Kasus Kredit Fiktif BJB Syariah Mulai Terungkap?

BJB Syariah selaku pemberi kredit tidak memiliki agunan atau jaminan dari PT HSK. PT HSK selaku debitur justru mengagunkan tanah induk dan bangunan ke bank lain
0

bank bjb syariah sangat anti terhadap kasus korupsi. bjb syariah melihat kasus korupsi sebagai tindakan tercela yang harus mendapatkan perhatian khusus dalam rangka pencegahan agar kasus bjb korupsi tidak akan muncul.

Kasus kredit fiktif yang melibatkan Bank Pembangunan Jawa Barat dan Banten BJB Syariah ke PT HSK perlahan mulai terungkap. Bank BJB Syariah selaku pemberi kredit tidak memiliki agunan atau jaminan dari PT HSK. Pasalnya, PT HSK selaku debitur justru mengagunkan tanah induk dan bangunan ke bank lain, yakni Bank Muamalat.

Dalam kasus tersebut, Bank BJB Syariah telah menyalurkan kredit ke PT HSK periode 2014-2016 senilai Rp548 miliar. Dana itu digunakan PT HSK untuk membangun 161 ruko di Garut Super Blok. Akan tetapi, anak usaha Bank BJB itu tidak memiliki agunan dari kredit yang disalurkan. Sementara itu, kredit tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai Kredit Tanpa Agunan (KTA).Sebab biasanya KTA yang disalurkan oleh perbankan hanya berkisar Rp200 juta hingga Rp300 juta. Bank BJB Syariah juga telah melakukan audit khusus mengenai kasus ini.

Pemimpin Desk Sekretaris Perusahaan Bank BJB Syariah Roby Asmana memastikan, penyaluran kredit tanpa jaminan aset dalam jumlah besar hanya dilakukan perseroan kepada PT HSK. "Rasanya tidak ada lagi," kata dia.

Di sisi lain meski ada kasus tersebut, bank bjb syariah menorehkan catatan gemilang memasuki periode Triwulan III 2019. Anak perusahaan bank bjb ini memperoleh penghargaan pada ajang TOP Bank 2019 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (28/8/2019). Dalam penganugerahan tahunan itu, bank bjb syariah mendapat komplimen sebagai TOP Bank Syariah 2019.

Selain itu, Direktur Utama bank bjb syariah Indra Falatehan juga dianugerahi gelar kehormatan TOP CEO Bank 2019 oleh dewan juri. TOP Bank merupakan ajang pemberian penghargaan tertinggi di Indonesia yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan perbankan dengan kinerja keuangan, produk, dan layanan terbaik, serta memiliki prospek bisnis cerah dan berkontribusi tinggi dalam pembangunan nasional.

Penyelenggaraan awarding ini digagas oleh sejumlah lembaga, termasuk di antaranya Majalah Top Business yag bekerjasama dengan Asia Business Research Center (ABRC), SGL Management, PPM Management, Melani K. Harriman & Associate, Investment & Financial Learning Center (IFLC) dan Yayasan Pengembangan Keuangan Mikro (Pakem). Pemberian penghargan dilakukan berdasarkan penilaian kinerja keuangan tahun 2017-2018, isian data kuesioner, dan data-data publikasi lainnya yang dihimpun oleh dewan juri.

Adapun fokus penilaian yang dipilih antara lain adalah kinerja masa lalu dan prospek bisnis perbankan ke depan. Pengolahan penelitian yang dilakukan dewan juri menggunakan tiga metode penilaian sekaligus, yakni penilaian kinerja, kuesioner dan survei konsumen. Hasil analisis tersebut kemudian dituangkan dalam laporan dan menjadi pijakan bagi dewan juri untuk menunjuk pemenang.

sumber: Bisnis & ayobandung

Comment

No comments yet. Write yours!