Chirpstory will close the service later this year. At the end of September, you will not be able to post stories or comments.

Menyoroti Budaya Patriarki yang Masih Melekat Pada Aksi Massa Mahasiswa di Indonesia: Sebuah Prespektif Menarik yang Hampir Hilang Dari Pantauan

Perspektif menarik yang hampir hilang dari pantauan
0
DEA @DeaSB

Depan DPR jam 7 malam, Jakarta. pic.twitter.com/80sfyNPvNY

23/09/2019 21:00:36 WIB
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Expand pic
🤔🔫 @Eduardlazarus

I took a walk and threw up in an English garden | Tinkers with @Koalisiseni | Occasionally corrects your EYD at @NewNaratif

🤔🔫 @Eduardlazarus

Banyak banget takeaway dari 4 jam ikut aksi depan DPR hari ini. Tapi temuan yang paling kengiang-ngiang adalah: budaya aksi massa mahasiswa kita inherently patriarkis.

23/09/2019 22:20:24 WIB
🤔🔫 @Eduardlazarus

Jam 6 sore, massa perempuan balik ke bis. Komandan aksi, yang laki-laki, teriak ke massa: "Perempuan nurut! Perempuan nurut! Balik." Jam 7 malam, rasio peserta aksi perempuan banding laki-laki mungkin (mungkin, ya) satu banding seratus.

23/09/2019 22:23:30 WIB
🤔🔫 @Eduardlazarus

Provokasi untuk ngerobohin pagar, misalnya, mulai muncul (dan berhasil) setelah hampir gak ada perempuan lagi di pusat aksi. Semuanya cowok. Mungkin karena gak ada perempuan lagi, jadinya dianggap layak buat chaos.

23/09/2019 22:30:04 WIB
🤔🔫 @Eduardlazarus

Gue nangkep logic buat melindungi perempuan dari potensi kekerasan waktu aksi. Tapi di sisi lain, budaya protes kita belum menemukan bentuk yang inklusif buat perempuan untuk ikut serta. Mungkin ini berarti kita perlu cari bentuk eskalasi yang nggak physical.

23/09/2019 22:32:27 WIB
🤔🔫 @Eduardlazarus

Tapi chaos kadang-kadang memang gak terhindarkan. Bedanya adalah bagaimana chaos jadi tujuan aksi, dan perempuan jadi gak bisa gabung gara-gara hasrat untuk chaos itu. (Tentu ada argumen bahwa perempuan boleh ikut chaos. I agree with this. Then again, the korlap didn't)

23/09/2019 22:38:08 WIB
🤔🔫 @Eduardlazarus

Dengan jadi lebih inklusif sama keterlibatan perempuan di aksi massa, kita bisa mencari bentuk ekspresi kolektif baru juga. Mungkin (sekali lagi, mungkin) kita gak gerak-gerak dari ekspresi romantik 98 yang kalau dilihat, penuh dengan laki-laki juga.

23/09/2019 22:40:45 WIB
🤔🔫 @Eduardlazarus

Berdasarkan pengamatan, cuma ada satu perempuan di pusat aksi pas chaos tadi: @thottiewitch. Kerjaannya neriakin semua provokator, neriakin orang nyuruh mundur. Dan lucunya, semua orang kaget karena denger perempuan teriak-teriak. "Cewek woy, cewek." Haha.

23/09/2019 22:44:44 WIB
🤔🔫 @Eduardlazarus

@thottiewitch Tapi dari segi mobilisasi massa, aksi tadi sukses banget. Senang ada potensi pembelajaran politik buat anak muda. Sekarang tinggal gimana caranya pembelajaran ini bisa sukses. There's a lot of unlearning to do, I guess.

23/09/2019 22:47:09 WIB
🤔🔫 @Eduardlazarus

@thottiewitch Pertimbangan redaksional dari @thottiewitch: perbandingan massa perempuan banding laki-laki setelah jam 8 malam bisa jadi 1 banding 500. Iya, sebanyak ini.

23/09/2019 22:49:11 WIB
🤔🔫 @Eduardlazarus

@thottiewitch Satu hal lagi, dan ini kayaknya poin paling penting. Mempertimbangkan bahwa banyak pasal RKUHP yang secara spesifik mengancam perempuan, urgensi keterlibatan perempuan di aksi hari-hari kedepan bakal jadi jauh, jauh lebih signifikan.

24/09/2019 00:43:38 WIB
fatiha @sabiellar

@Eduardlazarus problematik banget emang aksi-aksi gini menurut gue, kalo emang cowok cowok ini ga patriarkis juga pasti harusnya banyak yang datang waktu aksi dukung ruupks. Gak cuma karena uu kpk rkuhp aja🤧

24/09/2019 00:58:26 WIB
🤔🔫 @Eduardlazarus

@sabiellar Temuan berikut hasil ngobrol sama banyak massa aksi: banyak yang pemahaman isunya masih sangat surface level. Jadi ada problem distribusi pengetahuan.

24/09/2019 01:19:42 WIB
el luthfie @elthf

@Eduardlazarus Terlalu banyak dijejelin romantisme 98

23/09/2019 22:22:19 WIB
🤔🔫 @Eduardlazarus

@elthf Mohon dijadikan pertimbangan buat peserta aksi dari UI ya hhe

23/09/2019 22:51:45 WIB
Nisrina R @niniesrina

@Eduardlazarus Benar sekali. Di beberapa aksi sebelumnya juga, kalau perempuan yang orasi, massa pada bercanda, main hp, enggak supportive. Padahal yang dibicarakan si orator perempuan lebih ‘substantif’. Giliran lakik yang orasi, nyampah juga, massa rame aja. Full support. Hhhh.

24/09/2019 00:59:08 WIB
qeela @nemesisally

@Eduardlazarus @akunusam setuju bgt mbak! bukan perempuan bukan laki laki tetapi manusia siapapun berhak

24/09/2019 01:12:07 WIB
Eme @paramaeme

@Eduardlazarus Tepatnya: Budaya kita saat ini mmg masih patriarkis. Sebabnya, selama 30 tahun kita dipaksa menjadi orang Jawa oleh rezim Orba. Dlm budaya Jawa, dikenal istilah “Konco wingking” untuk istri, artinya kurleb: Teman di dapur. Dan dapur Org Jawa scr tradisi jauh di blkg rumah.

24/09/2019 06:09:36 WIB
Eme @paramaeme

@Eduardlazarus Edit: Terutama dapur org Jawa nigrat. Di belakang rumah, terpisah dari rumah utama. Mentalitas seperti ini dipelihara secara sistematis & melembaga selama 32 tahun. Contoh lain, Dharma Wanita: Perkumpulan istri pegawai. Tugas utama bangsa ini biar maju: Stop imperialisme Jawa.

24/09/2019 06:14:31 WIB
S. Anya Maharani @anyahebat

@Eduardlazarus @susuqntlmanis Iya, dulu waktu "sedang aktif-aktifnya" aksi pas masih jd mahasiswa, gw juga agak gak setuju secara pribadi kl massa perempuan habis sholat maghrib suruh minggir & gaboleh balik lg ke titik kumpul. Gw pernah jd korlap massa aksi perempuan, smp debatin ini panjang...

24/09/2019 01:32:17 WIB
S. Anya Maharani @anyahebat

@Eduardlazarus Gw ngerti maksudnya u/ melindungi perempuan krn biasanya semakin malam suasana semakin chaos, tp gw pribadi jd ngerasa kuraang bgt. Gw selalu setengah hati ngegiring temen2 buat minggir dr titik aksi. Ngerasa gak puas, padahal suara perempuan kan lebih melengking drpd pria!! wkwk

24/09/2019 01:34:06 WIB
Load Remaining (5)

Comment

No comments yet. Write yours!