2
rumahkliping @rumahkliping1
"WANITA ITU" #FIKSI #CREEPY Lokasi itu segera ditandai dan dibongkar. Mereka menemukannya sudah dalam bentuk tulang belulang. pic.twitter.com/iwsLjRGIJ6
Expand pic
rumahkliping @rumahkliping1
Akhir-akhir ini aku menerima tamu seorang wanita yang duduk menyendiri di sebuah kursi dekat jendela. Setiap kali datang dia memesan caffe latte. Dia tidak melakukan apa-apa, dia hanya duduk, memasang earphone, kemudian menatap ke luar jendela.
rumahkliping @rumahkliping1
Dia hanya menoleh sebentar saat aku mengantarkan pesanannya. Setelah itu, dia akan terpaku seperti itu. Di saat pertama kalinya dia datang aku mengamati gaya berpakaiannya. Ia mengenakan syal, rambut
rumahkliping @rumahkliping1
dikuncir kuda, pakaian tebal berbahan wol, dan celana jeans skinny. Ku pikir memang tak masalah di hari yang sedang mendung seperti itu mengenakan pakaian tebal berbahan wol. Tamu hari itu cukup banyak, sehingga aku tak sempat memperhatikan ekspresinya terus menerus.
rumahkliping @rumahkliping1
Setelah aku melayani tamu yang entah keberapa aku baru bisa melihat ke arahnya. Saat itu, dia sedang menyerupu caffe latte yang kubuatkan untuknya. Dia nampak menikmati setiap sesapannya. Ada cream putih menempel tipis
rumahkliping @rumahkliping1
di bibirnya saat itu, dan dia menyingkirkan itu dengan ujung lidahnya. Saat itu kupikir dia akan melihat ke arah lain, misalnya saja memperhatikan lukisan yang ku tempelkan di dinding seberang tempat duduknya.
rumahkliping @rumahkliping1
Ternyata aku keliru, dia kembali mengamati luar jendela yang kering, dipenuhi debu, juga warna yang pucat. Aku kira dia menunggu seseorang. Sampai aku sadar, dia tidak sedang menunggu siapapun.
rumahkliping @rumahkliping1
Aku tak ingat dia datang jam berapa, tapi dia pulang setengah jam sebelum café ini tutup. Dia membayar dengan uang cash. Pada saat itu aku bisa melihat kuku jarinya dicat dengan warna merah—sebagian catnya sudah terkelupas.
rumahkliping @rumahkliping1
“Berjam-jam dia di sini tapi cuma minum segelas caffe latte dan melihat keluar jendela,” kata kasir setelah melihat wanita itu menghilang dari dalam ruangan. “Kamu memperhatikannya juga?”
rumahkliping @rumahkliping1
“Yah, aneh saja, dia terlihat cantik, tapi sorot matanya itu, ngeri” “Menurutmu begitu?” “Iya, coba saja besok kalau kamu lihat dia datang lagi, lihat sorot matanya yang… umm.. ah, pokoknya begitulah, aku tak bisa jelaskan,” “Mungkin dia tidak akan kembali,”
rumahkliping @rumahkliping1
“Sepertinya tidak,” “Oh ya? Dari mana kamu tahu?” “Dia duduk sangat lama di sini, artinya dia nyaman dengan café kita, dia pasti akan kembali,”
rumahkliping @rumahkliping1
Kasir dan sekaligus sahabatku bernama Rina itu berjalan menutup pintu dan membalik tanda open-close. Rina kembali duduk di belakang meja kasir untuk membuat data pemasukan dan pengeluaran harian. Kami akan tahu perkembangan manajemen
rumahkliping @rumahkliping1
café kami dari laporan itu. Sementara dia bekerja dengan angka, aku bekerja membersihkan gelas dan piring-piring cake.
rumahkliping @rumahkliping1
Selang beberapa hari kemudian, dia datang lagi. Dia mengenakan sweater, dengan syal, dan bercelana jeans rapper warna hitam. Wajahnya dihiasi sebuah kacamata yang menggantung di hidungnya. Dia pesan menu yang sama dengan sebelumnya.
rumahkliping @rumahkliping1
Dia wanita yang sama, yang memiliki selera fashion tidak umum. Aku bertanya-tanya apakah dia seorang model? Karena tinggi badannya cukup proposional untuk jadi model, mungkin sekitar 170 cm.
rumahkliping @rumahkliping1
Sebelumnya aku tak ingat apakah dia memakai gincu atau tidak, kali ini aku memperhatikan wajahnya lebih mendetail. Di kunjungannya yang kedua, dia mengenakan make up natural, dan memakai lipstick warna merah.
rumahkliping @rumahkliping1
Sementara kukunya, di kunjungan yang kedua kuku jarinya sudah berubah warna menjadi warna hijau. Kurasa dia suka mengekspresikan dirinya dalam fashion dan make-up. Dalam sekejab aku bisa melihat
rumahkliping @rumahkliping1
dia mengenakan earphone seperti sebelumnya saat dia sudah duduk di kursi—yang kelihatannya menjadi favoritnya. Di kunjungannya yang kedua, aku bisa mengamatinya lebih lama karena pengunjung café tidak terlalu
rumahkliping @rumahkliping1
ramai. Aku bisa memperhatikan satu-satunya tamu kami mulai dari jam 8 malam itu. Wanita itu. Dia membiarkan suhu caffe latte jatuh drastic baru meminumnya. “Dia datang lagi?” tiba-tiba Rina berbisik di telingaku.
rumahkliping @rumahkliping1
Aku agak kaget karena tak melihat kedatangannya. “Bagaimana menurutmu? Sudah lihat sorot matanya?” “Tidak keliatan, dia pakai kaca mata hari ini,”
rumahkliping @rumahkliping1
“Ah, dasar pria tolol, meskipun pakai kacamata aku bisa melihat sorot matanya itu…. masih seram,” Saat aku mengamatinya, dia sedang memperhatikan keluar jendela. “Tak tahulah, aku tak bisa lihat,” kataku sambil menyibukkan diri mengelap gelas-gelas.
rumahkliping @rumahkliping1
“Dasar tak peka!” dia menggerutu sambil berlalu Sambil menyibukkan diri aku memperhatikannya diam-diam. Dia terlihat ngungun ke suatu arah yang tak ku mengerti. Pada saat itu aku berharap kawanku yang suka menulis cerpen segera datang. Aku ingin
rumahkliping @rumahkliping1
tahu apa pendapatnya tentang wanita itu, mungkin kawanku juga bisa mendapatkan ide baru. Apa aku perlu menghubunginya? Tanyaku dalam hati. Tapi aku urungkan niatku itu, karena aku tahu kawanku sedang tidak ingin diganggu,
rumahkliping @rumahkliping1
dia sedang dikejar deadline untuk merevisi beberapa bagian dari novelnya. Katanya, pekerjaan itu lebih sulit daripada merevisi artikel berita. “Butuh kekuatan membunuh yang amat besar!” katanya.
Load Remaining (23)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.