0
The Lost Book @kisahtanahjawa
Halo Sobat Javanica yang sudah lama tidak saya sapa hehe. Berhubung malam ini saya sedang bingung mau menulis apa, saya akan kembali menceritakan sepenggal cerita lama yang pernah saya ceritakan. pic.twitter.com/UCDyX9L3ak
Expand pic
The Lost Book @kisahtanahjawa
Kejadian ini pengalaman pribadi yang terjadi di salah satu sudut Kota Sejuta Bunga. Terjadi di salah satu kediaman teman ayah saya. Sebuah rumah minimalis yang cukup luas dan bisa dibilang cukup jauh dari kesan horror; hanya saja letaknya berada di pinggiran jalan tusuk sate.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Singkat cerita, saya diajak ayah saya bertandang kesana dan bergabung dengan kumpulan obrolan. Di tengah sebuah obrolan, teman ayah saya menyela dan menanyakan ke yang lainnya soal suara yang takutnya ia dengar sendiri.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Awalnya, tidak ada satupun yang begitu menggubris perkataannya karena memang lokasinya yang berada di keramaian pinggir jalan.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Sampai pada akhirnya berangsur sunyi, suara yang dipertanyakan tadi kembali terdengar. Kali ini semua orang yang berada di tempat tersebut mengamini keberadaan suara tersebut. Kepalang penasaran bersama-sama.
The Lost Book @kisahtanahjawa
akhirnya sang pemilik rumah pun mengajak yang lain untuk menangkap basah sumber suara tersebut. Tidak lupa segagang sapu dibawa untuk mengantisipasi terjadinya apa-apa.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Satu persatu sudut rumah pun disusuri. Semaking mengerucut ke satu arah dimana suara tersebut terdengar makin jelas. Lirihan suara wanita melantun pelan : “Ningsih.. Mrene.. Jenengku Ningsih..” Semua mata pun tertuju ke pemilik rumah dan menanyakan : Siapa Ningsih?
The Lost Book @kisahtanahjawa
Kami semua mengira mungkin suara itu merupakan salah satu pembantu di rumah tersebut. Tapi pemilik rumah pun menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju dengan statement tersebut dan kembali mencari sumber suara. “Aku Ningsih.. Mrene o kabeh.. Jenengku Ningsih.. Tulungi aku..”
The Lost Book @kisahtanahjawa
Sampai pada akhirnya semua orang telah sampai di ruang belakang tempat dimana penghujung akhir dari semua tempat yang sudah disusuri . Namun nihil, tidak ada seorang pun disana.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Anehnya, suara itu masih saja bergema di sekitaran ruangan. “Ting pundi nggih, Ningsih?” celetuk salah satu dari teman ayah saya setengah bercanda.
The Lost Book @kisahtanahjawa
“Ning kene.. Tulungi aku..” Sumber suara ternyata ada di balik korden jendela ruangan itu. Bohong jika tidak ada perasaan sedikit campur aduk diantara pilihan dibuka atau tidaknya.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Saking parnonya mungkin ada salah satu dari kita yang menutup matanya untuk mengurangi efek kejut. Kami semua kemudian sepakat untuk membukanya dalam hitungan ketiga demi menemukan siapa Ningsih sebenarnya.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Dan Satu.. Dua.. Tiga.. !!! Korden pun terbuka. Belum sempet kami melihat keluar untuk menemukan Ningsih, pemandangan satu jendela kemudian berganti pandang dengan sesosok perempuan paruh baya bertubuh kecil; hampir seperti seperti anak kecil dengan balutan khas pakaian Jawa.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Kami semua yakin ini bukan halusinasi karena banyak pasang mata turut menyaksikan. Terdiam menyaksikan sambil tercengang bentuk Ningsih yang kepalanya berbentuk sebesar frame jendela.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Mungkin penampakan seperti Ningsih adalah kali pertama diantara kami semua menyaksikan yang sefenomenal itu.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Menyebalkannya lagi, Ningsih masih saja terus melanturkan kata-kata : “Ningsih.. Jenengku Ningsih.. Tulungi Aku” dengan tatapan mata sedihnya yang terus menerus menatap kami semua.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Mungkin saja sobat Javanica semua ingin menolong Ningsih? Coba cek jendela teman-teman semua malam ini, kali-kali aja mampir hahaha Kontributor : Genta Minggu Depan Nulis Apa?

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.