip dari Liputan6 (12/5/2016).

Tidak hanya itu saja, bersama dengan para seniman RRI lainnya, seperti Titi Soebroto K Atmojo dan Bintang Suradi, Soedharnoto kemudian mendirikan Ansambel Gembira yang kemudian dikenal sebagai kelompok penyanyi di Istana Negara.

Dari sepak terjangnya di dunia musik ini, pada era pemerintahan mantan Presiden Soekarno, Soedharnoto masuk dalam jajaran komponis besar di Tanah Air.

“Di Gembira, Mas Dharnoto (pianis) kerap duet dengan Idris Sardi (violin). Idris Sardi itu anggota Gembira. Dulu, dia sering pakai celana pendek,” jelas Tuti, seperti yang dilansir Jawa Pos (10/8/2016).

Dikarenakan minatnya terhadap musik sangat besar, dia bergabung dengan Lembaga Kesenian Rakyat atau Lekra. Sayangnya, pada saat Orde Baru di bawah kepemimpinan mantan Presiden Soeharto berkuasa, Lekra dianggap sebagai underbow atau antek dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dianggap terlarang oleh pemerintah Indonesia.

Memang sampai sekarang masih menjadi satu tanda tanya besar kenapa Lekra dianggap sebagai antek PKI karena Njoto yang menjadi seorang penggagasnya menolak bahwa Lekra adalah underbow PKI, walaupun Njoto sendiri adalah salah satu pembesar PKI di zaman tersebut.

Dikarenakan tidak mau memasukkan Lekra dalam payung PKI, akhirnya muncul ketidakharmonisan antara Ketua CC PKI Dipa Nusantara (DN) Aidit dengan Njoto yang waktu itu menjabat sebagai Wakil ketua CC PKI.

Setelah Orde Baru berkuasa dan meletuskan gerakan yang dinamakan G30S/PKI serta penangkapan serta pembunuhan orang-orang yang dianggap sebagai anggota atau simpatisan PKI, Soedharnoto menjadi salah satu dari banyaknya seniman Indonesia yang ikut ditangkap pemerintah dan menjadi tahanan politik di Lapas Salemba.

Beruntung saja, nasibnya tidak seburuk dengan beberapa seniman dan budayawan Lekra lain, khususnya yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur, seperti salah satunya adalah M Arif yang menjadi pencipta lagu “Genjer-genjer.” Hingga kini, pencipta lagu yang dituding sebagai ‘lagu mars PKI’ itu tidak diketahui keberadaan dan nasibnya setelah diadakan pembersihan massal di seluruh Indonesia terhadap para anggota PKI pada tahun 1965-an.

Uniknya, walaupun dianggap sebagai pengkhianat negara karena tergabung dalam Lekra yang dituding sebagai underbow PKI serta menjadi tapol, namun lagu gubangan Soedharnoto justru digunakan sebagai salah satu lagu kebangsaan Indonesia oleh pemerintah.

Dalam gubahannya tersebut, setiap liriknya tidak mencerminkan sisi perjuangan para pahlawan, melainkan menggambarkan rasa semangat, pantang menyerah dan rasa cinta terhadap bangsa.

Setelah bebas dari Lapas Salemba, Soedharnoto yang secara resmi sudah tidak lagi bekerja di RRI akhirnya bekerja secara serabutan, mulai dari menjadi penyalut es balok Petojo, Jakarta sampai dengan menekuni profesi sebagai sopir taksi serta supir Bank Indonesia.

“Lepas dari tahanan, Sudharnoto menjadi penyalur es Petojo, Jakarta. Pada tahun 1969, ia beralih profesi menjadi sopir taksi sambil nyambi menjadi pemain organ di restoran LCC dan kemudian Shangrilla,” kata Tjahjono.

Setelah masa revolusi berakhir, Soedharnoto kembali berkumpul dengan para musisi mantan Ansambel Gembira dan sempat membuat lagu berjudul “Rukun Gembira Sepanjang Masa” pada tahun 1990-an.

Menapaki masa tuanya, Soedharnoto tidak memiliki banyak aktivitas lain dan karena sangat hormat kepada para penyair terkenal Indonesia, Ismail Marzuki serta Chairil Anwar, Soedharnoto mengurus dan merawat sendri makam dari kedua tokoh besar Tanah Air itu.

Bahkan dia juga mengupayakan untuk kesejahteraan hidup anak angkat Ismail Marzuki bernama Mamik dengan cara mengupayakan sebuah kios untuk berdagang. Sayangnya, sebelum keinginannya itu terlaksana, Soedharnoto harus berpulang ke hadirat ilahi.

“Ismail Marzuki tidak punya anak. Istrinya mengangkat anak. Si Rahmi. Dipanggilnya Mamik. Dia jual nasi uduk di daerah Pamulang. Waktu itu Mas Dharnoto mau mengusahakan satu kios untuk Rahmi. Namanya Kedai Selendang Sutra. Tapi, saat diurus, Mas Dharnoto keburu meninggal. Kiosnya nggak jadi. Aku sendiri nggak ngerti musti ngurus sama siapa,” jelas Tuti Martoyo.

Sampai akhir hayatnya, ‘kenang-kenangan’ Soedharnoto untuk bangsa ini tidak mendapatkan banyak royalti atau perhatian dari pemerintah Indonesia.

sumber:
suratkabar.id

GingerDrinker @diazaurus008
@sandalista1789 Besok aku mau bikin band. Nama band-nya.. Pancasila :)
CT @hrspydh
@sandalista1789 Kita hadirkan Pancasila melalui olahraga, musik, dan film. Tidak masalah kita nebeng sama PSSI yang prestasinya dibawah kata hancur. Lirik lagu, hari ini pasti menang sedangkan kenyataannya selalu kalah, dapat menjangkau generasi muda. Tidak apa-apa. Demi nilai-nilai Pancasila.
MA🆖GALÅ @raden4ria_
@sandalista1789 Kita melihat yg riil aja bhwa olahraga sepak bola keok mulu
bilven @sandalista1789
@raden4ria_ Semua olahraga kita keok, kecuali langkah catur Jokowi!

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.