2
Brii @BriiStory
Banyak dari kita pernah merasakan seperti terjebak dalam satu situasi yang mengerikan, menciutkan nyali sampai titik terendah, entah itu di rumah atau tempat kerja. Keadaanlah yang akhirnya memaksa untuk menghadapi semuanya, pasrah dalam ketakutan. @InfoMemeTwit pic.twitter.com/YBdYA4Q8XR
Expand pic
Brii @BriiStory
Seperti yang dirasakan oleh Mas Yono dkk ini, ketika bekerja di salah satu gedung pencakar langit di jantung ibu kota, Jakarta. Seperti biasa, Mas Yono langsung yang akan bercerita, di sini, di Briistory. ***
Brii @BriiStory
Ruas jalan Sudirman masih padat ketika aku melintasinya, ya memang masih termasuk jamnya pulang kerja. Tapi itu orang lain, sementara aku jam delapan malam malah harus berangkat menuju tempat kerja. Beginilah nasib pekerja yang terikat dengan shift, pagi siang dan malam.
Brii @BriiStory
“Yon, kamu jaga pos dulu ya. Biar Hamdan yang patroli duluan.” Ucap Amri ketika aku baru saja sampai di basement satu, tempat di mana pos sekuriti berada. “Oke Mas.” Jawabku pendek. Setelahnya aku berganti pakaian, mengenakan seragam.
Brii @BriiStory
Gak terasa, sudah hampir satu tahun bekerja di gedung ini. Sudah cukup banyak pengalaman yang aku dapat, selain itu juga aku dapat banyak teman baru, entah sesama sekuriti atau pun para karyawan yang bekerja di gedung ini. Secara keseluruhan, aku menikmati bekerja di gedung ini.
Brii @BriiStory
Tapi, ada ganjalan yang jadi beban di dalam hati, terkadang aku merasa kurang nyaman dengan situasi gedung ini pada malam hari. Maka dari itu aku sedikit “gemetar” apa bila sedang mendapatkan giliran kerja malam, walaupun terkadang banyak kejadian aneh juga di siang hari.
Brii @BriiStory
Tapi mau gimana lagi, resiko pekerjaan yang harus dijalani.
Brii @BriiStory
Gedung ini seperti hidup, banyak “kegiatan” yang sering kali gak masuk logika. Aku sering kali membahasnya dengan rekan sesama sekuriti, terkadang dengan teman karyawan lain. Beberapa kejadian yang cukup aneh dan menyeramkan akan aku ceritakan pada malam ini.
Brii @BriiStory
Selepas jam kerja, di salah satu gedung di bilangan Sudirman Thamrin, Jakarta. ***
Brii @BriiStory
Setelah sudah siap dan berpakaian dinas, aku duduk di kursi depan layar monitor cctv. Memperhatikan dan mengawasi keadaan situasi gedung melalui layar besar yang berbaris di hadapan.
Brii @BriiStory
Segelas kopi dan sebatang rokok menemani, membantu agar tetap terjaga. Sementara Iwan duduk di ruang sebelah menonton televisi, menunggu gilirannya berpatroli.
Brii @BriiStory
Malam ini kami bertugas dengan lima personil, Amri dan Roni menjaga pos depan dan belakang, Hamdan sedang patroli gedung, aku dan Iwan masih menjaga pos. Penempatan ini akan berlangsung selama dua jam ke depan, setelah itu kami berganti tugas.
Brii @BriiStory
Sudah hampir jam sebelas malam ketika suara Hamdan terdengar melalui melalui radio komunikasi. “Pos satu, di sini Hamdan.” “Di sini Yono, ada apa Dan?” Tanyaku. “Yon, Gw di lantai lima belas nih, bisa bantu tolong lihat di ruangan staf PT. Sentosa gak?” Begitu katanya.
Brii @BriiStory
Aku langsung memeriksa ruangan yang dimaksud oleh Hamdan di lantai lima belas, melihatnya melalui layar monitor. “Gak ada apa-apa Dan, ruangan udah kosong. Emang ada apa?” Tanyaku ketika sudah mengecek melalui cctv.
Brii @BriiStory
“Coba lo liat ruangan kaca yang di pojok, masih ada orang gak?” Tanya Hamdan lagi.
Brii @BriiStory
Lantai lima belas adalah lantai yang digunakan oleh perusahaan marketing, bergerak di bidang property. Memang, sering kali ada karyawannya yang bekerja sampai larut malam, kadang sampai hampir jam dua belas malam.
Brii @BriiStory
Termasuk GM-nya yang memiliki ruangan sendiri, yaitu ruangan kaca yang letaknya di pojok, ruangan yang Hamdan tanyakan. Tapi, di jam sebelas ini aku melihat kalau seluruh ruangan di lantai lima belas sudah kosong, termasuk ruagan GM.
Brii @BriiStory
“Gak ada orang, udah kosong, sepi. Ada apa Dan?” Tanyaku kemudian. “Komputer di ruangan kaca nyala gak?” Tanya Hamdan lagi. “Gak Dan, mati. Ada apa sih?” Sekali lagi aku tanya Hamdan.
Brii @BriiStory
“Nanti aja ceritanya. Lo stand by terus ya, jangan ke mana-mana.” Tutup Hamdan seraya melanjutkan patrolinya. Dari nada bicaranya terlihat sekali kalau dia melihat atau sedang merasakan sesuatu, aku yakin.
Brii @BriiStory
Sekitar jam dua belas, akhirnya Hamdan sudah kembali ke pos. Gak berbasa-basi aku langsung bertanya tentang percakapan kami tadi sebelumnya. “Emang tadi di lantai lima belas ada apa Dan?” Tanyaku. Lalu Hamdan bercerita.
Brii @BriiStory
Jadi, seperti biasa, dia berpatroli berkeliling di dalam gedung, lantai demi lantai, memastikan kalau situasi dan keadannya sudah aman. Kami selalu mulai berkeliling dari lantai paling atas, lalu satu persatu lantai di bawahnya kami periksa sampai ke basement.
Brii @BriiStory
Menurut Hamdan, dari lantai paling atas sampai ke lantai enam belas keadaannya normal dan situasinya aman. Memang ada beberapa karyawan yang masih bekerja, tapi mereka sudah bersiap untuk pulang, sementara ruangan dan lantai lainnya lebih banyak yang sudah kosong.
Brii @BriiStory
Nah, kejadian aneh terjadi ketika Hamdan sampai di lantai lima belas. Keluar dari lift lampu di lobby sudah mati, tapi walaupun begitu Hamdan tetap harus melakukan patroli, memeriksa situasinya.
Brii @BriiStory
Yang pertama dia datangi adalah pintu yang menuju ruang staf, ruangan ini sangat besar, karena dapat menampung belasan hingga puluhan karyawan, di ujung ruang staf ada ruangan kaca yang ditempati oleh General Manager.
Brii @BriiStory
Ruang kaca ini letaknya paling ujung, paling jauh jaraknya dari pintu utama. Di sebelah kirinya, beberapa belas meternya kira-kira jaraknya, ada pintu menuju mushala dan ruangan yang biasanya digunakan untuk meeting.
Load Remaining (54)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.