#FIKSI #CREEPY Dibubuhkannya Bubuk Racun Mematikan ke Dalam Makanan dan Diberikannya pada.... (Pembunuhan Berencana)

fiksi creepy dimulai untuk meningkatkan jenis bacaan di twitter, kali ini tentang pembunuh berdarah dingin
STORY Pembunuhan FUN fiksi cerita murder creepy KILLER
0
rumahkliping @rumahkliping1
Di hari minggu siang, seorang guru tua yang sudah hampir pengsiun digelandang ke kantor polisi. Para tetangga yang menyaksikan kejadian itu terheran-heran, mereka bertanya-tanya terlibat kasus apa si guru tua yang besahaja ini?
rumahkliping @rumahkliping1
Sampai-sampai harus dinaikkan ke mobil polisi? Tiap hari Pak Guru berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda ontelnya. Sepeda itu dimilikinya sudah sejak dia sekolah dulu. Sudah tak terhitung berapa kali dia membenarkan setang sepedanya yang sering tidak nyaman, entah
rumahkliping @rumahkliping1
sudah berapa puluh kali pula dia menembel bannya yang bocor, jika sudah tidak dapat ditembel lagi, barulah dia membelikan ban baru. Sedelnya juga sudah beberapa kali ganti karena dimakan usia sehingg aus kenyamanannya.
rumahkliping @rumahkliping1
Tetangga-tetangga saling berbisik, apa yang dilakukannya sampai tangannya diborgol seperti itu? Kenapa keluarganya sampai menangis tak karuan seperti itu? Istrinya terlihat menangis histeris sambil memukul-mukul tubuh suaminya sebelum dinaikkan ke mobil polisi.
rumahkliping @rumahkliping1
Setelah suaminya digelandang polisi, istrinya menangis sesenggukan di pangkuan salah seorang saudara dekat mereka. “Sudah mbakyu, ikhlaskan,” bujuk tetangganya yang iba dengan istri sang guru. “Apa yang terjadi Bu Upi?” tanya tetangganya pada saudara guru itu.
rumahkliping @rumahkliping1
Bu Upi yang ditegur adalah seorang perempuan paruh baya, rambutnya telah beruban, tubuhnya agak gembrot, hanya bisa meneteskan air mata sambil memeluk istri guru yang juga sudah beruban. “Lo kok malah sama-sama nangis,” tegur tetangga yang lain lagi.
rumahkliping @rumahkliping1
Pak RT sudah berada di sana sejak terdengar bisik-bisik tetangga, orangnya berkacamata. Dia langsung masuk ke kerumunan orang-orang seraya menghimbau, “Jangan bertanya apa-apa dulu, biar mereka menenangkan diri dahulu, kalian pulang
rumahkliping @rumahkliping1
ke rumah masing-masing, biar saya dan Pak Hansip di sini.” Dua orang hansip yang sudah berada di tempat langsung mengamankan para warga setelah mendengar himbauan itu.
rumahkliping @rumahkliping1
Setelah warga bubar, isak tangis dari istri si guru terdengar lebih keras di telinga. Bu Upi saudara dekat istri guru itu mengambilkan air minum. Istri guru yang diketahui namanya sebagai Ratna menahan tangisnya dan meminum air putih yang
rumahkliping @rumahkliping1
dibawakan sepupunya itu, terdengar dari mulutnya istighfar terus menerus. Ketua RT memandangi kedua orang bersaudara itu. Perlahan-lahan dia mencari keterangan, “Sesungguhnya apa yang terjadi?” Istri guru itu kembali menangis, dia tak kuasa untuk menjawab, sementara itu
rumahkliping @rumahkliping1
sepupunya berusaha untuk tidak memberikan keterangan apapun pada orang lain, “Maaf Pak RT kami belum bersedia membuka masalah ini pada warga, kami ingin agar masalah ini terang dulu adanya, mohon dimaklumi,”
rumahkliping @rumahkliping1
Pak RT menelan ludah, lalu memberi isyarat pada dua orang hansip yang berdiri tak jauh dari mereka. “Kalau begitu saya pamit, tenangkan diri anda berdua, saya akan tinggalkan hansip di sini, jika perlu bantuan anda berdua tinggal minta pada mereka,”
rumahkliping @rumahkliping1
Kedua hansip itu saling pandang, “Be…benar bu, kami ada di sini,” kata hansip yang berbadan kurus. “Tidak, kami berterimakasih atas bantuannya, tapi kami tidak ingin ditemani siapa-siapa,”
rumahkliping @rumahkliping1
“Apa anda yakin?” tanya Pak RT memastikan. “Iya Pak, mohon maaf,” “Ya sudah, tapi kalau anda masih membutuhkan bantuan, panggil saja saya atau mereka,” kata Pak RT
rumahkliping @rumahkliping1
“Tentu terimakasih,” Pak RT memberi isyarat pada kedua hansipnya untuk meninggalkan tempat. Kedua hansip itu mengikutinya dari belakang. Si hansip yang berbadan agak gemuk melirik
rumahkliping @rumahkliping1
pada Ratna, dia masih terisak, tangannya memukul-mukul dadanya, perlahan, tapi pastilah sakit sekali yang dirasakannya. “Apa Pak Guru selingkuh?” bisik hansip agak gemuk itu pada si hansip kurus.
rumahkliping @rumahkliping1
“Hush!” dibalas dengan berbisik pula oleh si kurus. “Kalau cuma selingkuh kenapa harus dibawa polisi?” “Sudah, jangan berkata apa-apa, nanti jadi fitnah,” tegur Pak RT. Para tetangga juga menanyakan hal yang sama, apa pak Guru sudah berubah menjadi
rumahkliping @rumahkliping1
pencuri? Atau pemerkosa seperti kasus-kasus yang pernah dilihat di tivi? Para warga membincangkan kejadian itu di mana-mana, warung, jalanan, masjid, dan rumah-rumah. Bu Upi, sepupu Ratna menghampiri setelah Pak RT dan kedua hansip tak kelihatan
rumahkliping @rumahkliping1
lagi. Tadinya, dia datang ke rumah Ratna hanya mau mengantar berkat syukuran anaknya yang akan menikah seminggu lagi melalui pintu belakang rumah. Akan tetapi, ketika sampai di sana, dia mendengar ada keributan kecil antara Ratna dengan
rumahkliping @rumahkliping1
suaminya, dan dilihatnya ada beberapa polisi di sekitar mereka. Upi tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia melihat Ratna hampir pingsan saat itu, segera saja dia muncul di antara mereka dan memapah Ratna, sementara sang suami digiring polisi.
rumahkliping @rumahkliping1
“Ratna, apa aku perlu menghubungi anak-anakmu? Mungkin ada di antara mereka yang pulang dan membantumu,” “Jangan, jangan beritahu mereka dahulu,” kata Ratna, lirih tapi masih terdengar oleh Upi. “Lalu apa yang akan kamu lakukan?”
rumahkliping @rumahkliping1
“Aku belum tahu, aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar, Mbak,” kata Ratna, air matanya mengalir lagi. “Aku mengenalnya sebagai orang yang santun, baik, dan dia guru yang dikenal baik di masyarakat, kenapa dia harus
rumahkliping @rumahkliping1
lakukan ini? dia menghancurkan apa yang telah terbangun selama ini,” Ratna memukul-mukul dadanya lagi. Upi berusaha menghentikan itu, dia ikut menangis melihat adik sepupunya sedemikian terpukul. “Istighfar, Dek, Istighfar…"
Load Remaining (14)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.