Plt Dirut BJB Syariah Sebagai Tersangka Kasus Kredit Fiktif

Plt Dirut bjb, pelaksana tugas Direktur Utama PT Bank Jabar Banten Syariah BJB Syariah Sebagai Tersangka
0

Plt Dirut bjb. Penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri menetapkan pelaksana tugas Direktur Utama PT Bank Jabar Banten Syariah (BJB Syariah), Yocie Gusman, sebagai tersangka.

Plt Dirut bjb. Ia dijerat dalam kasus dugaan pemberian kredit fiktif. Bank tersebut memberikan fasilitas pembiayaan kepada debitur atas nama PT Hastuka Sarana Karya untuk pembelian kios pada Garut Super Blok dengan plafond sebesar Rp 566,45 miliar selama periode Oktober 2014 hingga Juni 2015.

Penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik gelar perkara pada Senin (20/11/2017). Dalam hal ini, Yocie bertanggungjawab dalam pemberian kredit kepada PT Hastuka Sarana Karya.

Diduga, pemberian kredit itu dilakukan dengan melawan hukum. Dalam waktu dekat, penyidik akan memeriksa tersangka. "Kami masih menunggu waktunya,". Dalam kasus ini, pemberian pembiayaan kepada PT HSK dilakukan dengan mengalihkan 161 debitur end user sebesar Rp 566,45 milyar.

Adapun perbuatan melawan hukum yang dilakukan yaitu pembiayaan end user dengan akad murabahah yang artinya apabila selesai dibangun langsung dibayar tunai. Faktanya, uang dibayarkan sebelum proyek tersebut selesai.

Dengan demikian, terjadi potensi penggunaan uang kredit untuk peruntukan selain pembangunan GSB. Setelah didalami, 161 debitur itu kualitas pembiayaannya macet, dianggap tidak bankable, dan sebagian fiktif. Debitur diduga hanya rekayasa dari PT HSK. Selain itu, PT HSK tidak memberikan jaminan agunan sertifikat tanah induk pokok.

Di sisi lain kinerja bank bjb sangat baik dan sehat. Dari sisi funding bergerak cukup baik. Sisi pertumbuhan dana signifikan dalam beberapa periode terutama semester I-2019. Dari sisi lending bergerak cukup baik, pertumbuhan kredit bersifat captive market dan consumer tumbuh menggembirakan.

Pertumbuhan kredit di kisaran 8–9%, ini menggembirakan, kondisi makro harus kita lihat. pertumbuhan secara selektif kita lakukan. Modal adalah kepercayaan dari pemegang saham. Injeksi pemodal dibutuhkan karena pertumbuhan Bank BJB.

Pada akhir 2018 kemarin kami melakukan PMTHMETD (Penanaman Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) kami sudah disupport pemegang saham dengan tambahan Rp 280 miliar modal baru. Kami masih menunggu Rp 412 miliar dari pemegang saham dalam 1–2 tahun bisa dilakukan.

Pertumbuhan laba kami semester I-2019 Rp 803 miliar didorong oleh pertama cost of fund dengan adanya penurunan 7 days reverse repo rate sangat mendorong penurunan biaya dana, membantu laba rugi. Lalu kedua dari sisi NIM kami cukup baik sampai semester I-2019, NIM rata-rata 5,7% sd 5,8% persen, sehingga di atas rata2 perbankan. Rata-rata perbankan masih 4,9%.

Hal ini akan memberikan tambahan energi dengan adanya penurunan 7 days reverse repo rate kemarin dari BI. Kami berharap sampai akhir tahun pertumbuhan kita positif dan tentunya kami berharap dengan tambahan program digitalisasi akan membantu CASA rasio lebih baik. Dengan penurunan suku bunga stimulus lain, kami berharap perang dagang antara China dan AS akan cooling down pada semester II-2019 ini, tentunya RBB akan bisa dicapai sd akhir tahun, berharap pencapaian-pencapaian RBB terpenuhi.

Agus Mulyana sebagai Direktur Kepatuhan berhasil menerapkan pola manajemen risiko bank bjb dengan kualitas kredit perseroan yang terjaga baik. Selain itu, bank bjb berhasil menjaga non performing loan (NPL) pada level 1,7%. Angka ini lebih baik dari rata-rata NPL industri perbankan nasional hingga Mei 2019 yakni sebesar 2,61%.

Tangan dingin Agus Mulyana juga mampu membawa bank bjb meraih penghargaan TOP GRC 2019 #4 Stars karena dinilai telah menerapkan manajemen risiko dan kepatuhan yang sangat baik. Penghargaan ini dinilai dari tiga aspek utama, yakni sistem, infrastruktur dan implementasi tata kelola perusahaan.

Amul memang memiliki kredibilitas dan kemampuan yang luar biasa dalam memimpin divisi kepatuhan, berperan penting dalam meningkatkan kinerja bank pembangunan daerah terbaik di Indonesia ini. Amul lahir di Bandung tahun 1964. Menyelesaikan pendidikan S2 di Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 2007. Menjabat sebagai Direktur Kepatuhan bank bjb sejak 2019.

Jabatan lain yang pernah dipegang antara lain:

Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko bank bjb(2015–2019)

Pemimpin Divisi Corporate Secretary bank bjb(2014–2015)

Comment

No comments yet. Write yours!