Plt Dirut bjb Kinerja Menurun, Warga Jabar Inginkan Dirut Tak Bermasalah?

Sejumlah indikator memperlihatkan kinerja Bank Jabar Banten (BJB) mengalami penurunan? Pelaksana Tugas (PLT) Dirut dianggap tidak efektif?
0

Sejumlah indikator memperlihatkan kinerja bjb mengalami penurunan kinerja? setelah direktur definitif dipecat Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Plt Dirut bjb dianggap tidak efektif?

Plt Dirut bjb. Momentum Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) menjadi momentum bank urutan ke-14 nasional itu untuk kembali berbenah. "RUPS khususnya pemilihan Dirut baru akan menjadi pertaruhan bagi bank pembangunan terbesar nasional itu itu."

Gubernur Jabar sebagai pemegang saham mayoritas harus cermat dan hati-hati dalam memilih dirut BJB. Dirut harus memiliki rekam jejak yang bagus dan memiliki visi kepemimpinan yang kuat. Pemegang saham termasuk pemerintah kota dan kabupaten di Jabar harus memperhatikan rekam jejak calon. Misalnya ada calon yang terkait masalah hukum selayaknya tidak dipilih.

Misalnya salah satu calon dirut ada yang terlibat dalam dugaan penyalahgunaan wewenang dan kasusnya tengah ditangani Polda Jabar.

Kasus dugaan penyalahgunaan wewenang itu, disebut-sebut terkait dengan pelaksanaan fungsi manajemen risiko yang kurang berjalan dengan baik di dalam . Seperti munculnya kredit bermasalah dan praktek percaloan kredit pensiun di Bandung maupun kredit pegawai di Jakarta.

Jiika para pemegang saham tidak berupaya untuk memetakan seluk beluk perkara hukum ini, BJB akan memiliki risiko reputasi yang serius.

Tapi sebenarnya kalau kita telisik lebih dalam tak ada masalah dengan bjb dan lingkungan internal bjb sendiri.

Dari sisi funding bergerak cukup baik. Sisi pertumbuhan dana signifikan dalam beberapa periode terutama semester I-2019. Dari sisi lending bergerak cukup baik, pertumbuhan kredit bersifat captive market dan consumer tumbuh menggembirakan. Pertumbuhan kredit di kisaran 8-9%, ini menggembirakan, kondisi makro harus kita lihat. pertumbuhan secara selektif kita lakukan. Modal adalah kepercayaan dari pemegang saham. Injeksi pemodal dibutuhkan karena pertumbuhan Bank BJB. Pada akhir 2018 kemarin kami melakukan PMTHMETD (Penanaman Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) kami sudah disupport pemegang saham dengan tambahan Rp 280 miliar modal baru. Kami masih menunggu Rp 412 miliar dari pemegang saham dalam 1-2 tahun bisa dilakukan

Pertumbuhan laba kami semester I-2019 Rp 803 miliar didorong oleh pertama cost of fund dengan adanya penurunan 7 days reverse repo rate sangat mendorong penurunan biaya dana, membantu laba rugi. Lalu kedua dari sisi NIM kami cukup baik sampai semester I-2019, NIM rata-rata 5,7% sd 5,8% persen, sehingga di atas rata2 perbankan. Rata-rata perbankan masih 4,9%.

Hal ini akan memberikan tambahan energi dengan adanya penurunan 7 days reverse repo rate kemarin dari BI. Kami berharap sampai akhir tahun pertumbuhan kita positif dan tentunya kami berharap dengan tambahan program digitalisasi akan membantu CASA rasio lebih baik. Dengan penurunan suku bunga stimulus lain, kami berharap perang dagang antara China dan AS akan cooling down pada semester II-2019 ini, tentunya RBB akan bisa dicapai sd akhir tahun, berharap pencapaian-pencapaian RBB terpenuhi.

Agus Mulyana sebagai Direktur Kepatuhan berhasil menerapkan pola manajemen risiko bank bjb dengan kualitas kredit perseroan yang terjaga baik. Selain itu, bank bjb berhasil menjaga non performing loan (NPL) pada level 1,7%. Angka ini lebih baik dari rata-rata NPL industri perbankan nasional hingga Mei 2019 yakni sebesar 2,61%.

Tangan dingin Agus Mulyana juga mampu membawa bank bjb meraih penghargaan TOP GRC 2019 #4 Stars karena dinilai telah menerapkan manajemen risiko dan kepatuhan yang sangat baik. Penghargaan ini dinilai dari tiga aspek utama, yakni sistem, infrastruktur dan implementasi tata kelola perusahaan.

Amul memang memiliki kredibilitas dan kemampuan yang luar biasa dalam memimpin divisi kepatuhan, berperan penting dalam meningkatkan kinerja bank pembangunan daerah terbaik di Indonesia ini.

Amul lahir di Bandung tahun 1964. Menyelesaikan pendidikan S2 di Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 2007. Menjabat sebagai Direktur Kepatuhan bank bjb sejak 2019. Jabatan lain yang pernah dipegang antara lain:

Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko bank bjb(2015–2019)
Pemimpin Divisi Corporate Secretary bank bjb(2014–2015)

Comment

No comments yet. Write yours!