6
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Saat pemerintahan beralih dari Soekarno ke Soeharto, Mahasiswa Indonesia yg dapat beasiswa di Luar Negeri dari Soekarno dipaksa untuk mengkritik Soekarno yg dianggap Pro Komunis oleh Soeharto. Banyak yg ga mau. Kewarganegarannya pun dicabut. GENOSIDA INTELEKTUAL 1965 A Thread- pic.twitter.com/KW4xIoWTLZ
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Pada tahun 1959-1963, kesadaran anak muda Indonesia untuk bersekolah & menempuh pendidikan tinggi kian meningkat. Misalnya, Univ Negeri bertambah dari 8 ke 39 Univ, Univ Swasta bertambah dari 112 ke 228. Hal itu mengakibatkan, Partai Islam, Komunis & Sosialis melirik Mahasiswa. pic.twitter.com/FfJ5xuQgtE
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Pergerakan Mahasiswa sangat erat dengan pergerakan politik saat itu. Apalagi, Soekarno selalu menggaungkan motto NASAKOM; yakni Nasionalis, Agamis dan Komunis. Partai Nasional Indonesia (Nasionalis), NU (Agamis) & PKI (Komunis) lalu membuat gerakan kecil di lingkup universitas. pic.twitter.com/Y3absrc6Sb
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
PNI berhubungan dengan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), Masyumi dengan HMI (Himpunan Mahsiswa Islam) & PKI dengan CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia). Ketiga Partai itu lalu membentuk pendidikan politik di lingkup universitas dengan mencari kader muda. pic.twitter.com/9pOg3LWlsI
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Saat itu, PNI & PKI memang menjadi salah dua partai besar yg memiliki gerakan mahasiswa yg aktif (GMNI berkisar 77.000 anggota & CGMI berkisar 35.000 anggota), mereka bisa dibilang kubu sekuler. Di dalam kampus, HMI (agamis) menantang mereka untuk mendapat posisi bagus di BEM. pic.twitter.com/ZefISPpqmf
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Tidak hanya di kalangan mahasiswa, di kalangan dosen/staf pun terjadi kepentingan politik. Untuk menjabat suatu posisi, beberapa didasarkan pada kedekatan pribadi terhadap dosen/stafnya melalui organisasi kemahasiswaan tadi. Sehingga perbedaan cara pandang politik kian membesar. pic.twitter.com/o4IyYBQ14b
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
G30S-PKI kemudian terjadi. Singkat cerita, Soeharto kemudian menyuruh militer untuk melakukan “screening” di tiap tiap kampus. Mahasiswa & dosen yg dianggap pro-komunis atau pro-Soekarno ditangkap secara serampangan. Seringkali prosesnya dilakukan tanpa verifikasi. Ini datanya: pic.twitter.com/9UFCPLitm9
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Buku beraliran kiri (Komunis & Sosialis) dibakar. Dosen terpaksa menjadi mata-mata pemerintah & militer Soeharto untuk mencari mahasiwa mana saja yg memiliki paham kiri (pro-Komunis). Namun, ada beberapa Profesor yg kasihan & mengirim dosen mudanya untuk sekolah di luar negeri. pic.twitter.com/iUZ2No3l1G
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Di luar negeri pun, para mahasiswa juga diancam Soeharto. Sebut saja Iskandar, 77 thn. Ia berangkat ke Swedia tahun 1963 dengan bekal beasiswa dari Soekarno. Iskandar dulu tidak peduli akan politik. Namun semenjak G30S-PKI & melihat banyak Dubes RI dipecat, ia bertanya-tanya..
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Iskandar mengatakan, mahasiswa & delegasi Indonesia yg berada di luar negeri saat itu dipaksa mendukung pemerintahan Soeharto & wajib menuduh Soekarno sebagai pro-komunis. Iskandar mendapat surat setahun setelah G30S-PKI terjadi. Ia diminta datang ke Kedubes RI di Stockholm. pic.twitter.com/FoKq9t5JIp
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Iskandar keberatan menanda-tangani surat itu. Ia merasa Soekarno berjasa atas diberikannya beasiswa kepada Iskandar & puluhan temannya yg lain di luar negeri. Tepat pada tahun 1967, Iskandar yg saat itu baru berusia 23 tahun, dicabut kewarga-negaraannya oleh Presiden Soeharto.
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Beda cerita dengan Soejono yg masih menetap di Ceko. Soejono & Iskandar adalah sahabat satu sama lain saat masih bersama-sama di Cekoslovakia. Sebulan setelah G30S-PKI, ia & mahasiswa lain disuruh menuju ke Kedubes. Mereka semua ditanya, apakah pro dengan Soeharto atau tidak. pic.twitter.com/wluK56nYfZ
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Soejono menjawab tegas, “Pemerintahan Soeharto bertentangan dgn prinsip HAM. Saya sendiri bukan komunis, tapi saya yakin banyak orang yg berkoar anti-komunisme, tapi mereka sendiri apa itu arti komunisme”. Pemerintahan Soeharto lalu menyuruhnya pulang ke Indonesia saat itu juga.
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Sadar bahwa nyawanya akan terancam jika pulang atau akan menjadi tahanan politik (Tapol), ia pun bertahan di Ceko selama 35 tahun. Hingaa saat reformasi 1998, ia pulang ke Indonesia. "Reformasi, saya ikuti itu. Waktu penembakan mahasiswa di Trisakti, saya ada sekitar situ,". pic.twitter.com/DszQeC0OF3
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Namun sudah pulang selama 5-6 kali ke Indonesia, Soejono memilih tetap bertahan di Ceko. "Sampai saat ini, saya merasa berutang budi terhadap rakyat dan negara saya Indonesia yang sudah menyekolahkan saya, yang menyebabkan saya punya skill, punya pengalaman hidup..
Andi Kamal Reza @andikamalreza
..pengalaman kerja, punya pengetahuan. Seharusnya bisa saya terapkan dan sumbangkan pada rakyat Indonesia, tapi terpaksa tidak bisa," ucap Soejono. Karena politik kotor Soeharto, seorang anak bangsa seperti Soejono menjadi takut untuk kembali & mengabdi ke negaranya sendiri. pic.twitter.com/SFRyyjhg0K
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Sejarawan Bonnie Triyana juga menyebut fenomena mahasiswa yg dicabut kewarganegaraanya oleh Soeharto sebagai “eksil-eksil (pelarian politik) yang dibui tanpa jeruji karena sama seperti korban di Indonesia, tak bisa melakukan sesuatu sebebas manusia lainnya.”
Andi Kamal Reza @andikamalreza
“Berdasarkan riset saya yang terjadi pada 1965-1966 dan juga 1969, urusan ideologi tak lagi relevan, siapapun yang dianggap bahaya bagi kemunculan Orde Baru dihabisin, apakah dia nasionalis, komunis ataupun kalangan agama,” kata Bonnie, Pemimpin Redaksi Majalah Historia. pic.twitter.com/A43DYeJr4g
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Sebenarnya, Alm Gus Dur pernah menetapkan Instruksi Presiden No 1 Tahun 2000 mengenai upaya rehabilitasi nama & upaya memulangkan para eksil/mahasiswa stateless itu kembali ke Indonesia. Namun sayangnya, ketika Inpres itu dikeluarkan, banyak dari mereka yg tidak bisa kembali.
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Beberapa dari mereka sudah ada yang meninggal, ada juga yang sudah memiliki cucu cicit & tidak bisa meminggalkan keluarganya. Dan juga ada yg sudah bekerja di negara maju yg tentu saja secara secara finansial, sosial & politik lebih aman daripada Indonesia. Tidak bisa disalahkan. pic.twitter.com/oiSRCiiOk4
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Yang pasti, kisah Genosida Intelektual (atau yang biasa disebut Intellectualcide) sebagai upaya Soeharto untuk “pemberangusan Ideologi Komunis” & Kaum Kiri di Indonesia akan selalu dikenang dalam sejarah kelam dunia pendidikan di Indonesia sebagai kekerasan (kultural) intelektual
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Dosen Sejarah UGM, Abdul Wahid megatakan “akibat kejadian ini, terjadi hilangnya satu generasi intelektual, produk dari periode tahun 1950an yg kosmopolitan & liberal (termasuk para eksil) & universitas menjadi semakin birokratis, kapitalistik & market-oriented”. (Nugroho 2009). pic.twitter.com/DXxIe4aI4g
Expand pic
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Dan perlu diingat, karena permainan jahat dlm politik, Indonesia pernah kehilangan satu generasi potensial yg hanya berujung sia-sia. Bayangkan jika kapasitas & kapabilitas mereka bisa dimanfaatkan oleh Indonesia jaman dulu. Tentu Indonesia akan lebih maju dibanding sekarang.
Andi Kamal Reza @andikamalreza
Kadang ketakutan kita akan sesuatu, hanya ada berdasarkan asumsi di pikiran kita sendiri. Bisa dilihat pada kasus ini, bagaimana ketakutan negara akan komunisme yg tidak berdasar, akibatnya menjadi boomerang bagi Indonesia, di mana para intelektualnya dibuang sia-sia oleh negara. pic.twitter.com/SZn2r7YJNd
Expand pic

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.