5
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
75% yg dijual. Kepada siapa? Belum ada info. Kemungkinan konsorsium Grab Tokopedia dan Softbank. Team ini akan gabungkan Ovo dg Dana. Plot twist : Gopay gabung dg LinkAja. Kita lihat saja siapa yg akan gugur dlm perang berdarah-darah ini. Bisnis itu kejam, Fergusso. pic.twitter.com/Ne0RDoPO4v
Expand pic
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
Tiap bulan mungkin Ovo harus bakar uang Rp 100an milyar. Gilak. Ya gak kuatlah Lippo. Knp? Sebab Lippo bukan start up. Dia bisnis yg sdh mapan. Gila kalau mau bakar uang segitu. Bisnis mapan pakai itungan yg rasional.
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
Gopay juga pasti berdarah2. Belum tau sampai kapan mrka bisa survive. Saat ini digital payment baru fase dapatkan pelanggan sebanyak2nya. Pakai cashback gila2an. Idenya : kelak kalau pelanggan sdh masif, bisa kenakan fee tiap transaksi. Tapi kapan bisa mulai kenakan fee?
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
Bisnis digital payment ini prinsipnya winner takes all. Maka saat sekarang harus berjuang all out buat menang. Bakar uang tanpa batas demi jadi winner. Grab mungkin yg akan menang sebab dukungan dananya unlimited.
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
Jangan lupa : pesaing kuat adalah juga mobile banking. Mobile banking yg bagus akan bikin orang belum merasa perlu pakai gopay dkk. Adoption rate digital payment agak tersendat krn penetrasi mobile banking jg sdh luas.
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
Saat ini mayoritas orang yg beli barang atau bayar aneka biaya (top up pulsa, bayar listrik dll) secara online, masih pake mobile banking. Bahkan bnyk yg masih manual transfer via atm. Kalau pake mobile banking sdh nyaman, knp harus pindah pake digital payment.
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
Tantangan lain digital payment : keamanan uangnya. Tempo hari ada sejumlah kasus users gopay saldonya hilang dibobol cracker. Ini krn jg user kurang waspada. Rentan ditipu cracker. Isu keamanan ini jg bisa hambat adoption rate digital payment.
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
Btw sejumlah survey ttg consumer behavior menunjukkan : menggunakan digital payment akan cenderung bikin kamu lebih boros belanja. Knp begitu? Sebab proses membayar terasa mudah dan frictionless. Tap tap. Done. Tap tap done. Baru sadar uangnya habis setelah saldo nol.
Murid Gadungan @Anditeman_
@Strategi_Bisnis Dengan pergi ke ATM Kita dikasih waktu untuk mikir 2x apa perlu belanja saat ini.
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
Benar. Studi2 ttg human behavior tunjukkan saat anda perlu lakukan langkah ekstra to pay, anda jd terdorong lbh hemat. Gopay/Ovo meniadakan keribetan itu. Makanya kita jd cenderung lbh boros krn very easy to pay. Inilah paradoks digital payment. Memudahkan tp bikin boros. twitter.com/Anditeman_/sta…
Yanto Apriyanto @Apriyanto5yanto
@Strategi_Bisnis Boros itu pilihan. Ga soal mau ada ovo gopay atau tidak. Ini kan hanya soal kemudahan. Banyak kok yg punya ovo gopay tetap konsisten dlm pengeluaran.
Kiwi @ikiwpedia
@Strategi_Bisnis Ini soal komitmen sama diri sendiri sih, tujuannya cuma biar cashless dan duitnya jelas arahnya kemana karena ada jejak digital nya. Biar gak boros, top up kalo pas mau belanja doang ga sampe naro duit seluruhnya di gopay. Kuncinya ada di budgeting sih *kalo gue
Andrian Budiargo @andrianririargo
@Strategi_Bisnis Kemalasan adalah hal utama yg manusia eliminasi, dan teknologi hadir untuk provide itu. Gak bisa dipungkiri sih makin mudah makin seneng dong, eh sampe lupa saldo tabungan udah tipis 😭😭
Edo @prbwedo
@Strategi_Bisnis saya boros utk perputaran ekonomi 😛
Ahmad Zulianto @zuliantahmad
@Strategi_Bisnis adanya cashback, voucher dan sebagainya. untuk mendapatkan cashback harus via digital payment. sebenarnya bukan kebutuhan yang mendesak. tapi mau apa dikata, banyak yg berpikir kalo ga sekarang kapan lagi. mumpung ada potongan. ini lah yg buat boros
Ramdhani Zulkarnain @ramzulkarnain
@Strategi_Bisnis Gw masih suka cara konvensional dalam berbelanja untuk belanja d atas 1jt .. karna emg iya, ketika belanja dgn uang cash, berasa banget mikir"nya 😁
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
Sudah pernah ada studi ilmiah ttg ini. Hasil risetnya : saat keluarkan uang fisik, rasa bersalah seseorang lbh gede drpd keluarkan uang digital. Emotional attachment kita uang fisik lbh kuat drpd sama uang digital. Penelitinya sarankan : so uninstall e-wallet 😍 twitter.com/ramzulkarnain/…
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
Penelitinya bilang : itulah paradoks digital wallet. Bikin mudah melakulan proses pembayaran. Tapi diam2 bikin kita terlalu mudah keluarkan uang krn prosesnya so easy and simple.
Piaman Galir @T4X00L
@ramzulkarnain @Strategi_Bisnis Saya mau pake debit cc e wallet selalu nge limit pengeluaran. Pelit adalah jalan ninjaku
Deni Musafah @Denimusafah
@Apriyanto5yanto @Strategi_Bisnis Iya bangett.. kembali ke komitmen tiap orang sih ujungnya
Sycen Liong @sycen
@Strategi_Bisnis Kurang setuju. Soalnya uang tunai tidak ada promo cashback, yg tidak jarang justru bikin lebih hemat pakai non tunai. Kalau ttg belanja berlebihan, itu sih kontrol diri masing-masing aja
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
Studi menunjukkan saat membayar dg uang fisik, anda mengalami apa yg disebut dg "psychological pain". Ada rasa bersalah krn mengeluarkan uang dari dompet saat membayar. Ikatan emosional kita dg uang fisik lbh kuat krn bentuknya nyata (tangible).
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
Saat membayar dg e-wallet, maka pain of paying terasa lebih sedikit. Less painful. Kenapa less painful? Krn uangnya gak kelihatan. Intangible. Sensasi fisik keluarin uang dari dompet gak ada. Krn itulah, orang jd cenderung lebih boros saat gunakan e-wallet.
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
Selain krn less painful, maka aspek lain yg bikin boros pakai e-wallet adalah krn amat mudah dipake. Easy dan tidak ribet. Tap tap done. So simple. Ternyata kemudahan tak selamanya bagus. Sebab ini bikin kita terlalu mudah pesan gofood dan bayar via gopay. Tap tap done.
Load Remaining (11)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.