10
Olphi Disya Arinda @disyarinda
Gaya pengasuhan orang tua punya pengaruh ke kepribadian kita? Oh jelas. Jadi gini... A thread.
Olphi Disya Arinda @disyarinda
Banyak faktor yg memengaruhi pembentukkan kepribadian. Salah satunya adalah gaya pengasuhan orang tua atau significant person (bisa pengasuh lain). Oleh karena itu, yg akan gue bahas bukan tipe kepribadian. Tapi respons perilaku anak sebagai sample dari kepribadian saat dewasa.
Olphi Disya Arinda @disyarinda
Sumbernya dari Henry Stein yg mengutip Hugh Misseldine di buku Your Inner Child of the Past berlandaskan teori Individual Psychology dari Alfred Adler. Ada 11 parenting style. Gue nulis pelan-pelan jadi mohon bersabar πŸ˜ŠπŸ™πŸ»
Olphi Disya Arinda @disyarinda
1. Democratic and encouraging Anak diberikan kesempatan utk berkembang sesuai kemampuannya, dianggap setara dan punya peran penting di keluarga, loved & accepted, didorong utk menerima tantangan tapi juga dibimbing utk mengatasinya. The most ideal style of parenting nih!
Olphi Disya Arinda @disyarinda
S.O. (sikap ortu): menerima keunikan anak, mencintai, menghormati, dan merasa setara dgn anak (dlm artian ortu juga mau menerima masukan dari anak). Ortu juga mendorong anak utk memperbaiki kesalahan & mengembangkan kapasitas. Membimbing anak utk punya kontribusi. Ini ortuku ❀
Olphi Disya Arinda @disyarinda
R.A. (respons anak): merasa aman, nyaman, dicintai, dan diterima. Punya kekuatan yg berasal dari pengalaman mengatasi kesulitan. Punya kepuasan akan pencapaian dan kontribusi. Gak takut nyoba dan gagal. Melihat dunia sebagai tempat yg ga mengancam karena feel secured & loved.
Olphi Disya Arinda @disyarinda
2. Over-indulgent Anak hidup dgn berbagai kemudahan melalui layanan, materi, atau hal-hal yang sifatnya non-emotional. Contoh: dibeliin barang mewah, punya banyak pelayan. Kalau kata orang sekarang tuh spoiled bgt. Tapi bikin anak bosenan, pasif, gak dekat sama ortu 😭
Olphi Disya Arinda @disyarinda
S.O.: memberikan berbagai privilege, hadiah, layanan yg melimpah tapi gak paham sama kebutuhan anak yang sebenarnya. Tipe ortu yg "mama papa aja yg berusaha, kamu tau beres aja". Jadi gak membiarkan anak berupaya, terlalu memanjakan. Bisa juga karena gak percaya sama skill anak!
Olphi Disya Arinda @disyarinda
R.A.: bosenan, takut terlihat beda atau takut nyoba. Kehilangan inisiatif dan spontanitas. Berharap semua hal datang untuknya. Melihat orang lain sebagai pihak yg bisa menyediakan/memenuhi kebutuhannya mendapatkan kesenangan. Jadi pemalas dan prefer ngandelin/ngerepotin orang πŸ™ƒ
Olphi Disya Arinda @disyarinda
3. Over-submissive Anak bagaikan baginda raja yang semua-muanya diiyain, dituruti, dan dipenuhi permintaannya. Ortu manut aja, jadi anaknya demanding dan impulsif πŸ€¦πŸ»β€β™€οΈ
Olphi Disya Arinda @disyarinda
S.O.: menuruti segala rengekan, permintaan, suruhan, paksaan, dan impusivitas anak. Anak dianggap seperti bos dan ortu adalah pelayan. Can't say no. Mikirnya, nurutin anak = membahagiakan anak. Padahal kan ndak gitu ya.
Olphi Disya Arinda @disyarinda
R. A.: melakukan apapun, termasuk hal-hal dramatis, agar keinginannya dipenuhi. Gak peduli sama kebutuhan/kondisi orang lain, jarang puas dan suka maksa. Kalau gak diturutin, ada aja lakonnya. Ya ngambek lah, ya ngancem lah, ya murka lah... jadi harus banget keturutan :(
Olphi Disya Arinda @disyarinda
Bedany 2 & 3 apa? Bedanya: 2. Anak gak minta tapi di-supply terus dan sebenarnya belum tentu butuh 3. Anak minta lalu diturutin dgn anggapan biar anak gak drama Persamaan? Tujuannya. Maksud hati pengen nyenengin, tapi caranya gak bikin anak punya kepribadian yg tangguh πŸ’πŸ»β€β™€οΈ
Olphi Disya Arinda @disyarinda
4. Over-coercive Anak seperti halnya (maaf) hewan yg akan dilatih. Orang tua terus menerus memberikan arahan (atau bahkan perintah) yg sifatnya mutlak. Apapun yg terjadi, anak mesti nurut. Biasanya dengan dalih: "In1 y4n9 t3rb4ik uNtuK k4mU" Dan biasanya juga, ada kata "HARUS"
Olphi Disya Arinda @disyarinda
S.O.: supervisi dan arahan yang konstan alias kayak gak udah-udah. Instruksi seperti gak akan ada habisnya. Suka ngingetin berkali-kali. Overly strict 😰 Contoh: "Pokoknya kamu harus nurut. Kamu harus pakai ini, kamu harus begini. Setelah itu begini. Inget ya!" Siap, Ndan.
Olphi Disya Arinda @disyarinda
R.A.: ada 3 kemungkinan responsnya. 1. Submisif: nurut, patuh banget, penakut 2. Rebel: dari penolakan verbal, berontak secara nyata (overt defiance) 3. Passive-resistance: memendam, mengabaikan, berontak secara licik (covert defiance)
Olphi Disya Arinda @disyarinda
Contoh respons: 1. "Iya ma/pa" trus ya udah patuh aja 2. "Ih apaan sih ngatur-ngatur mulu!" Jadinya marah-marah dan kabur. 3. "Iya ma/pa" tapi diam-diam punya rencana jahat terhadap ortunya kayak di sinetron Begitulah kira-kira πŸ€·πŸ»β€β™€οΈ
Olphi Disya Arinda @disyarinda
5. Perfectionistic Anak bagaikan runner yg harus berlari dengan finish line yg ditetapkan ortu. Tapi pas udah di finish line, ortu gak puas dan masih minta anak utk terus naikin standar kemampuan. YHA LELAH DONG, MAMAH. Sedi :(
Olphi Disya Arinda @disyarinda
S.O.: hanya akan menerima anak KALAU anaknya berhasil atau sesuai harapan aja. Kalau anak gagal, ya senewen. "Nah gitu dong anak papah" - saat juara 1 "Kamu kok bisa-bisanya ga juara 1?!" - saat kalah Standar tinggi (bahkan ketinggian) dan cenderung sulit puas. HADEEEEHH!!1!!1!
Olphi Disya Arinda @disyarinda
R.A.: selain capek, anak jadi ga puas sama dirinya. Selalu berusaha tapi gak tau bahwa dirinya punya batas kemampuan. Saat gak mencapai standar ortu, jadi merasa gak berharga (ini sedih banget sih). Bisa burnout dan "menyerah". Atau malah jadi sakit fisik (kronis/komplikasi) :((
Olphi Disya Arinda @disyarinda
6. Excessively responsible Anak dituntut untuk mengemban tanggung jawab yg cukup besar. Misalnya mesti kerja, ngurus kerjaan rumah tangga yg selayaknya dikerjakan orang dewasa, ngurus adik/nenek kakek dan tanggung jawab lainnya. Nulisnya aja w capek apalagi dibesarkan begitu :(
Olphi Disya Arinda @disyarinda
S.O.: kondisi ini mungkin terjadi karena faktor ekonomi (kemiskinan), ada anggota keluarga yg perlu perawatan intensif atau yg dibesarkan oleh single-parent; meski gak semuanya. Jadi, anak gak keurus dan malah dibebankan hal-hal yg gak seharusnya diemban.
Olphi Disya Arinda @disyarinda
R.A.: anak jadi stres, merasa harus bisa seperti orang dewasa sebelum waktunya, kehilangan waktu bermain seperti anak seusianya, dan gak merasa diperhatikan. Ketika dewasa bisa jadi sulit sosialisasi dgn yg seumuran dan merasa segala hal adalah tanggung jawabnya πŸ˜₯ Y gmn y.
Olphi Disya Arinda @disyarinda
7. Neglecting Antara ada dan tiada. Hadir tapi kayak gak sepenuhnya hadir. Secara fisik, ortunya ada. Tiap hari serumah dan ketemu. But emotionally unavailable. Jangankan memenuhi kebutuhan, didengar aja mungkin menjadi sebuah kemewahan 😭😭😭😭
Olphi Disya Arinda @disyarinda
S.O.: bisa jadi karena sibuk kerja, kemiskinan, perceraian, adiksi, atau sakit keras... ortu seringkali ga hadir secara emosional. Dan parahnya, gak menyediakan waktu untuk anak sehingga "yang penting gue masih bisa ngasih makan, tempat tinggal, biaya sekolah" jadi hal lumrah :(
Load Remaining (15)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.