0
rumahkliping @rumahkliping1
Aku berharap bisa bertemu dengan makhluk-makhluk transparan itu. Sayangnya, malam ini yang kurasakan hanya kedatangan angin yang pelan-pelan memeluk tubuhku.
rumahkliping @rumahkliping1
Sudah tiga malam aku tidak melihat kedatangannya lagi, Ryuk, si manusia super aneh yang kerap datang dan pergi sesuka hatinya. Di malam keempat muncul entitas lain ketika aku sudah rebahan.
rumahkliping @rumahkliping1
Dia memelukku dari belakang. Dia juga menciumi rambutku. “Yang kamu tunggu tidak mau keluar dari persembunyiannya” “Kenapa? Apa
rumahkliping @rumahkliping1
karena muak padaku? Karena aku masih belum bisa menjawab pertanyaannya? Apakah aku seorang seniman atau bukan? Apakah karena aku belum bisa membedakan mana realitas dan bukan?”
rumahkliping @rumahkliping1
“Nampaknya begitu” entitas itu semakin menggodaku dengan menyentuh pipiku, dahiku, hidungku, telingaku, bibir, pundak, perutku, pusarku, kaki, telapak kaki, mengenggam tanganku, memelukku, meraba mesra punggungku. “Aku kedinginan” kataku padanya.
rumahkliping @rumahkliping1
Dia semakin erat memelukku. “Aku tidak sedang memintamu untuk tidur denganku” kataku. “Walaupun begitu, kamu takkan menolakku seperti malam-malam sebelumnya” katanya.
rumahkliping @rumahkliping1
Dia benar. Tanganku tak bergerak untuk menyingkirkan pelukannya. Sebaliknya, aku justru mengalungkan lenganku ke lehernya. “Kenapa kamu sangat mengharapkan kedatangannya?” tanyanya.
rumahkliping @rumahkliping1
“Aku tak bisa menulis” Wajahnya berubah, dia meniup telingaku. Pada saat itu darahku berdesir. “Kamu tahu, berapa kali aku menatap halaman putih itu?
rumahkliping @rumahkliping1
Sudah berbulan-bulan, sudah ribuan kali, tapi tak ada satupun kata yang berhasil aku tuangkan di sana” aku memberitahunya. Dia mencium leherku terlebih dahulu sebelum berkata, “Kenapa kamu harus bicara dengannya? Kenapa tidak menulis tentang aku saja?”
rumahkliping @rumahkliping1
Aku menatapinya. Ada desir yang sangat deras di dalam dadaku, seperti anak mata air yang baru saja berhasil keluar dari dalam lapisan tanah. “Aku ingin kamu hanya jadi milikku”
rumahkliping @rumahkliping1
Dia semakin rapat padaku. Tangannya melingkar di pinggangku. “Jangan pergi” “Aku masih di sini, kenapa kamu takut?” tanyanya, dia tersenyum menatapku. Aku tak bergeming, meski aku tak bisa melihat sinar di bola matanya. “Biar aku ceritakan sesuatu padamu” katanya.
rumahkliping @rumahkliping1
“Kemarin aku melintasi sebuah rumah, di sana aku berhenti sebentar karena melihat seorang perempuan yang sedang melukis. Aku tak percaya bisa menemukan orang yang seperti dirimu di tempat lain, aku menyukainya, maka
rumahkliping @rumahkliping1
aku mendekat padanya. Dia juga tak menolak waktu aku menyentuhnya” katanya. Lingkaran tangannya masih erat pinggulku. “Kamu harus bertemu dengannya, mungkin dia bisa membantumu mengembalikan kreatifitasmu yang hilang” katanya,
rumahkliping @rumahkliping1
“Dia cantik, bibirnya manis sekali, senyumnya juga ramah” Kata-katanya terus belompatan dari pundakku ke lututku, dari lututku ke jari-jari tanganku, dari jari-jari tangan menuju hatiku. Di dalam hati, kata-katanya tidak hanya melompat, tapi juga menari-nari.
rumahkliping @rumahkliping1
“Kamu tak ingin menemuinya lagi?” tanyaku, suaraku bergetar. Dengan santai dia menjawab, “Aku akan menemuinya lagi nanti setelah kamu tenang, akan aku ceritakan padamu hasil pertemuanku dengannya”
rumahkliping @rumahkliping1
Jantungku tersentak, “Bagaimana bisa kamu menceritakan tentang perempuan lain saat memelukku?!” Aku hendak melepaskan diriku saat itu juga tapi dia menarikku lebih dalam ke pelukannya. Dia menciumku lalu pergi.
rumahkliping @rumahkliping1
Jari-jari tangannya masih sempat membelai rambutku sebelum menghilang di balik punggungku. Aku berdiri tegak, tak peduli pada rasa nyeri yang kurasakan dilututku. Aku masuk ke dalam kamarku, menemukan
rumahkliping @rumahkliping1
halaman putih di layar monitor masih berkedip-kedip. Aku tuliskan kata-kata yang aku dapatkan secara tiba-tiba setelah mendengar ceritanya tadi, “Aku membutuhkan ketegangan baru” tulisku. Pagi belum tiba, masih sepertiga malam saat aku keluar rumah.
rumahkliping @rumahkliping1
Makhluk-makhluk malam tak ada yang mau menemaniku jalan-jalan, dengan kesal aku melakukannya sendirian. Aku menemukan rumah perempuan yang suka melukis di teras rumah. Rupanya hari ini dia melukis lebih lama dari sebelumnya,
rumahkliping @rumahkliping1
sebab aku bisa melihatnya dalam pelukan seseorang yang beberapa menit lalu memelukku. Di dalam kegelapan, aku menokang senapan berburu milik kekasihku. Dari kegelapan ini, melalui lensa senapan,
rumahkliping @rumahkliping1
aku menemukan titik nadi di kepalanya. Aku tembak perempuan itu. Aku lepaskan juga sebuh peluru sampai menembus dia yang tadi memelukku. Sejurus kemudian, tubuh mereka ambruk di atas kanvas. “Apa kamu sudah menemukan kreatifitasmu?”
rumahkliping @rumahkliping1
Aku menoleh, ada Ryuk di sampingku. “Sejak kapan kamu mengikutiku? “Sejak kamu keluar rumah” “Tak seharusnya kamu menghilang!” aku membentaknya. “Maaf, aku lakukan itu agar kamu memiliki inovasi baru, yang berbeda dari sebelum-sebelumnya” katanya.
rumahkliping @rumahkliping1
“Maafkan aku, seharusnya aku membunuhnya dengan tanganku sendiri” dia menambahkan. Aku putuskan untuk melupakan kekesalanku. Aku menarik lengannya, aku peluk dia kuat-kuat. Sesungguhnya aku baru saja ketakutan bila ada yang melihat tindakanku selain dia.
rumahkliping @rumahkliping1
“Setelah ini akan ada banyak cerita yang bisa kamu baca setiap malam” ucapku.
Load Remaining (2)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.