1
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Fitur Topic di Twitter. Buat yang sudah update Twitter, di pilihan menunya pasti muncul label "Topic". Kalau diklik nanti muncul penjelasan singkatnya. Tapi, apa hal buruk yang akan terjadi pada kita terhadap berlakunya fitur ini? (A Thread)
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Sebelumnya, cara kerja Topic ini gimana, sih? Kalau di Instagram, kita bisa ngefollow tagar, kan? Lalu kalau ada postingan yang pakai tagar itu maka akan muncul di TL kita walau kita gak follow akun itu. Cara kerja ini fair menurutku, karena kita sengaja follow tagar itu.
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Tapi di Twitter nggak gitu mainnya. Twitter akan membaca aktivitas kita lalu menyusun topiknya berdasarkan aktivitas itu. Nantinya, di timeline kita secara otomatis akan muncul konten-konten yang menyinggung soal topik itu. Penasaran nggak apa yang Twitter rekam dari akun kita?
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Caranya, buka Topic - - > Twitter Data - - > Interest - - > lalu cek aja Interest Twitter atau Interest Partner. Ketika kubuka punyaku hasilnya cukup menyebalkan. Hahaha.
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Hanya karena aku lihat TT soal Tara Basro lalu aku ngikutin twit orang-orang soal Tara Basro, tiba-tiba kata kunci Tara Basro jadi salah satu topikku. Wajar saja jika akun berita yang kufollow lagi nyebar tulisan, yang muncul di TL-ku bukan soal Ade Armando tapi Tara Basro.
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Dalam catatan topik yang dikumpulkan Twitter itu sebenarnya bisa kita pilih mana yang relevan dan mana yang enggak. Tapi buanyaaak. Hahaha. Nah, sekarang bahas soal dampaknya pada aktivitas bertwitter kita.
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Dampak yang paling kelihatan dari ini adalah berlakunya efek Echo Chamber. Lewat echo chamber ini, kita akan terus mengonsumsi informasi yang itu-itu aja.
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Michael Stefanone, profesor di Departemen Komunikasi University of Buffalo berpendapat bahwa tujuan dari media sosial adalah mengumpulkan orang-orang yang sepemikiran. Jangankan merayakan kebebasan informasi, Twitter malah mempersempit pandangan kita. vice.com/en_us/article/…
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Lantas apa yang gawat dari hal ini? Twitter bisa jadi tempat nyaman untuk merawat hoaks, mengentalkan fanatisme, hingga radikalisme. Simak video berikut untuk tau lebih jauh bagaimana echo chamber bekerja. youtu.be/RwCjlP0fCvw
Expand pic
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Misalnya, topikmu adalah anti-feminisme. Twitter akan mempertemukanmu dengan informasi atau akun-akun lain yang juga anti-feminisme. Karena sudut pandang itu mulu yang kamu konsumsi tiap hari, kamu jadi yakin kalau feminisme adalah salah.
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Mungkin sesekali, konten yang berseberangan dengan ideologimu akan muncul di TL. Tapi karena merasa konten kayak gitu "jarang" ada dan dianggap salah, kamu pun tergelitik untuk mencibir atau malah menyesat-nyesatkan.
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Jiia kita suka dengan topik yang itu-itu aja, kita bisa dengan mudah termakan hoaks, lho. Sebab, Twitter hanya menyaring topik saja, sementara itu informasi bisa diproduksi oleh siapa saja, bahkan akun anonim sekalipun.
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Minimnya konsekuensi pada anonimitas membuat individu di twitter berperilaku lebih berani, kasar, blak-blakan, bahkan ngawur. Apalagi kalau yang kayak gini justru dapat banyak dukungan gara-gara efek echo chamber. Makin giat dong bikin iklim tak sehat di media sosial.
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Mau nutup twit ini terus baca yang atas-atas baru nyadar ternyata aku kecampur-campur antara echo chamber dan filter bubble. Taee... pic.twitter.com/a2yHHzxdPH
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Gampangnya gini deh. Kalau kita teriak-teriak di dalam gua, kita pasti dengar gema suara kita sendiri, kan? Nah, fenomena itu kalau di era internet seperti ini dikenal dengan istilah echo chamber.
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Fenomena itu dibantu oleh algoritma internet dengan mereduksi informasi berdasarkan kecocokan, relevansi, dan preferensi. Nah, ini yang bisa kita sebut sebagai filter bubble.
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Dengan kombo echo chamber dan filter bubble itulah kita makin mantap berada di dalam tempurung informasi. Padahal seolah-olah kita sedang menikmati keterbukaan informasi. Kayak makan meses warna-warni padahal rasanya sama kayak yang coklat. Ironi. pic.twitter.com/2SBqj5YASj
Ilham Bachtiar @hamtiar_
Meski kita berjejaring secara global, tapi apakah kita benar-benar sudah beranjak dari bubble kita masing-masing? Selamat malam. pic.twitter.com/cZhINgX7PW
Expand pic

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.