0

Dua Fussballvereine Jerman, Borussia Dortmund dan Bayern Muenchen, bertanding melawan satu sama lain di Wembley Stadium pada 25 Mei 2013. Sebuah ironi mengingat Wembley adalah stadion kebanggaan Inggris – negara yang dengan bangga menyebut diri mereka sebagai tempat kelahiran sepakbola – dan Jerman (di level tim nasional) adalah juga musuh bebuyutan Inggris.

Deutscher Fussball-Bund (DFB, federasi sepakbola Jerman) dengan bangga mengagung-agungkan fakta bahwa 26 pemain yang didaftarkan oleh Dortmund dan Bayern di Liga Champions musim 2012/13 adalah para pemain asli Jerman; para pemain yang lahir, besar, dan mendapatkan pendidikan sepakbola di Jerman.

Bayangkan perasaan rakyat Inggris yang harus menerima fakta bahwa dua kesebelasan Jerman bermain di stadion kebangaan mereka – di final Eropa, dengan banyak pemain lokal – sementara kesebelasan-kesebelasan Inggris lebih menyukai para pemain asing. Dan kecenderungan itu tak membawa klub Premier League manapun ke final tahun itu. Terdengar menyakitkan, memang. Namun bukan yang paling menyakitkan.

Masyarakat Inggris menghadapi kenyataan yang lebih pahit setahun berselang. Belum pernah ada negara Eropa yang berhasil menjadi juara Piala Dunia di Amerika Selatan. Karenanya Piala Dunia 2014 menjadi saat paling tepat bagi Inggris untuk menjadi juara. Selain untuk membuktikan kepada dunia bahwa mereka bukan jago kandang, mengangkat tinggi trofi Piala Dunia di Brasil bisa menjadi suara paling lantang yang pernah dimiliki oleh Inggris.

“Lihatlah kami! Kami penemu sepakbola! Kami mempermalukan Brasil, yang mengaku sebagai negara sepakbola karena memiliki lima gelar juara Piala Dunia, di rumah mereka sendiri! Kamilah negara sepakbola yang sebenarnya!”

Seperti itulah kira-kira pernyataan sikap Inggris. Jika, tentu saja, mereka meraih gelar juara Piala Dunia. Namun tidak demikian adanya. Inggris tersingkir dengan memalukan. Tergabung dalam Grup D bersama Kosta Rika, Uruguay, dan Italia, the Three Lions menjadi juru kunci. Jerman, sementara itu, berjaya.

Tak hanya berhasil menjadi negara Eropa pertama yang menjadi juara Piala Dunia di Amerika Selatan, Jerman melakukannya dengan cara terbaik. Berhadapan dengan tuan rumah di semifinal, Jerman tidak gentar. Mereka mencetak tujuh gol ke gawang Brasil. Jerman membuat Maracanazo tak lagi menjadi satu-satunya tragedi sepakbola dalam sejarah Brasil. Mineirazo, walaupun FourFourTwo menyebutnya sebagai komedi dan bukan tragedi seperti Maracanazo, meninggalkan rasa malu yang mendalam.

Satu kesimpulan dapat diambil: Jerman lebih baik dari Inggris. The Football Association (FA, badan tertinggi sepakbola Inggris) bahkan sudah mengirim perwakilan mereka untuk belajar dari Jerman. Dan dari kesuksesan Jerman serta kegagalan Inggris (menerapkan model Jerman), kita dapat mengambil banyak pelajaran.

Rasa Malu Piala Eropa 2000, Awal dari Segalanya

Tim nasional Jerman pulang cepat dari Piala Eropa 2000 dengan status juru kunci Grup A. Duduk di tempat yang lebih baik dari Jerman adalah Portugal, Rumania, dan Inggris. Hasil memalukan ini adalah sebuah pukulan telak yang membuat Jerman bersatu, bangkit, dan berjaya.

Berdasarkan gagasan Gerhard Mayer-Vorfelder, presiden DFB saat itu, DFB memperkenalkan sebuah program bernama Das Talentfoerderprogramm (Program Pengembangan Bakat) di tahun 2003. Terdengar sederhana, namun Jerman melakukannya dengan sungguh-sungguh, termasuk memperhatikan bagian-bagian yang sering diabaikan dan dilupakan.

Program pengembangan bakat milik DFB tidak hanya menemukan dan melatih pemain berbakat. DFB tahu betul bahwa para pemain berkualitas dapat dihasilkan oleh pelatih berkualitas baik dan sarana latihan yang juga berkualitas baik. Karenanya DFB memberi perhatian serius kepada pendidikan kepelatihan dan pembangunan infrastruktur.

Tempat latihan dibangun di 390 lokasi di seluruh Jerman. Di tempat ini, pemain berbakat dari setiap daerah memiliki kesempatan untuk berlatih di tempat dengan kualitas infrastruktur yang baik, di bawah arahan pelatih berkualitas baik. Proses latihan DFB ini biasanya menjadi tempat kesebelasan mencari pemain. Para pemain muda Jerman, karenanya, memiliki dua ikatan: dengan kesebelasan dan dengan DFB.

Data tahun 2013 menunjukkan bahwa Jerman memiliki 28.400 pelatih berlisensi B UEFA. Inggris, sebagai perbandingan, hanya memiliki 1.759. Untuk lisensi A UEFA, Jerman memiliki 5.500 pelatih sementara Inggris 895 saja. Untuk lisensi pro UEFA, sementara Inggris hanya memiliki 115 pelatih, Jerman memiliki 1.070. Dan tak hanya melatih, para pelatih ini juga memiliki tugas sebagai pemandu bakat.

Ambil Mesut Oezil sebagai contoh. Pemain penting Jerman di Piala Dunia 2010 itu sudah ditemukan oleh Joachim Loew sejak tahun 2006 di sebuah kejuaraan junior bernama Merceders Juniors Cup di Stuttgart, saat Oezil masih bermain untuk FC Schalke 04.

“Ada 80 juta orang di Jerman dan saya rasa sebelum tahun 2000 tidak ada yang menemukan banyak pemain berbakat. Sekarang kami mengetahui semua pemain tersebut,” ujar Robin Dutt, direktur olahraga DFB.

Para pemain muda dilatih untuk dapat memenuhi tuntutan perkembangan taktik di sepakbola modern. Para pemain muda Jerman pasca-2003 adalah generasi yang mengedepakan teknik, bukan kekuatan fisik. Generasi Talentfoerderprogramm juga merupakan para pemain yang sudah mempelajari dan mempraktekkan taktik dan strategi bermain sepakbola yang cair sejak usia dini.

Menghabiskan waktu bersama DFB dan kesebelasan mereka masing-masing membuat para pemain muda Jerman menjadi generasi yang kaya pengetahuan. Dan karenanya, mereka memiliki peluang sukses yang besar.

Terbiasa belajar di bawah kurikulum yang sama juga membuat para pemain muda Jerman lebih mudah berintegrasi ketika dipanggil oleh tim nasional, walaupun mereka berasal dari daerah yang berbeda dan belum pernah bermain bersama. Bandingkan dengan Inggris, yang para pemainnya menimba ilmu di akademi kesebelasan saja.

Inggris (Tak Akan Pernah) Menjadi Jerman

Model pengembangan bakat DFB membuat FA mengirim Dan Ashworth, director of elite development mereka, berguru ke Jerman. Oleh FA, model DFB diterjemahkan menjadi England DNA. Pemain ideal ciptaan FA adalah bertanggung jawab secara sosial, melek taktik, atletis, cerdas, dan kreatif. Namun Inggris tak akan pernah menjadi Jerman. Inggris tak akan pernah sesukses Jerman.

Inggris terlambat memulai dan membiarkan para pemain mereka terlambat memulai. England DNA diperkenalkan di tahun yang sama saat Jerman menjadi juara Piala Dunia. Dan sementara para pemain muda Jerman sudah tahu rasanya meraih promosi dan pahitnya degradasi sejak usia 12 tahun, para pemain berbakat di Inggris baru dikirim ke St. George’s Park, markas elite development programme, di usia 15 tahun.

Jerman membantah pandangan umum yang menyebutkan bahwa para pemain muda tidak seharusnya diberi beban kompetisi sebelum usia 18 tahun agar mereka tidak kehilangan rasa cinta terhadap sepakbola. “Menjalani pertandingan yang harus dimenangi sejak usia dini penting untuk mentalitas pemain,” ujar Dutt. Dutt, bagaimanapun, menegaskan bahwa kemenangan bukanlah hal utama.

“Yang utama adalah latihan yang baik,” ujarnya. DFB membuktikan bahwa beban kompetisi bisa diberikan sejak usia dini tanpa harus memisahkan para pemain dari rasa cinta terhadap sepakbola dan pentingnya proses perkembangan. Boleh dibilang, keterlibatan para pemain di liga usia muda benar-benar hanya perkenalan dan pembiasaan saja. Ada promosi dan degradasi, namun itu tidak penting.

Dan itu jelas bukan omong kosong karena DFB memang tidak membuat para pemain muda menempatkan sepakbola sebagai yang utama. Ada kehidupan di luar sepakbola. Ambil SC Freiburg sebagai contoh. Pelatih-pelatih akademi mereka diharuskan memiliki latar belakang keguruan di luar sepakbola. Tujuannya agar ketika para pemain memiliki kesulitan akademis, para pelatih dapat membantu.

Pendidikan formal dan sepakbola berjalan beriringan di Freiburg sehingga melihat para pemain mengerjakan tugas sekolah di bis, dalam perjalanan ke pertandingan, adalah sesuatu yang biasa. Freiburg merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga masa depan para pemain mereka tetap cerah walaupun tidak semuanya mampu berkarir sebagai pemain profesional. Di Inggris, ceritanya berbeda. Para pemain muda dididik untuk menjadi pemain sepakbola dan pemain sepakbola saja. Tidak ada pilihan selain menjadi pemain profesional dan tidak menjadi apa-apa.

Hal lain yang membuat Inggris tak akan sesukses Jerman adalah hubungan kesebelasan dengan federasi. Di Jerman, DFB dan kesebelasan saling membantu demi kepentingan bersama. Di Inggris, hubungan antara FA dan kesebelasan masih belum terlihat akur. Keduanya masih berjalan sendiri-sendiri.

Stuart James dari Guardian pernah mempertanyakan pandangannya kepada Dutt. James, yang asli Inggris, memandang DFB sebagai feeder untuk kesebelasan-kesebelasan sepakbola Jerman. Dutt hanya tertawa dan berkata: “Jika kami menolong kesebelasan, kami menolong diri kami sendiri karena para pemain untuk tim nasional kami berasal dari kesebelasan.” Sebuah simbiosis mutualisme yang menghasilkan gelar juara Piala Dunia 2014.

Kekayaan kesebelasan Inggris juga menjadi kutukan tersendiri. Frank Arnesen, pria asal Denmark yang pernah bekerja sebagai direktur olahraga di Tottenham Hotspur, Chelsea, dan Hamburger SV menegaskan hal ini.

“Uang adalah bagian besar dari masalah di Inggris karena kesebelasan hanya mau membeli pemain yang sudah matang ketimbang menunggu. Para pemain muda harus melakukan kesalahan untuk menjadi lebih baik, namun para manajer merasa bahwa mereka tidak dapat membiarkan itu terjadi,” ujar Arnesen.

Membuat kesebelasan meninggalkan kebiasaan mengabaikan pemain lokal memang sulit dilakukan, namun itu tidak lebih sulit dari mengubah pandangan umum masyarakat mengenai mereka yang bekerja di FA.

Di Jerman, jika seseorang bekerja untuk DFB, ia akan dipandang terhormat. Hal yang sama tidak terjadi di Inggris. Bekerja di klub dipandang lebih terhormat ketimbang mengabdi untuk negara. Inggris masih harus memperbaiki hal ini sebelum memperbaiki banyak hal lainnya. Inggris harus memperbaiki banyak hal sebelum dapat menjadi juara Piala Dunia. Inggris, boleh dibilang, tak akan pernah menjadi Jerman.

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.