1
King Purwa @K1ngPurwa
PESAN KEPADA PRESIDEN JOKO WIDODO DARI CHANEE KALAWEIT (3 years ago) ...saat bpk presiden mengambil keputusan menbuat kanal-kanal baru di kalimantan tengah, bpk membuat situasi menjadi lebih parah... Simak selengkapnya di youtu.be/aEptjSS7Ow4 Chanee Kalaweit Channel pic.twitter.com/RS8Xxmemld
Agus Susanto II @Cobeh09
Pesan Untuk Presiden Jokowi Dari Aurelien Francis Brule (Chanee) Published On Oct 21, 2015 (Part-1) Nama : Aurelien Francis Brule (Chanee) Lahir : Fayence, Perancis, July 2, 1979 Status : Menikah (2002) Dengan Wanita Asli Kalimantan Bernama Nurpradawati. pic.twitter.com/Y0XL5o7yHt
Agus Susanto II @Cobeh09
Pesan Untuk Presiden Jokowi Dari Aurelien Francis Brule (Chanee) Published On Oct 21, 2015 (Part-2) pic.twitter.com/f9g3yZwAaF
Alip @aliefabiyyi2
@reformPSSI @Kalaweit @jokowi Kata @Kalaweit video ini ia buat pada tahun 2015 loh, jangan salah tangkap lo ya
Chanee 🇮🇩🇫🇷🇬🇧 @Kalaweit

#Wildlife / #Gibbon Rescuer #Kalaweit #ParamotorPilot #Skydiver #TreeClimber #ACRC Youtube: chaneekalaweit #surlaterredeKalaweit #vivementdimanche

https://t.co/ZUOQZvxsGH
Chanee 🇮🇩🇫🇷🇬🇧 @Kalaweit
Bagi yang coba viralkan video « marah » saya... ingat ya itu di tahun 2015... mungkin lebih baik gunakan medsos untuk memberi saran, masukan agar mengatasi kebakaran hutan dan lahan ke depan dari pada viralkan video lama saya. Terima kasih banyak.
Chanee 🇮🇩🇫🇷🇬🇧 @Kalaweit
🇮🇩Terima kasih untuk tidak mengunakan video2 saya dengan tujuan politik dll. Saya hanya ingin memberi saran dan ingin situasi ini berubah. Tidak ada niat lain. Hanya mewakili opini saya sendiri. Terima kasih.
Asal mula tertarik ke Indonesia:
URL https://beritagar.id/ 6258 Chanee Kalaweit, menjadi Indonesia karena owa Chanee menginjakkan kaki di Indonesia sejak usia 18. Ia mengaku sedang menjalani mimpi masa kecilnya yaitu melestarikan owa di pedalaman Borneo.

Pengujung 1997, setelah tiga bulan di Thailand, Chanee kembali ke Prancis. Dalam pesawat menuju Prancis, mata birunya tertuju pada satu judul artikel di surat kabar, "Kebakaran Hebat di Indonesia, Kita Kehilangan Dua juta Hektare."

Sejak itu, Chanee ingin menginjakkan kaki di Indonesia. "Dengan masalahnya (misal: kebakaran hutan), Indonesia adalah negara yang tepat untuk berbuat sesuatu bagi owa," ujarnya. Tiada berlebihan, sebab Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan jenis owa terbanyak--habitat bagi tujuh dari 17 jenis owa di dunia.

Jelang usia 19, Chanee menginjakkan kaki di Indonesia dengan sokongan dana Robin. Momen itu bertepatan dengan gelombang reformasi pada Mei 1998.

Ia pun hanya menghabiskan waktu sebentar di Jakarta, dan langsung bergerak ke Kalimantan, yang dikenal sebagai habitat owa.

Tiga bulan pertama di Kalimantan, Chanee menggelar survei di kampung-kampung. Hasil survei menyimpulkan bahwa banyak owa yang jadi hewan peliharaan. Primata itu juga jadi satu komoditas dalam perdagangan satwa ilegal.

"Owa adalah satwa liar, bukan peliharaan. Umumnya, owa yang dipelihara adalah korban pembukaan lahan yang bikin habitatnya hancur," ujarnya, dengan mata memicing. "Ketika itu masa illegal logging. Sekarang juga sama, owa jadi korban pembukaan lahan sawit."

Menimbang hasil survei itu, Chanee tergerak "memberi kesempatan kedua" kepada owa. Ia memancang tekad untuk melestarikan owa, mengembalikan ke habitatnya, atau paling tidak menjamin kesejahteraannya--bila tak bisa kembali ke alam.

Chanee pun mengambil langkah taktis dengan mendirikan Yayasan Kalaweit yang berbasis di Kalteng. Kalaweit, juga berarti owa, diambil dari bahasa Dayak Ngaju--suku terbesar di Kalteng.

Pada waktu yang sama, Chanee mengajukan izin kerja sama dengan Kementerian Kehutanan di Jakarta. Izin diperlukan sebagai tanda pas untuk mengurusi owa dan mengelola kawasan konservasi.

Pengurusan izin itu memakan waktu nyaris setahun. "Saya belum fasih bahasa Inggris atau Indonesia. Waktu itu sedang transisi kekuasaan, pejabat kementerian sering ganti. Jadi mengurus izin cukup sulit," katanya.

Pengurusan izin yang molor berimbas pada keuangan. Kala dompetnya mulai menipis, satu keluarga Betawi bersedia menampung Chanee di rumah mereka, Jalan Haji Samali, Jakarta Selatan.

"Saya tinggal bersama mereka. Tidur di satu ruangan empat kali lima meter, yang diisi tujuh orang. Dari mereka juga saya belajar Bahasa Indonesia," kenangnya.

September 1999, izin berhasil dikantongi. Chanee pun mulai membangun kawasan konservasi di Taman Nasional Bukit Raya Bukit Baka, Kalteng--Hulu Sungai Katingan.

Konon, area itu sesuai dengan mimpinya. "Waktu kecil, saya suka lihat peta Kalimantan, dan menandai titik yang bakal jadi kamp saya di tengah hutan. Akhirnya saya bisa bangun kamp persis di lokasi itu," katanya.

Namun, lokasi itu terlampau jauh. Alhasil, ketika jumlah owa mencapai 30 individu, Chanee mengambil pilihan untuk pindah ke Hampapak, Palangka Raya--sebuah pulau di tengah danau. Belakangan, kawasan itu juga harus lepas dari Kalaweit lantaran izin yang tak diperpanjang pemerintah setempat--kini beralih fungsi menjadi lahan sawit.

Menimbang pengalaman itu, Chanee dan Kalaweit merancang program pembelian lahan untuk keperluan konservasi. Program ini bergulir sejak 2011, di Pararawen, Barito Utara, Kalteng dan Hutan Sepayang, Solok, Sumatra Barat.

Kini, Kalaweit mengelola 500 hektare kawasan konservasi di kedua lokasi tersebut. Mereka juga mengurus lebih dari 300 owa dan ratusan satwa lain. Pun, ada sekitar 50-an owa yang sudah dilepasliarkan. Kalaweit juga mempekerjakan 67 orang, mulai dari petugas patroli sampai dokter hewan.

Upaya konservasi juga ditopang kerja kampanye, terutama lewat Radio Kalaweit (99,1 FM) di Palangka Raya. Lewat Radio Kalaweit, nyanyian sendu Raisa mengudara beriring kampanye pelestarian satwa, atau musik marah Green Day bergema sejalan kritik atas perusakan lingkungan.

"Sekitar 70 persen satwa di Kalaweit berasal dari masyarakat yang menghubungi kami, terutama lewat radio. Anak muda juga membantu kampanye, dengan membicarakan program Kalaweit yang mereka dengar," kata Chanee.

Menjadi Indonesia

Pada 2002, Chanee mempersunting perempuan asli Kalteng, Nurpradawati. Kini, keluarga mereka kian semarak dengan kehadiran dua anak lelaki, Andrew Ananda Brule (13) dan Enzo Gandola Brule (7).

Keluarga, kata Channee, merupakan salah satu faktor yang mendorongnya mengangkat sumpah setia di bawah merah putih, pada 2012.

Ia juga menceritakan satu momen personal yang menguatkan tekadnya beralih warga negara. Momen itu terjadi pada Desember 2009, ketika anak kembarnya lahir. Si bungsu, Enzo selamat dalam persalinan, tetapi tak lama berselang kembarannya meninggal dunia.

Chanee memakamkan mendiang anaknya di Kalteng. Ia pun mengaku tak ingin terpisah dari mendiang anaknya. "Saya tidak bisa membayangkan bila terusir dari Kalimantan, tempat saya mengubur anak sendiri. Sejak itu, saya makin berusaha menjadi WNI," katanya.

Pun, Chanee mengaku telanjur cinta dengan Kalimantan dan Indonesia. "Enggak mungkin saya membangun Kalaweit dan memperjuangkan konservasi di tanah yang tidak saya cintai. Saya di sini karena cinta. Kalimantan adalah rumah saya.

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.