0
IG: @InfoSeni @infoseni_
7 Ton Apem 'Yaa Qowiyyu' Siap Disebar di Saparan Jatinom Klaten detik.id/6CGkBe #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Puncak tradisi religi Yaa Qowiyyu di Jatinom, Klaten diadakan setiap tanggal 15 Sapar bulan kedua dalam kalender Jawa, bertepatan dengan 18 Oktober 2019. Namun rangkaian religi dan budaya, sudah digelar sejak 6 Oktober. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Dalam perhelatan itu, penyelenggara membagikan tujuh ton kue apem (penganan dari tepung beras yang didiamkan semalam dengan mencampurkan telur, santan, gula dan tape serta sedikit garam kemudian dibakar atau dikukus) #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Apem dibuat gunungan lalu dibagikan dengan cara dilemparkan ke belasan ribu warga yang saling berebut. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
“Apem ini sedekah dari masyarakat. Kalau beratnya sekitar 7 ton,” kata Sekretaris Lembaga Pengelola, Pelestari Peninggalan Kyai Ageng Gribig, Moh. Sudaryanto di Yogyakarta, Selasa, 8 Oktober 2019. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Tradisi keagamaan dan budaya Yaa Qowiyyu sudah berjalan sejak abad ke-16, dan dilaksanakan di Jatinom, Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Tahun ini memasuki babak baru, dan semakin menampilkan potensi budaya masyarakat yang berwarna-warni. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Tradisi Ya Qowiyyu ini juga sering disebut Saparan. Tradisi ini menyatukan religi dengan tradisi atau budaya lokal. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Tradisi menyebar kue apem ini diprakarsai oleh tokoh sejarah Kyai Ageng Gribig (keturunan Raja Bhrawijaya V dari Keraton Majapahit), sekaligus juru dakwah dari Wali Sanga. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Tahun ini rangkaian upacara tradisi Yaa Qowiyyu yang digelar pada bulan Sapar (Saparan) bertambah meriah dengan hadirnya sejumlah acara penting lainnya. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
"Nguri-uri Dadi Mberkahi" merupakan tajuk yang dipilih untuk tahun ini. Maksudnya dengan upaya yang terus-menerus masyarakat menjaga kearifan masa lalu. Dengan sendirinya keberkahan-keberkahan masa lalu akan turut menyertai perjalanan masyarakat luas. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Sejumlah agenda baru dalam rangkaian acara antara lain bangkitnya sejumlah kesenian masyarakat Desa Jetis di Kecamatan Jatinom yang akan dipergelarkan di desa mereka. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Lalu pembuatan panggung pertunjukan, serta lomba pembuatan apem, lomba memancing, bazaar makanan dan jajanan, dan sejumlah pergelaran seni. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Warga juga mulai bangkit dengan menyiapkan rumah-rumah penduduk sebagai homestay, untuk menerima ribuan tamu yang akan hadir selama lebih dari sepekan ini. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
“Juga ada lomba Jemparingan (panah tradisional) yang digelar oleh Yayasan Ash-Shomad yang ke-19, juga ada wayang kulit,” kata dia. Selain itu juga ada pameran fotografi “Wangsul Jatinom” oleh Dr Mia Sismadi. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Juga ada diskusi warisan dan nilai-nilai Kyai Ageng Gribig oleh Ki Hadjar Poerwatjarita. Tak kalah menarik adalah Parade Nusantara dengan hadirnya para seniman muda dari berbagai daerah. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Tradisi sebar apem ini dilakukan sejak 1511 tahun Saka atau 1688 Masehi. Yaitu pada akhir masa Sultan Agung. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Yaa Qowiyyu diambil dari doa “Yaa qowiyyu, yaa aziz, qowwina wal muslimiin, yaa qowiyyu warzuqna wal muslimiin.” “Minta kekuatan kepada Allah. Kuat dalam beragama, kuat jasmani dan kuat ekonomi,” kata Sudaryanto. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Apem, kata dia sebenarnya berasal dari kata afwan (bahasa Arab), yang artinya minta maaf dalam bahasa Indonesia. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Saat itu, Kyai Ageng Gribig yang punya nama asli Syekh Wasibagno Timur ini membagikan makanan atau kue yang ia bawa dari Arab saat naik haji. Penganan itu ukurannya besar lalu dipotong-potong dan dibagikan kepada para santrinya. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
“Saat ditanya santrinya, Kyai Ageng Gribig menjawab njaluko ngapuro. Afwan, afwan. Tapi karena lidah Jawa, santri itu menyebut dengan nama apem,” kata dia. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Acara inti Yaa Qowiyyu dipusatkan di Masjid Besar Jatinom Klaten, yang berada satu kompleks dengan makam Kyai Ageng Gribig. Banyak peziarah yang datang ke makam beliau di bulan Sapar. #SaparanYaaQowiyyuJatinom pic.twitter.com/lOxwM6fBEd
Expand pic
IG: @InfoSeni @infoseni_
Mia Sismadi, seorang dokter dan fotografer yang keluarganya asli Jatinom menyatakan, perpaduan gelar budaya dan religi ini sangat sesuai dengan ajaran hablun minallah dan hablun minannas. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Hubungan antara manusia dengan Allah yang terujud dalam titik keagamaan dan hubungan antara manusia dengan manusia terwujud dalam budaya. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Ritual apem atau yang disebut Ya Qawiyyu merupakan tradisi keagamaan yang ada di wilayah Klaten, Jawa tengah, tepatnya di Desa Jatinom. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
IG: @InfoSeni @infoseni_
Ritual Ya Qawiyyu yang berlangsung pada tiap bulan Sapar dalam kalender Jawa tau yang biasanya disebut sebagai Saparan. Tahun ini, ritual akan digelar pada 18 Oktober 2019. #SaparanYaaQowiyyuJatinom
Load Remaining (15)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.