3
Mazzini @mazzini_giusepe

Historia est testis temporum, lux veritatis, vita memoria, magistra vitae, nuntia vetustatis.

Mazzini @mazzini_giusepe
Estafet cita-cita industri pesawat terbang Nurtanio dan Habibie yang sama-sama kandas. Nurtanio dilupakan oleh bangsa sendiri, sementara Habibie dijegal oleh IMF. Mereka membangun industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. pic.twitter.com/D6LPQyZd9s
Expand pic
Expand pic
Mazzini @mazzini_giusepe
"Bangsa yang merdeka harus memiliki pesawat buatan sendiri untuk keperluan sipil dan militer. Jangan bergantung pada bangsa lain, bangun kekuatan udara sendiri,” - Marsekal Muda Udara Nurtanio Pringgoadisuryo pic.twitter.com/T0Zip4gmls
Expand pic
Mazzini @mazzini_giusepe
1. Sejak Indonesia diproklamirkan sebenarnya bangsa ini telah memproduksi pesawat terbang, produksi pesawat Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga sekarang memang mengalami pasang surut akibat pengaruh politik serta kemerosotan ekonomi.
Mazzini @mazzini_giusepe
2. Ketika Tentara Republik Indonesia (TRI) Angkatan Udara yang menjadi cikal bakal TNI-AU dibentuk pada 9 April 1946, dengan terbentuknya TRI-AU, dibentuk pula Biro Perencanaan dan Konstruksi yang berlokasi di Maospati, biro ini saat masa orde lama, memproduksi pesawat sendiri.
Mazzini @mazzini_giusepe
3. Biro Perencanaan dan Konstruksi TRI-AU dimotori oleh Laksamana Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisurjo saat itu pangkatnya masih Opsir Muda Udara II (setara Letnan II). Sosok Nurtanio memang sudah mencintai dunia penerbangan, jauh sejak zaman Indonesia belum merdeka. pic.twitter.com/57wdLAIa4J
Expand pic
Mazzini @mazzini_giusepe
4. Saat zaman penjajahan Jepang, beliau mendirikan klub pecinta pesawat bernama Junior Aero Club (JAC). JAC yang didirikan Nurtanio saat mengenyam pendidikan di sekolah teknik Kogyo Senmon Gakko, tujuannya mempelajari teknik pembuatan pesawat dan dasar Aerodinamika.
Mazzini @mazzini_giusepe
5. Setelah Indonesia merdeka, Nurtanio bekerja di Biro Perencana Konstruksi Pesawat TRI-AU, di wilayah Maospati, karena baru merdeka, saat itu kantor biro ini menempati ruang kerja bekas gudang kapuk. Tapi dari bekas gudang kapuk ini cikal bakal lahirnya industri pesawat
Mazzini @mazzini_giusepe
6. Gudang kapuk itu disulap menjadi sebuah bengkel kerja sederhana, Nurtanio memberikan usulan kepada atasannya Opsir Muda Udara III Wiweko Soepono sebagai pimpinan Biro untuk membuat pesawat murah dan mudah dibuat.
Mazzini @mazzini_giusepe
7. Nurtanio mengambil bentuk dasar dan desainnya dari yang sudah ada yaitu Zogling, karya dari ilmuwan aeronautika Jerman terkenal, Alexander Lippisch. Ide disetujui dan Nurtanio membangun Zogling dari bahan-bahan di sekitarnya yang mudah didapat.
Mazzini @mazzini_giusepe
8. Kayu jamuju dipakai sebagai bahan utama pesawat, ditebang sendiri oleh Nurtanio dari hutan, sementara kain belacu sebagai pembungkus badan dan sayap pesawat dibeli di Madiun, kawat-kawat untuk memperkuat struktur badan pesawat adalah kawat jemuran bekas (merinding nulisnya)
Mazzini @mazzini_giusepe
9. Maka jadilah pesawat layang NWG-1 (Nurtanio Wiweko Glider 1) tahun 1947, walaupun sederhana, tapi ini adalah buah karya awal dari industri penerbangan Indonesia. Caranya menerbangkannya sangat mudah, cukup diluncurkan dari atas bukit atau ditarik dengan motor atau mobil. pic.twitter.com/4PqKEZJk43
Expand pic
Mazzini @mazzini_giusepe
10. Sebelum akhir tahun 1947, enam buah pesawat layang NWG-1 diselesaikan. Pesawat layang sederhana ini diperuntukkan sarana latihan bagi klub terbang di Sekip, Yogyakarta dan untuk menyeleksi serta melatih 20 kadet pilot TRI-AU sebelum dikirim ke sekolah penerbang di India.
Mazzini @mazzini_giusepe
11. Sayangnya tidak ada pesawat layang NWG-1 yang tersisa, dapat dimaklumi selain bahan baku pesawat layang yang sederhana, kondisi dan situasi negara waktu itu dalam masa agresi militer Belanda menjadi faktor pesawat layang ini hilang atau hancur.
Mazzini @mazzini_giusepe
12. Setahun berselang pada 1948, Biro Perencanaan Konstruksi Pesawat TRI-AU mengukir prestasi lagi saat berhasil membuat mesin pesawat pertama, yang merupakan modifikasi dari mesin Harley Davidson dengan nama WEL-X (Wiweko Experimental Air Plane) atau RI-X pic.twitter.com/PIKZ8XlDys
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Mazzini @mazzini_giusepe
13. Mesin pesawat WEL-X yang dirancang oleh Wiweko Supono, atasan Nurtanio ini selanjutnya diaplikasikan dalam bentuk pesawat buatan mereka yang dikenal dengan nama RI-X. pic.twitter.com/sP06xH0FfS
Expand pic
Mazzini @mazzini_giusepe
14. Sayang, untuk sementara kerja keras mereka dalam industri pesawat dalam negeri harus terhenti karena kondisi politik saat itu kurang stabil akibat pecah peristiwa pemberontakan PKI di Madiun serta agresi Belanda. Bengkel pesawat mereka pun terpaksa ditutup.
Mazzini @mazzini_giusepe
15. Sementara itu, usai ditutupnya bengkel di Maospati, sekitar Juli 1948 Nurtanio ditugaskan ke Manila, Filipina untuk melanjutkan studi kedirgantaraan di FEATI (Far Eastern Aero Technical Institute).
Mazzini @mazzini_giusepe
16. Pada periode itu kegiatan penerbangan di Indonesia lebih ditekankan sebagai bagian dari revolusi fisik untuk pertahanan negara ketimbang penciptaan. Namun, pada masa ini juga lahir pesawat-pesawat yang dimodifikasi untuk misi tempur.
Mazzini @mazzini_giusepe
17. Agustinus Adisutjipto adalah tokoh berperan dalam periode ini, dia telah merancang dan menguji sendiri pesawat terbang hasil rancangannya pada medan pertempuran udara yang sesungguhnya. Adisutjipto memodifikasi pesawat Cureng atau Yokusuka K5Y ke dalam versi serangan darat. pic.twitter.com/NtXFx5HK53
Expand pic
Mazzini @mazzini_giusepe
18. Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto yang cerdas diharapkan dapat berkontribusi banyak pengembangan industri pesawat maupun karir militer TRI-AU, tapi sayang beliau wafat saat pesawat Dakota VT-CLA yang ditumpanginya jatuh ditembak tentara Belanda dalam agresi militer. pic.twitter.com/68AbXnacND
Expand pic
Mazzini @mazzini_giusepe
19. Dalam peristiwa tersebut pesawat Dakota VT-CLA jatuh di selatan Yogyakarta. Badan pesawat patah jadi dua bagian, pahlawan yg gugur saat itu Komodor Muda Udara Adisucipto (kanan), Opsir Muda Udara Adisumarmo (tengah), Komodor Muda Udara Profesor Dr Abdulrachman Saleh (kiri) pic.twitter.com/wPNdycKwxX
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Mazzini @mazzini_giusepe
20. Setelah agresi Belanda dan pemberontakan PKI Madiun berakhir, kegiatan produksi pesawat dilanjutkan pada tahun 1950, tapi lokasinya tak lagi di Maospati, pindah ke Lapangan Udara Andir di Bandung, Jawa Barat (sekarang Bandara Husein Sastranegara). pic.twitter.com/MIO6KLSUox
Expand pic
Mazzini @mazzini_giusepe
21. Pada saat bersamaan, setelah mendapatkan gelar Bachelor in Aeronotical Science dari FEATI, Nurtanio kembali ke Tanah Air dan pindah tugas ke Djawatan Teknik Udara di Lapangan Udara Andir. Tahun 1953 kegiatan di Djawatan Teknik Udara dilembagakan menjadi Seksi Percobaan.
Load Remaining (95)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.