0
Mazzini @mazzini_giusepe
Legenda Korps Marinir Yang Kematiannya Misterius, Bunuh Diri Atau Dibunuh? Pada masa Orde Lama, Letnan Jenderal Hartono dikenal sebagai loyalis Soekarno, diasingkan ke Korea Utara pada masa pemerintahan Soeharto, kematiannya pada tahun 1971 masih jadi misteri hingga sekarang. pic.twitter.com/nMI60b7KeB
Expand pic
Mazzini @mazzini_giusepe
Sebaiknya menyimak thread sampai selesai, sumber thread seperti biasa akan dicantumkan diakhir.
Mazzini @mazzini_giusepe
1. Pria kelahiran Solo, 1 Oktober 1927 ini memulai karier militernya dengan menjalani pendidikan pelayaran di masa kedudukan Jepang, pasca Indonesia merdeka, dia termasuk salah satu tokoh yang mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut di Tegal (kini Korps Marinir)
Mazzini @mazzini_giusepe
2. Memiliki karier yang cemerlang, dirinya di tahun 1964 mendapat tugas belajar 10 bulan di Uni Soviet, sekembalinya dari Uni Soviet, Letjend Hartono pada 8 November 1961 dia angkat oleh Presiden Soekarno sebagai Panglima KKO AL (Korps Komando Angkatan Laut). pic.twitter.com/CuCD9HhHhN
Expand pic
Mazzini @mazzini_giusepe
3. Tak lama berselang, pada 27 November 1966 dia kembali dipercaya merangkap jabatan sebagai Menteri Panglima Angkatan Laut. Ucapan sang panglima yang paling dikenal adalah, “Merah kata Bung Karno, merah kata KKO! Putih kata Bung Karno, putih kata KKO!”.
Mazzini @mazzini_giusepe
4. Dikenal sebagai loyalis Bung Karno, Letjend Hartono siap membela dalam kondisi apapun, termasuk saat peristiwa Gerakan 30 September (G30S) berkecamuk. Sang proklamator yang kala itu disudutkan oleh kubu NATO (Nasution-Soeharto), dia pun pasang badan dan setia di belakangnya.
Mazzini @mazzini_giusepe
5. Menghadapi kondisi politik saat itu, Letjend Hartono pernah meminta izin Bung Karno untuk melawan kekuatan Nasution-Soeharto yang sedang melucuti secara perlahan kekuatan sang Proklamator. Perhitungan Letjend Hartono saat itu, kondisi tersebut bisa dibendung.
Mazzini @mazzini_giusepe
6. Mengingat selain Angkatan Laut dan Angkatan Udara memiliki Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat), sementara Polri memiliki Brigade Mobil (Brimob), pada umumnya kesatuan tersebut masih setia di belakang Bung Karno.
Mazzini @mazzini_giusepe
7. Tapi Bung Karno tidak menyetujui permintaan Hartono untuk mengerahkan kekuatan bersenjata. Bung Karno beralasan jika hal itu tetap dilakukan, akan terjadi perang saudara. Jika perang saudara terjadi, dampaknya akan seperti di Amerika Latin dan rakyatlah yang paling menderita.
Mazzini @mazzini_giusepe
8. Larangan tersebut masih tetap dilakukan Bung Karno, walaupun saat itu dirinya makin disudutkan pasca G30S. Hal ini diketahui dari pengakuan M. Achadi salah satu Menteri Kabinet Dwikora yang menyaksikan penolakan Bung Karno atas permintaan Letjend Hartono.
Mazzini @mazzini_giusepe
9. Menurut Achadi saat Letjend Hartono meminta izin, Bung Karno menggelengkan kepalanya. “Bung Karno tetap menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak mau terjadi pertumpahan darah, dan perang saudara.” kata Achadi.
Mazzini @mazzini_giusepe
10. Masih menurut Achadi, padahal selain Letjend Hartono dengan KKO AL, Panglima Kodam Jaya Amir Machmud, Panglima Kodam Siliwangi Ibrahim Adji, dan beberapa panglima kodam lainnya juga bersedia menghadapi manuver Nasution-Soeharto.
Mazzini @mazzini_giusepe
11. Kala itu Bung Karno hanya memerintahkan Letjend Hartono untuk menghalangi upaya Nasution-Soeharto agar jangan sampai berkembang lebih jauh. “Hanya itu tugasnya, Hartono diminta menjabarkan sendiri, yang jelas jangan sampai ada perang saudara,” kata Achadi.
Mazzini @mazzini_giusepe
12. Berbagai upaya dilakukan Letjend Hartono dalam mengawasi kondisi politik saat itu, satunya membendung upaya pembuangan, penghilangan, pemenjaraan para pejabat loyalis Bung Karno, tapi gagal, karena Soeharto kala itu sudah memang Supersemar, dasar kuat pengambilan keputusan.
Mazzini @mazzini_giusepe
13. Untuk mengimbangi manuver politik kubu Nasution-Soeharto dan menunjukkan loyalitas Angkatan Laut pada Bung Karno, KKO AL pamer kekuatan di Surabaya bertepatan dengan hari ulang tahun Bung Karno ke-65 pada 6 Juni 1966.
Mazzini @mazzini_giusepe
14. Berkekuatan penuh, dengan pawai tank dan senjata berat, KKO AL keliling kota Surabaya sambil meneriakkan yel-yel “Hidup Bung Karno…Hidup Bung Karno” teriakan yel-yel semakin keras dikala mereka melewati markas Angkatan Darat.
Mazzini @mazzini_giusepe
15. Tapi perlawanan Letjend Hartono membendung manuver Nasution-Soeharto tak berarti, akhirnya Bung Karno berhasil digulingkan dan jadikan tahanan rumah. Sehingga Letjen Soeharto berkuasa secara resmi mulai 12 Maret 1967 atau setahun setelah Supersemar keluar.
Mazzini @mazzini_giusepe
16. Pembersihan terhadap loyalis Bung Karno, sudah menjadi prioritas Soeharto. Letjend Hartono pula masuk kedalam daftar teratas orang yang harus disingkirkan. Pada 8 November 1968 Letjend Hartono mendapat perintah untuk menjadi duta besar di Pyongyang, Korea Utara. pic.twitter.com/WFqX8Rqf2s
Expand pic
Mazzini @mazzini_giusepe
17. Menjadikan Letjend Hartono sebagai duta besar di Korea Utara adalah salah satu bentuk dari pengasingan, cara-cara ini memang kerap dilakukan Soeharto, selain melakukan penghilangan paksa atau dipenjara seperti tokoh lain.
Mazzini @mazzini_giusepe
18. Pada saat 1970 akhir, Letjend Hartono mengahadiri acara pertemuan para duta besar Se-Asia Pasifik di Tokyo. Ketika sampai di Tokyo, dia bertemu dengan rekan sesama KKO AL dulu, Hartono mendengar kabar peran dan kekuatan Marinir dikerdilkan dengan adanya Operasi Lumba-Lumba.
Mazzini @mazzini_giusepe
19. Operasi itu disebut dilakukan Soeharto untuk membersihkan Angkatan Laut dari PKI. Letjend Hartono lantas marah, lalu memutuskan usai pertemuan, tak kembali ke Pyongyang namun langsung ke Jakarta untuk memastikan soal ini dan jika perlu memprotes keputusan tersebut.
Mazzini @mazzini_giusepe
20. Sesampainya di Jakarta, Jend Hartono bertemu beberapa tokoh seperti Laksamana Sudomo (KASAL), tokoh intelijen seperti Yoga Sugama dan Ali Moertopo hingga Soeharto untuk menyakan pelemahan yang terjadi di tubuh Marinir. Hartono kritik keras kebijakan yang dilakukan Soeharto
Mazzini @mazzini_giusepe
21. Pada Selasa Malam 5 Januari 1971 malam Letjend Hartono menerima dua tamu ketika di rumah ibunya, di Jl. Prof. Soepomo, Jakarta, mereka bercakap sampai subuh. Saat hendak menyiapkan sarapan, subuh itu sang ibu, Nyonya Prawirosoetarto, mendengar suara kaca pecah.
Mazzini @mazzini_giusepe
22. Nyonya Prawirosoetarto bergegas ke sumber bunyi, ternyata di ruang kerja tempat anaknya berbincang dengan tamunya itu, dia lihat putranya sudah tak bernyawa. Kepalanya bersimbah darah, sepucuk pistol yang bukan miliknya tergeletak di sebelahnya, dan kedua tamu itu raib sudah.
Mazzini @mazzini_giusepe
23. Melihat kejadian tersebut Polisi muncul di TKP, lalu membawa jenazah Letjend Hartono ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), bukan ke Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) atau ke RSCM yang sebenarnya lebih dekat ke Jl. Prof. Soepomo.
Load Remaining (20)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.