0
Daniel Suryadarma @dsuryadarma
Lahir di keluarga miskin, apakah bisa tetap sukses pada saat dewasa? Sangat jarang terjadi. Berikut hasil studi kami di Indonesia @SMERUInstitute @ADBInstitute Rags to riches? Maybe not. Here is what we find in Indonesia THREAD (1/N) pic.twitter.com/kzK9VnMpsJ
Expand pic
Daniel Suryadarma @dsuryadarma
Sampel kami: anak-anak (8-17 thn) di 2000. 17% hidup di keluarga miskin. Kami lihat pendapatan mereka di 2014. Mereka sudah 22-31 tahun. Our sample: children (8-17 yo) in 2000. 17% lived in poor families. We see their earnings in 2014. By this time, they were 22-31 yo. (2/N)
Daniel Suryadarma @dsuryadarma
Kami menggunakan berbagai metode untuk memastikan hubungan sebab-akibat antara hidup miskin sebagai anak-anak dengan pendapatan ketika dewasa. We use various methods to establish causality between poor as a child and earnings as an adult. (3/N) pic.twitter.com/jmNPRAUf15
Expand pic
Daniel Suryadarma @dsuryadarma
Temuan 1: Orang yang miskin sebagai anak-anak memiliki pendapatan sekitar 87% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak miskin sebagai anak-anak. Renungkan sebentar apa artinya. Finding 1: The earnings penalty for growing up poor is 87%. (4/N) pic.twitter.com/kYBUg5p0xJ
Expand pic
Daniel Suryadarma @dsuryadarma
Temuan 2: Penerimaan program sosial pemerintah (BLT & Raskin) mengurangi dampak kemiskinan sebagai anak-anak, tapi kecil. Finding 2: Receiving government social programs reduces the impact of childhood poverty, but not much. (5/N)
Daniel Suryadarma @dsuryadarma
Temuan di Indonesia ini mirip dgn di negara lain. Untuk penjelasan, bisa lihat diskusi Spotlight 1, 2, 3 di World Development Report 2018. This finding is similar with other countries. WDR 2018 Spotlight 1, 2, 3 provide some explanations. (6/N)
R.Y.P @riskygapake_z
@dsuryadarma @SMERUInstitute @ADBInstitute Kebanyakan yg gue temui..mereka ga percaya pendidikan..pdhl itu bisa merubah nasib anak2 mereka..

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.