0
Maina ❤ @FunJunkies
Dan baru baca ini juga di IG Melanie Subono. Seriously. Kalau lo ngga bisa menghargai orang yang berbeda, mendingan tinggal aja di goa. Gausah ngotor2in pergaulan di masyarakat. pic.twitter.com/bTc7qJjHwY
Expand pic
Expand pic
Henry Manampiring @newsplatter

Penulis FILOSOFI TERAS. Ketua Umum Partai Keadilan Untuk Kemajuan (PELUK). Bukan pribumi, tapi probumi. IG: manampiring

https://t.co/yPtfUlvIDW
Henry Manampiring @newsplatter
Mau nimbrung soal ini. Kasus Melanie ini kayaknya hanya satu dari banyak kasus intoleransi lain yang pernah terangkat. Yg kepikiran sama gw: mengangkat (dan memviralkan) cerita2 kayak gini, sebenarnya lebih banyak manfaatnya atau ruginya? 🧐 (a thread) twitter.com/FunJunkies/sta…
Henry Manampiring @newsplatter
Saat kita membaca kasus intoleransi (atau ketidakadilan lain), biasanya kita emosi untuk cepet2 menshare, menghujat, dan mendoakan semoga Indonesia tidak memburuk. Tentu harapannya agar tidak terjadi lagi. Tapi mungkin kah kita malah memperburuk situasi?
Henry Manampiring @newsplatter
Mari kenalan dng konsep "social proof". Singkatnya, dalam berperilaku dan bertindak, manusia mencari sinyal apakah yg dilakukan banyak orang lain. Walau terjadi tanpa sadar (subconscious), strategi ini membantu survival species kita. There is assurance & safety in herd (kawanan)
Henry Manampiring @newsplatter
Social proof sudah biasa di dunia iklan: "8 dari 10 perempuan memilih merek pembalut X" "Apartemen Y sdh terjual 90%" "Filosofi Teras jd Best Seller" Pesan2 ini membujuk konsumen untuk ikutan yg udah dilakukan banyak orang lain. Udah ngikut aja, ngapain beda & ambil resiko?
Henry Manampiring @newsplatter
The dark side dari social proof? "Negative social proof", ketika kita tidak sengaja mempromosikan perilaku negatif walaupun niatnya justru kebalikannya. Ini ironisnya. Pernah ada eksperimen di taman nasional di AS, spy org berhenti mencuri kayu fosil.
Henry Manampiring @newsplatter
Ada dua tanda dites secara terpisah. Tanda 1: "Banyak pengunjung sudah mengambil kayu fosil di sini sehingga merusak alam ini." Tanda 2: "Jangan merusak alam dengan mengambil kayu fosil." Hasilnya, di Tanda 1 ada 5x lebih banyak orang nyolong daripada Tanda 2. Penjelasannya:
Henry Manampiring @newsplatter
Walaupun maksud Tanda 1 itu baik (menjelaskan situasi buruk), tapi justru tidak sengaja mengatakan bahwa nyolong kayu fosil itu udah biasa. Dan yg ngeliat jadinya merasa less guilty kalo ikutan. (liat aja motor melawan arah. Begitu bbrp mulai, semua ikutan kan?)
Henry Manampiring @newsplatter
Inilah tragedi "negative social proof". Saat kita viral marah2 menghujat perilaku buruk, kita tanpa sadar semakin mempromosikannya bahwa hal itu sudah/semakin jamak. Akhirnya perilaku yg sebenarnya masih sedikit jadi terlihat jamak dan jadi norma baru.
Henry Manampiring @newsplatter
Dengan kita terus2an hanya fokus pada cerita intoleransi, apakah kita makin mempromosikan intoleransi itu sendiri? Ditambah media yg hidup dari berita sensasi yg memanfaatkan rasa takut, tambah "normal" lah intoleransi dan makin mempercepat penyebarannya.
Henry Manampiring @newsplatter
Negative social proof ya lawannya positive social proof. Dalam eksperimen lain mengajak tamu hotel menggunakan handuk berulang, pesan "80% tamu hotel ini memakai ulang handuk" lebih efektif dari sekedar "cintailah lingkungan dengan memakai ulang handuk."
Henry Manampiring @newsplatter
Mungkin melawan intoleransi harus diimbangi dengan terus mengangkat kisah2 TOLERANSI, kebhinnekaan, dan persahabatan tanpa membedakan. Sehingga orang lain melihat bahwa normanya ya toleransi. Inget musuh toleransi bisa sengaja memprovokasi agar diviralkan, dan tambah populer deh.
Henry Manampiring @newsplatter
Yuk kurangi memviralkan perilaku2 negatif, dan tingkatkan menshare perilaku positif. Tunjukkan Indonesia masih lebih banyak yg cinta perbedaan, bertoleransi, dan ramah. Jangan bantu jadikan intoleransi (tampak) sebagai "norma" baru Indonesia. Lawan "negative social proof." -end-
Henry Manampiring @newsplatter
Nambah ah: Makanya bener kata orang2 Majapahit dulu: "Don't make stupid people famous on social media." Nanti stupidity jadi norma baru loh. 😅
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
@newsplatter Tks mas atas pencerahannya. Kebetulan saya sedang menulis buku ttg negative social proof ini. Dlm buku ini saya jg share beragam contoh kelam ttg dampak negative social proof. Persis spt yg mas sampaikan. Sdh lama saya cemas dg fenomena negative social proof di medsos.
Strategi + Bisnis @Strategi_Bisnis
@newsplatter Sangat sepakat dg saran unt lebih banyak sebarkan positive social proof di medsos. Bukan negative social proof. Namun kita ingat ada yg disebut "negativity bias". Bad is stronger than good. Bias kognitif itu yg bikin narasi negatif lbh mudah jadi viral.
Henry Manampiring @newsplatter
@Strategi_Bisnis Makanya perjuangan lebih berat karena ada inherent mental bias ini. 1 konten negatif mungkin butuh 100 konten positif utk ternetralisir.
Luqman Baehaqi @Luqbaehaqi
@newsplatter Kita bisa mencoba ngambil sudut pandang lain dari ibu yg ketemu mbak mel, mungkin dia malu dan tengsin. dia malu sudah "diskak" oleh mbak mel. Dan berujung dengan nggak jadi ngambil nasi kotak.
Henry Manampiring @newsplatter
@Luqbaehaqi Utas saya tidak memfokus pada kasus Melanie sih, tapi perilaku umum medsos yg sangat suka menshare kasus2 negatif, walaupun niatnya positif. Tragedinya sebenarnya antara "niat baik" vs outcome.
Luqman Baehaqi @Luqbaehaqi
@newsplatter Sepakat dan setuju om dengan utasnya. Cuma nyoba aja, kadang dengan ambil sudut pandang berbeda, share postingan negatif bisa jadi berkurang kadar negatifnya, atau netral atau kayak yg om piring lakukan. Bisa jadi ilmu baru buat orang lain.👌

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.