3
Brii @BriiStory
Jangankan luar kota, perjalanan dalam kota pun sering memberikan pengalaman seram yang di luar nalar. Seperti kisah teman follower briistory ini, dia menceritakan pengalaman seram ketika naik bis malam menuju Sukabumi. Simak kisahnya di sini, di Briistory. @InfoMemeTwit pic.twitter.com/Rkd3A7BAEd
Expand pic
Brii @BriiStory
"Jadi lo balik Rif? Knapa gak besok aja sih? Udah malem kan ini.." Benar juga sih yang Iwan bilang, memang sudah tujuh malam, mau sampai Sukabumi jam berapa nanti?. Btw, Iwan adalah teman kost-ku, dia tinggal di kamar sebelah.
Brii @BriiStory
Aku arif, pemuda kelahiran Sukabumi yang bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit di wilayah Jakarta Barat, tinggal di kost sekitaran tempatku bekerja.
Brii @BriiStory
Bis terakhir dari bogor menuju Sukabumi jam sembilan malam, semoga keburu. Aku memang harus mampir ke Bogor dulu sebelum ke Sukabumi, ada titipan dari om yang harus kubawa ke rumah. Begitulah.. ***
Brii @BriiStory
Ah, sudah hampir jam sepuluh malam ketika aku meninggalkan rumah om di sekitaran Baranangsiang, gak terlalu jauh dari terminal Bogor.
Brii @BriiStory
Ini kamis malam jumat, memaksa pulang untuk menghadiri akad nikah kakak perempuanku, kalau gak ada acara sepenting ini aku gak akan mengambil jatah cuti dan pulang. Akad rencananya akan dilaksanakan di masjid dekat rumah, lalu resepsi pada hari sabtu. ***
Brii @BriiStory
Jam sepuluh lewat sedikit ketika akhirnya aku menginjakkan kaki di terminal. Masih banyak tanda kehidupan yang terlihat, beberapa warung kecil masih buka menjajakan jualannya, orang berseliweran berpenampilan layaknya penumpang yang mencari angkutan umum ke tujuan masing-masing.
Brii @BriiStory
Membakar rokok, lalu duduk di atas trotoar yang gak jauh dari barisan bis yang memenuhi jalurnya masing-masing. Dari tempat itu aku dapat melihat kalau jalur yang bertuliskan “Sukabumi” di atasnya, sama sekali kosong, gak ada satu pun bis yang berdiam di jalur itu.
Brii @BriiStory
“Ah, kayakya bis Sukabumi sudah gak ada lagi. Harus cari mobil omprengan nih.” Begitu pikirku dalam hati. ”Mau ke mana A’?” Sudah nyaris jam setengah sebelas ketika seseorang, yang sepertinya calo, menegurku dengan pertanyaan.
Brii @BriiStory
“Sukabumi kang. Masih ada gak ya bis-nya?” Aku menjawab dengan pertanyaan. “Wah, udah gak ada atuh. Terakhir tadi jam sembilanan.” Setelah menjawab, lalu laki-laki itu ngeloyor pergi.
Brii @BriiStory
Benar kan, bis terakhir udah berangkat. Tapi walaupun begitu, aku tetap harus pulang malam ini juga, bagaimana pun caranya.
Brii @BriiStory
Beberapa menit kemudian, aku memutuskan untuk berjalan ke luar terminal, lalu menyeberang jalan. Di depan terminal, beberapa kali aku pernah melihat ada mobil omprengan menawarkan tumpangan ke Sukabumi, berharap masih ada, seharusnya ada.
Brii @BriiStory
Kembali membakar rokok, aku berdiri sendirian di tempat gelap ini, kilatan lampu kendaraan yang cukup menyilaukan menutup pandangan sesekali. Beberapa bis tampak melintas di hadapan, tapi gak ada satu pun yang bertujuan ke Sukabumi.
Brii @BriiStory
Aku belum menyerah, mau tetap menunggu tumpangan, padahal sudah hampir jam sebelas, menjelang tengah malam. Sesekali melihat ponsel, membuka-buka aplikasi media sosial mengalihkan pikiran yang semakin gelisah karena sama sekali gak ada kendaraan umum menuju Sukabumi.
Brii @BriiStory
Ketika sedang asik melihat time line, tiba-tiba sinyal internet hilang, mendadak aku gak bisa browsing sama sekali, begitu juga sinyal telpon, hilang juga. “Ah malah gangguan, sempurna deh.” Begitu pikirku dalam hati. Ya sudah, lalu ponsel aku masukkan ke saku celana.
Brii @BriiStory
Dengan gak adanya kegiatan lain, aku jadi memperhatikan suasana sekeliling. Ternyata, baru sadar kalau tempat ini mendadak jadi sangat sepi, padahal letaknya gak jauh dari terminal.
Brii @BriiStory
Hanya bisa melihat dari kejauhan lalu lalang manusia di terminal itu, sementara di dekatku sudah sangat sepi dan hening. Yang masih sesekali melintas adalah beberapa kendaraan yang menuju Bogor kota, bukan di jalur yang ada di hadapan. Benar-benar sepi.
Brii @BriiStory
Sekali lagi aku melihat ponsel, namun tetap saja belum ada sinyal, belum bisa digunakan. Melamun lagi jadinya.. ***
Brii @BriiStory
Menjelang jam dua belas tengah malam, sempat berpikir untuk kembali saja ke rumah om, bermalam di sana, baru kemudian berangkat ke Sukabumi besok pagi-pagi sekali.
Brii @BriiStory
Tapi ketika baru saja hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba pandangan mata tersorot lampu besar yang sangat menyilaukan. “Ah ada bis besar.” Begitu pikirku.
Brii @BriiStory
Dan ternyata benar, ada bis besar yang tiba-tiba datang dari arah Padjadjaran, bergerak pelan menuju ke tempatku berdiri. Lalu bis akhirnya persis lewat di hadapan, kemudian berhenti.
Brii @BriiStory
Di kaca samping, di dekat pintu depan, ada tulisan “SUKABUMI”, dan di pintu depan itu ada kondektur yang lalu membukakan pintu. “Sukabumi Pak?” Tanyaku memastikan sekali lagi. “Iya,” Jawab bapak itu pelan.
Brii @BriiStory
Sukurlah, akhirnya aku dapat bis untuk pulang, gak pikir panjang lagi langsung menaikinya. Baru saja beberapa langkah masuk, pak supir sudah menginjak gas pelan, lalu bis berjalan meninggalkan kota Bogor. ***
Brii @BriiStory
Bis ber-AC ini sepertinya bis yang masih bagus, tapi juga bukan bis baru banget. Dengan kursi yang berjajar dua-dua, masing-masing kursi kelihatan masih terawat bersih. Bis ini juga wangi, aku gak tau parfum apa yang digunakan oleh awaknya, tapi wanginya enak.
Brii @BriiStory
Berjalan terus ke belakang, dalam keadaan gelap aku mencari kursi kosong. Penumpangnya gak terlalu penuh, tapi setiap barisan, dari depan sampai paling belakang, selalu ada orang yang duduk. Aku akan memilih kursi yang kira-kira nyaman untuk tidur sejenak.
Load Remaining (51)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.