0
Brii @BriiStory
Setiap kota yang pernah gw kunjungi hampir selalu punya sisi lain, terserah mau memandangnya dari sudut mana. Tapi ya begitu adanya.. Sama dengan Jember, di beberapa sudut memberikan pengalaman yang menarik. Gw akan coba cerita di sini, di Briistory. @InfoMemeTwit pic.twitter.com/boNuaLftDC
Expand pic
Brii @BriiStory
Sekitaran Maret atau April 2007, gw road trip ke Bali bareng Rai, Deddy, dan Ali. Rencana yang memang sudah kami rancang jauh-jauhari sebelumnya. Sengaja untuk gak milih tanggal musim liburan, supaya gak terlalu ramai wisatawan dan hotelnya juga gak terlalu mahal.
Brii @BriiStory
Kami berempat memang hobi jalan darat, menyusuri jalan dan tempat yang belum pernah dikunjungi. Sama juga dengan parjalanan ini, kami sengaja gak melalui jalan yang biasa orang-orang lalui, cari jalan pedesaan di selatan Jawa. Singkatnya, perjalanan pun dimulai.
Brii @BriiStory
Dari awal kami merencanakan untuk mampir di Jogja, untuk menginap satu malam di kota gudeg ini. Dulu, gw udah pernah cerita tentang pengalaman kami waktu bermalam di satu hotel di Jogja, hotel yang cukup menyeramkan.
Brii @BriiStory
Nah, malam ini gw akan cerita setelah bermalam di Jogja, masih dalam perjalanan menuju Bali. ***
Brii @BriiStory
Kami meninggalkan hotel jam delapan pagi setelah sarapan. Matahari sudah mulai menyengat terik, gw yang berada di belakang kemudi mengarahkan kendaraan menyusuri jalan di sisi selatan pulau jawa.
Brii @BriiStory
Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulung agung, dan seterusnya, akan menjadi kota-kota yang akan disusuri sampai nantinya berakhir di ujung timur pulau Jawa, lalu menyeberang ke Bali. Rencananya seperti itu..
Brii @BriiStory
Seperti yang gw bilang di awal, sebisa mungkin kami menghindari jalan besar, selalu memilih jalan desa dan pegunungan. Menikmati pemandangan, udara sejuk pedesaan dengan sawahnya dan pegunungan dengan hutan-hutan kecilnya.
Brii @BriiStory
Singkatnya, percakapan diselingi gelak tawa dalam kendaraan tiba-tiba menjadi berangsur sepi ketika menyadari kalau ternyata jalan yang sedang dilewati semakin lama semakin kecil, berangsur berubah dari jalan aspal menjadi jalan tanah.
Brii @BriiStory
Kota terakhir yang kami lewati tadi adalah Pacitan, itu yang gw ingat.
Brii @BriiStory
“Ini daerah mana sih? Lo lewat mana ini Brii?” Tanya Deddy yang mulai kelihatan bingung. Sama, gw juga bingung, ini jalan di mana? Kok malah jadi jalan tanah.
Brii @BriiStory
Kanan kiri tampak seperti hutan yang cukup rindang, tapi belum bisa disebut hutan belantara karena matahari masih masuk dengan sinarnya yang terang. Jalanan yang kami lewati letaknya seperti berada di bawah, kanan kiri datarannya lebih tinggi, seperti membelah gunung.
Brii @BriiStory
“Buset, ini ke mana ya? Apa kita balik lagi aja Brii?” Rai mulai gelisah, tapi idenya yang menginginkan kami untuk putar balik gw tentang. “Jangan dulu, tanggung, udah nyaris satu jam kita di jalan sepi ini.”
Brii @BriiStory
Oh iya, jalanan sepi, sangat sepi, sama sekali gak ada kendaraan yang melintas, entah itu motor apa lagi mobil. Sementara itu jalan semakin kecil dan terus mengecil sampai akhirnya hanya dapat dilewati oleh hanya satu kendaraan saja.
Brii @BriiStory
“Udahlah, muter aja Brii, serem nih tempatnya.” Ali akhirnya buka suara, sedari tadi dia hanya diam, seperti merasakan atau “melihat” sesuatu.
Brii @BriiStory
Benar, suasananya sudah mulai aneh, kami seperti melewati satu tempat antah berantah, sepertinya gak mungkin di pulau Jawa masih ada daerah yang masih gak berpenghuni. Sepi, hening, padahal jendela mobil kami buka sebagian, hanya suara mesin mobil yang terdengar.
Brii @BriiStory
Akhirnya, dari kejauhan terlihat ada seorang laki-laki yang mengendarai sepeda onthel, berjalan bergerak mendekat. Kami bisa bertanya ke orang itu tentang arah jalan. "Pak, jalan tanah seperti ini masih jauh gak ya?" Tanya gw ke bapak itu ketika kami berpapasan.
Brii @BriiStory
"Sebentar lagi mas, ada pasar sekitar lima belas menit lagi. Ikuti jalan ini saja.." Jawab bapak itu dengan logat jawa kentalnya. Setelahnya kami lanjut, sedangkan bapak bersepeda itu berjalan ke arah belakang, lalu menghilang di persimpangan.
Brii @BriiStory
Kami ikuti sarannya, benar saja, beberapa saat kemudian terlihat ada keramaian. Cukup lega, karena akhirnya ada tanda-tanda kehidupan.
Brii @BriiStory
Ketika sudah semakin dekat tempat yang cukup ramai itu, semakin terlihat jelas tempat itu berbentuk apa. Mobil sengaja gw jalankan dengan sangat pelan.
Brii @BriiStory
Ternyata pasar, jalan yang membelah di tengahnya ternyata juga masih jalan tanah, belum jalan aspal seperti apa yang dibilang bapak pesepeda onthel tadi.
Brii @BriiStory
Kanan kiri jalan ada bangunan dengan fungsimya masing-masing, sebagian besar adalah toko yang menjual macam-macam barang. Di emperan ada beberapa penjual juga, yang menjajakan dagangannya di atas teras toko.
Brii @BriiStory
Tapi ada yang aneh, membuat kami berempat terkesima. Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata semua bangunan di pasar itu berbentuk bangunan tempo dulu, seperti bangunan di kisaran tahun-tahun awal 1900-an. Sebelum Indonesia merdeka.
Brii @BriiStory
Orang-orangnya berpakaian seperti orang jaman dulu, yang wanita banyak yang berkebaya. Kendaraan yang melintas hanya kami, selain itu cuma sepeda dan kereta kuda, sepeda motor pun gak terlihat.
Load Remaining (75)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.