4
fierza @fierza
Masih muda, baru terima gaji, lantas bingung uangnya mau diapain. Ada yang dihabisin buat investasi; Ada yang habis buat travelling; Ada juga yang habis beli makan doang. Satu yang pasti: habis. Mau hire financial planner, tapi mahal. Nih cara & tips financial planning sendiri
fierza @fierza
Sebenernya tujuan dari financial planning itu apa? Ibarat kita mau pergi ke suatu tempat, kita harus punya tujuan mau ke mana; lewat mana; dan naik apa. Merencanakan keuangan juga begitu. Kita harus tahu; 1. Goal kita apa 2. Kondisi keuangan saat ini bagaimana 3. Mengondisikan
fierza @fierza
Goal setiap orang bisa bermacam-macam. Ada yang mau pensiun dini; Ada yang mau hidup nomaden; Ada yang mau jadi milyarder; Atau bahkan hidup sederhana. Sah? Sah aja. Kita yang menjalani, kita yang menentukan. Yang bahaya adalah ketika kita tidak punya tujuan finansial. Kenapa?
fierza @fierza
Ketika orang tidak punya tujuan finansial, lagi, itu seperti kita sudah siap berangkat pergi, tapi tidak punya tujuan. Akhirnya kita hanya pergi dengan kendaraan kita, kemanapun kita pergi. Hasilnya? Kita hanya menghabiskan bensin dan waktu kita di jalan. Begitu jg dgn finance
fierza @fierza
Langsung aja, hal pertama yang kita perlu lakukan: 1. Menentukan tujuan. Goal di sini kita bagi 3 macam; A. Jangka pendek B. Jangka menengah C. Jangka panjang Jika sudah menentukan, mari hitung totalnya
fierza @fierza
Jangka pendek itu sependek apa? Normalnya sih dalam hitungan bulan, sampai dengan satu tahun. Biasanya sifatnya rutin, seperti; -Pengeluaran bulanan -Cicilan -Beli HP Yang mostly kita butuh dalam jangka waktu dekat.
fierza @fierza
Jangka waktu menengah. Ini udah mulai bervariasi untuk setiap orang. Mungkin di kisaran 5-10 tahun kali ya. Contoh: -Tabungan menikah -Tabungan haji -Tabungan untuk sekolah S2, S3, dll.
fierza @fierza
Sorry kepotong. Lanjut. Yang terakhir, jangka panjang. Ini lebih bervariasi lagi. Ada yang mempersiapkan untuk pensiun dini; Ada yang menyiapkan tabungan pendidikan anak; Atau bahkan ingin menyelamatkan dunia :( Pokoknya, tentukan tujuan dulu. Apapun itu. Baru lanjut ke poin 2
fierza @fierza
2. Kondisi keuangan saat ini Bagaimana kondisi keuangan saat ini? Apakah surplus? Atau minus karena banyak cicilan? Jika surplus, berarti tinggal nabung sesuai target. Nah, kalau minus? Ini yang biasa jadi PR para financial planner.
fierza @fierza
Kenapa minus bisa jadi PR besar? Karena ketika kondisi keuangan berbeda. Semakin kamu diemin, minusnya akan semakin besar. Berbeda ketika kamu makan 2 apel temenmu, dan kamu ganti 2 apel tahun depan, mungkin tidak masalah. Kartu kredit, misalnya. Jika didiamkan, makin bengkak.
fierza @fierza
Untuk itu, kita perlu perlindungan. Misalnya, kita punya cicilan, umur manusia nggak ada yang tahu lah ya. Kalau tiba-tiba kita meninggal, siapa yang menanggung cicilan kita? Kita butuh seseorang/institusi yang melunasi hutang kita saat kita nggak ada. Di sini peran asuransi
fierza @fierza
Asuransi ada bermacam-macam. Ada asuransi Jiwa; Asuransi kesehatan; Asuransi harta benda; Asuransi perjalanan, dll. Fungsinya satu, untuk menanggung kerugian. Terus, asuransi pendidikan itu sebenernya ada nggak sih? Apa yang ditanggung? Nilai jelek? *eh Jatuhnya ya nabung aja
fierza @fierza
Asuransi juga ada 2 macam; 1. Asuransi murni; dan 2. Asuransi unit link. Bedanya, kalo murni itu duit premi kita gak balik. Karena duit kita dipake nanggung yang melakukan klaim. Semacam subsidi silang. Kalo unit link, dijanjikan balik. Dengan catatan setelah sekian tahun (..)
fierza @fierza
Kok bisa balik? Emang nggak rugi? Bisa balik. Karena uang yang kita bayarkan itu dibelikan produk-produk investasi. Maka dari itu, uang yang dijanjikan akan balik pun juga baliknya lama, biasanya di atas 5 tahun.
fierza @fierza
Asuransi kesehatan, harta benda, dll juga penting. Karena faktor-faktor di atas sering kali jadi “penggerus” terbesar tabungan kita. Kita emang gak bisa menghindari resiko, tapi kita bisa memperkecil resiko.
fierza @fierza
Dan satu lagi; dana darurat. Selain kematian, kita juga tidak tahu kapan kita di-PHK; kapan orang lain melakukan kesalahan tapi kita ikut nanggung beban mereka, dsb. Banyak yang advice, rumus ideal dari dana darurat adalah 6x pengeluaran bulanan. Makin gede makin bagus
fierza @fierza
Itu tadi poin 2, intinya: -Lihat kondisi keuangan saat ini -Buat kondisi keuangan surplus -Lindungi dan perkecil resiko pengeluran yang tidak diinginkan dengan asuransi dan dana darurat. Lanjut ke poin terakhir, yaitu mengondisikan
fierza @fierza
Mengondisikan di sini adalah menyesuaikan tujuan finansial kita dengan kondisi kita saat ini, termasuk langkah-langkah preventifnya. Ibaratnya, kalau goal kita di sana, kita ada di mana? Seberapa jauh dari goal kita? Tentunya secara penerapannya akan berbeda setiap orang
fierza @fierza
Mengondisikan bisa berarti memilih prioritas, mengontrol resiko, mengukur besaran pendapatan Ibarat kita bawa kendaraan, kita sesuaikan kapan bisa ngebut, kapan jalan santai, kapan harus pelan-pelan Finansial rekat hubungannya dengan hukum. Jangan sampai salah jalan. Good luck!
reza @rezanrubin
@fierza Maaf ka menyimpulkan, berarti yg ditekankan disini kita harus jaga situasi/kondisi keuangan untuk tabungan/tujuan, dan jangan lupa sisihkan dana darurat/asuransi untuk suatu saat situasi tidak teratasi (dipecat, sakit rawat lama, dll) ?
REIRISKY @metsmuda
@fierza Setuju mbak, tetapi ttg asuransi kok saya kurang setuju yaa. Misalnya asuransi pendidikan kita always bayar gitu eh pas uang nya udah cair tetep saja kurang karena inflasi
Dina 👧 @trianidinaa
@fierza Terimakasih mba atas pembelajarannya @Jouska_id juga mengajarkan seperti ituu pasti mba nya belajar dari jouska yaa hehehe

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.