0
Footy Accumulators @FootyAccums
South Korea coach Shin Tae-yong: "We put four different numbers on our players' shirts in training to confuse Swedish spies. Europeans can't tell our players apart by their faces." Ooookayyy.... pic.twitter.com/0v403gzl5s
Expand pic
Alex Dukalskis @AlexDukalskis
South Korea: Shin Tae-yong made players swap shirts to try to confuse opposition bbc.co.uk/sport/football…
URL BBC Sport 2711 South Korea: Shin Tae-yong made players swap shirts to try to confuse opposition South Korea's coach says he made his players wear different numbered shirts in recent friendlies to confuse opponents who he says cannot tell them apart.
FourFourTweet @FourFourTweet
"We put four different numbers on our players' shirts in training to confuse Swedish spies. Europeans can't tell our players apart by their faces." - South Korea coach Shin Tae-yong pic.twitter.com/mnUCpvsMSH
Expand pic

Lars Jacobsson sudah sungguh-sungguh berusaha. Mulanya, dia berupaya meyakinkan ofisial Korea Selatan bahwa dirinya hanyalah seorang turis, tetapi tak berhasil.

Tak kehabisan akal, pria Swedia itu kemudian berkeliling ke rumah-rumah warga sekitar. Akhirnya, dia berhasil menemukan rumah yang dirasa cocok. Pemilik rumah pun berhasil dia bujuk.

Dari rumah tersebut Jacobsson mengeluarkan peralatan canggihnya. Teleskop, kamera, semua ada. Di balik lindungan rumah warga itu, Jacobsson memata-matai sesi latihan Timnas Korea Selatan.

Jacobsson bukan orang biasa. Dia adalah anggota staf kepelatihan Swedia yang sengaja dikirim pelatih Janne Andersson untuk mencari kelebihan serta kekurangan lawan.

Korea Selatan jadi tugas pertamanya di Piala Dunia 2018. Jelang pertandingan pembuka di Nizhny Novgorod, Jacobsson berusaha sekeras tenaga untuk memenuhi permintaan Andersson.

Akhirnya, cara itulah yang dia gunakan. Dengan bersembunyi di rumah warga, Jacobsson pikir dia sudah berhasil menjalankan tugasnya. Namun, satu hal yang tak dia prediksi adalah kecerdikan Shin Tae-yong.

Shin adalah pelatih Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2018 itu. Usaha Jacobsson untuk menonton latihan tertutup yang gagal tidak dilupakan Shin begitu saja.

Shin tahu bahwa Jacobsson tidak akan menyerah dengan mudah. Untuk itulah dia menyiapkan sebuah siasat. Pemain-pemainnya diminta bertukar kostum untuk mengelabui mata-mata yang penasaran.

"Mereka mungkin tahu beberapa pemain kami tetapi sulit bagi mereka, orang-orang Barat, untuk membedakan orang Asia satu dengan yang lain. Itulah kenapa kami melakukannya," tutur Shin seperti dilansir Reuters.

Pada akhirnya, usaha Jacobsson itu terbongkar. Andersson bahkan harus meminta maaf secara terbuka setelahnya. Beruntung, Swedia tak harus menanggung malu berlebih karena mereka kemudian sukses menang 1-0.

Bagi Korea Selatan sendiri, kekalahan tersebut akhirnya menjadi salah satu alasan mengapa mereka gagal lolos ke fase gugur. Namun, di situ terlihat jelas karakter seorang Shin.

Ketika ditunjuk, Shin sebenarnya menghadapi situasi mahaberat. Pelatih sebelumnya, Uli Stielike, benar-benar membawa Timnas Korea ke situasi gawat darurat.

Musim panas 2017, Korea Selatan menelan kekalahan dari Qatar. Kekalahan ini membuat kans mereka lolos ke Piala Dunia 2018 terancam. Stielike pun akhirnya dipecat.

Permasalahan pada era Stielike bukan cuma soal hasil, tetapi jauh lebih kompleks dari itu. Taktik yang digunakan tidak jelas, hubungan dengan para pemain memburuk, dan peremajaan tim gagal total.

Dalam situasi tersebut Taeguk Warriors harus menghadapi laga kontra Iran dan Uzbekistan. Iran adalah lawan yang sudah lama tak ditaklukkan Korea Selatan, sementara Uzbekistan adalah tim kaya motivasi.

Korea Selatan bisa dengan mudah karam pada situasi tersebut. Akan tetapi, Shin mampu mengambil alih kemudi dan menyetir bahtera pelan-pelan, tapi pasti, menuju dermaga.

Korea Selatan memang gagal menang dalam dua laga krusial tersebut, tetapi mereka pada akhirnya tetap berhak untuk lolos ke Rusia sebagai runner-up grup. Shin pun dipertahankan.

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.