0

Legenda Dortmund Ungkap Rahasia Pemain Asia Tembus Liga Jerman

KOMPAS.com - Liga Jerman dikenal ramah terhadap pemain asal benua Asia yang ingin unjuk kebolehan. Lantas, apa syaratnya agar pemain dari Asia, termasuk Indonesia, bisa berkarier di Jerman?

Pesepak bola Asia di Liga Jerman masih didominasi oleh pemain Jepang dan Korea Selatan. Borussia Dortmund, misalnya, punya gelandang Jepang, Shinji Kagawa, dan bek asal Korea Selatan, Park Joo-ho.

Selain mereka berdua, ada nama seperti Ji Dong-won (FC Augsburg), Makoto Hasebe (Eintracht Frankfurt).

Menurut mantan pemain Borussia Dortmund, Karl-Heinz Riedle, pemain dari benua Asia bisa sukses jika punya etos kerja yang baik. Dia menyebut sosok Shinji Kagawa sebagai contoh.

"Etos kerja Shinji sangat bagus. Dia selalu datang tepat waktu saat latihan, disiplin dan tidak pernah mengeluh. Saya rasa juga pemain-pemain dari Asia beradaptasi dengan sepak bola Jerman dengan baik," kata Riedle

Matahari Terbit di Bundesliga

Jakarta - Bundesliga Jerman memberi banyak kesempatan pada para pemain Jepang untuk tumbuh dan berkembang menjadi pemain berkualitas. Sudah lama memang sepakbola Jerman "menampung" para pemain Asia, tapi belakangan Jepang yang terlihat paling menonjol.

Kedua negara ini belakangan memang menjadi dua kekuatan ekonomi yang menonjol. Di Asia, Jepang sudah lama menjadi kekuatan yang berpengaruh secara ekonomi. Hal sama juga terjadi di Jerman. Saat krisis ekonomi melanda Eropa pada 2008, dan buntutnya masih terasakan sampai sekarang, Jerman relatif yang paling cepat mampu memulihkan dirinya.

Jika J-League, kompetisi di Jepang, menjadi salah satu yang paling sehat di Asia, hal sama juga terjadi di Bundesliga. Belakangan ini Bundesliga malah jadi bahan pembicaraan, bukan semata karena prestasi klub-klubnya, tapi juga kekuatan finansial, juga rasionalitas klub-klubnya dalam mengelola neraca keuangan.

Etos kerja, disiplin, dan kebanggaan terhadap kemampuan sendiri jadi ciri menonjol dua bangsa ini.

Di Jepang, ada istilah ganbaru, istilah yang bisa menggambarkan bagaimana kultur Jepang terbiasa memaksa setiap orang untuk mengeluarkan semua kemampuannya sampai batas yang terjauh. "Der Sieg is Alles [Kemenangan adalah segala-galanya]," begitu ucap orang Jerman, yang mencerminkan dengan benderang semangat untuk selalu unggul dalam bidang apa pun. Kerap kali itu dimengerti sebagai kesombongan atau kebanggaan yang berlebihan, tapi begitulah memang kesan yang sering terlihat jika berbicara dan mengenal orang Jerman.

Jerman dan Jepang memang memiliki kesepahaman soal arti kata rajin, disiplin, teroganisir, dan efisien. Tanpa nilai-nilai itu semua, Volkswagen, Mercedez Benz, Honda, dan Toyota tak akan menguasai pasar otomotif dunia. Tanpa itu juga, Jerman dan Jepang tak akan menguasai Eropa dan Asia dalam soal urusan sepakbola.

Kanselir sepakbola di Eropa bukan Italia, Spanyol, Prancis atau Inggris, melainkan Jerman. Jerman sudah 3 kali menggondol Piala Dunia dan 3 kali pula membawa pulang gelara juara Piala Eropa. Kombinasi dua catatan di Piala Dunia dan Piala Eropa itu belum mampu mampu dipecahkan negara Eropa lainnya.

Di Asia, kini Jepang juga menjadi raja. Raja berusia muda yang angkuh duduk di tampuk tertinggi. Pasca revolusi sepakbola yang dilakukan di akhir 1980-an, belum sampai 30 tahun, Jepang kini menikmati statusnya sebagai kaisar sepakbola di Asia. Sejak tahun 1992, raihan 4 kali juara Piala Asia, plus selalu lolos ke Piala Dunia 5 kali berturut-turut sejak 1998, membuat Jepang lebih baik ketimbang tetangganya Korea Selatan, Iran atau Arab Saudi.

Faktor Sejarah Hubungan Jerman-Jepang

Beberapa persinggungan dalam sejarah kedua negara, juga etos kerja yang sama-sama tinggi di antara dua kebudayaan itu, membuat fenomena pemain Jepang di Bundesliga akhirnya terlihat wajar dan bisa dipahami.

Jepang dan Jerman adalah dua raksasa yang pernah jadi simbol kekuatan poros barat dan timur. Keduanya memang sudah saling mengenal cukup lama, sejak pertengahan abad 18, saat Jepang masih dipimpin Shogun Takagawa dan negeri Jerman masih berada di bawah panji-panji Prussia.

Hubungan itu kian mesra saat Adolf Hitler menjadi Der Fuhrer yang memimpin Jerman Raya. Heinrich Himmler, tangan kanan Hitler, bahkan pernah menyebut bangsa Jepang sebagai etnis berbeda yang merupakan keturunan para dewa, sejalan dengan ras Arya yang dibanggakan sebagai ras terunggul di Eropa.

Hitler pun sepaham dengan Himmler. Dalam "kitab suci" Partai Nazi, Mein Kampf [Perjuanganku], Hiter begitu sering mengungkapkan rasa hormat dan kekagumannya terhadap orang Jepang ketimbang bangsa-bangsa Eropa tetanggnya. Di era Hitler itu, orang Jepang yang tinggal di Jerman bahkan dianugerahi gelar kehormatan ras Arya. Pendeknya: Arya honoris causa.

Status kehormatan ini umumnya diberikan kepada darah non-Arya namun sangat berjasa bagi partai dan Jerman. Tetapi Jepang mendapatkan pengecualian. Kehormatan itu bukan hanya diberikan pada orang Jepang yang berjasa, tapi pada semua orang Jepang tanpa kecuali.

Memang benar bahwa Jerman dan Jepang di masa itu menjalin kerjasama politik, militer dan ideologi. Bersama Italia, dua negara ini menjadi poros terpenting dalam Perang Dunia II yang sanggup menjadi lawan sepadan negara-negara adidaya seperti Amerika, Uni Soviet, Inggris, dan Prancis. Tapi penghormatan Jerman kepada Jepang itu juga dipicu oleh kekaguman dan rasa hormat Hitler pada bangsa Jepang yang dianggapnya memeram ciri-ciri ras yang unggul.

Yasuhiko Okudera sebagai Tapal

Jerman memang banyak membantu perkembangan sepakbola Jepang. Sebelum Olimpiade Tokyo pada tahun 1964, timnas Jepang melakukan kunjungan ke Duisburg. Hampir sama dengan yang dilakukan PSSI ketika mengirim timnas ke Bremen.

Perbedaanya, bangsa yang dikenal visioner itu jalan-jalan ke Jerman tak sebatas bertanding bola seperti PSSI. Jepang belajar dasar-dasar dari sistem olahraga sepakbola, khususnya untuk mempelajari bentuk dasar kompetisi dan pembinaan usia muda. Dalam perjalanan itu, Jepang menemukan inspirasi yang mereka perlukan untuk liga mereka sendiri yang saat itu masih amatiran. Inilah "restorasi meiji" di bidang sepakbola.

13 Tahun kemudian, sejarah pemain Asia di Bundesliga dimulai pada tahun 1977 saat pemain tengah Yasuhiko Okudera bergabung dengan FC Koeln. Oku yang bermain di klub amatir Furukawa Electric dikenalkan oleh manajer timnas Jepang, Hiroshi Nimomuya, kepada pelatih Koeln, Hennes Weisweiler.

Keputusan untuk berangkat ke Jerman tidak mudah diambil Oku. Dia sebenarnya takut kepergiannya ke Jerman akan berimbas kehilangan posisinya di perusahaan Furukawa Electric Ltd. Setelah dirayu oleh otoritas sepakbola Jepang dan jaminan bahwa ia dapat pekerjaan yang sama di perusahaan sekembalinya nanti, Oku pun akhirnya berangkat.

Selama empat tahun memperkuat Koeln [1977-1981], Oku menjadi legenda bagi klub. Ia adalah pemain tengah yang disegani kawan atau lawan. Golnya ke gawang Nottingham Forest di semifinal Liga Champions tahun 1979 jadi gol pertama yang dicetak orang Asia di ajang tertinggi sepakbola antar klub Eropa itu. Semua catatan yang diukirnya itu sedikit banyak ikut mempengaruhi stereotipe masyarakat Eropa terhadap pesepakbola Asia.

Sejak itu, Oku terus berkiprah di Jerman. Selain Koeln, dia juga sempat beredar di Herta Berlin dan Werder Bremen. Di Bremen, selama lima musim, ia menjadi bagian inti dari generasi emas Die Werderaner.

Pada tahun 1986, Oku pulang dari perantauan panjangnya dan kembali ke Jepang untuk bergabung dengan mantan klubnya, Furukawa Electric. Kehadirannya sebagai pemain pertama yang pernah mencicipi kompetisi professional menjadi kuda pacu bagi otoritas sepakbola Jepang untuk segera memulai profesionalisasi kompetisi di Jepang.

Etos Kerja Pemain Jepang di Bundesliga

Beberapa dekade setelah kedatangan Oku, "invasi" pemain Jepang ke Jerman pun jadi fenomena penting dalam perkembangan sepakbola Eropa. Media Jerman menyebutnya sebagai fenomena: "Die Nippon Connection".

Kesuksesan Shinji Kagawa bersama Dormund menjadi pemicu berdatangannya para pemandu bakat ke J-Leaque. "Biaya transfer dan gaji pemain muda yang sering relatif murah membuat Jepang lebih menarik bagi klub Jerman," ucap Takehiko Nakamura, General Manager agensi pemain Lead Off Sports Marketing kepada Associated Press.

Saat mendatangkan Kagawa, Dortmund hanya merogoh kocek 350 ribu Euro. Saat dilego ke Manchester United, Kagawa membuat Dortmund mendapat keuntungan 15 Juta Euro. Keberuntungan Dormund itu yang kini dicoba klub-klub lain di Jerman.

Pierre Littbarski, mantan pemain timnas Jerman dan pernah jadi pelatih Wolsburg, lagi-lagi mengungkapkan persepsi tentang bangsa Jepang yang telah lama berkembang di Jerman. Dia memuji memuji pemain Jepang yang tak banyak omong besar saat diwawancara wartawan. Littbarski menyebut, pemain Jepang lebih suka bekerja keras untuk membuktikan semuanya di atas lapangan

Jakarta - Bundesliga Jerman memberi banyak kesempatan pada para pemain Jepang untuk tumbuh dan berkembang menjadi pemain berkualitas. Sudah lama memang sepakbola Jerman "menampung" para pemain Asia, tapi belakangan Jepang yang terlihat paling menonjol.

Kedua negara ini belakangan memang menjadi dua kekuatan ekonomi yang menonjol. Di Asia, Jepang sudah lama menjadi kekuatan yang berpengaruh secara ekonomi. Hal sama juga terjadi di Jerman. Saat krisis ekonomi melanda Eropa pada 2008, dan buntutnya masih terasakan sampai sekarang, Jerman relatif yang paling cepat mampu memulihkan dirinya.

Jika J-League, kompetisi di Jepang, menjadi salah satu yang paling sehat di Asia, hal sama juga terjadi di Bundesliga. Belakangan ini Bundesliga malah jadi bahan pembicaraan, bukan semata karena prestasi klub-klubnya, tapi juga kekuatan finansial, juga rasionalitas klub-klubnya dalam mengelola neraca keuangan.

Etos kerja, disiplin, dan kebanggaan terhadap kemampuan sendiri jadi ciri menonjol dua bangsa ini.

Di Jepang, ada istilah ganbaru, istilah yang bisa menggambarkan bagaimana kultur Jepang terbiasa memaksa setiap orang untuk mengeluarkan semua kemampuannya sampai batas yang terjauh. "Der Sieg is Alles [Kemenangan adalah segala-galanya]," begitu ucap orang Jerman, yang mencerminkan dengan benderang semangat untuk selalu unggul dalam bidang apa pun. Kerap kali itu dimengerti sebagai kesombongan atau kebanggaan yang berlebihan, tapi begitulah memang kesan yang sering terlihat jika berbicara dan mengenal orang Jerman.

Jerman dan Jepang memang memiliki kesepahaman soal arti kata rajin, disiplin, teroganisir, dan efisien. Tanpa nilai-nilai itu semua, Volkswagen, Mercedez Benz, Honda, dan Toyota tak akan menguasai pasar otomotif dunia. Tanpa itu juga, Jerman dan Jepang tak akan menguasai Eropa dan Asia dalam soal urusan sepakbola.

Kanselir sepakbola di Eropa bukan Italia, Spanyol, Prancis atau Inggris, melainkan Jerman. Jerman sudah 3 kali menggondol Piala Dunia dan 3 kali pula membawa pulang gelara juara Piala Eropa. Kombinasi dua catatan di Piala Dunia dan Piala Eropa itu belum mampu mampu dipecahkan negara Eropa lainnya.

Di Asia, kini Jepang juga menjadi raja. Raja berusia muda yang angkuh duduk di tampuk tertinggi. Pasca revolusi sepakbola yang dilakukan di akhir 1980-an, belum sampai 30 tahun, Jepang kini menikmati statusnya sebagai kaisar sepakbola di Asia. Sejak tahun 1992, raihan 4 kali juara Piala Asia, plus selalu lolos ke Piala Dunia 5 kali berturut-turut sejak 1998, membuat Jepang lebih baik ketimbang tetangganya Korea Selatan, Iran atau Arab Saudi.

Faktor Sejarah Hubungan Jerman-Jepang

Beberapa persinggungan dalam sejarah kedua negara, juga etos kerja yang sama-sama tinggi di antara dua kebudayaan itu, membuat fenomena pemain Jepang di Bundesliga akhirnya terlihat wajar dan bisa dipahami.

Jepang dan Jerman adalah dua raksasa yang pernah jadi simbol kekuatan poros barat dan timur. Keduanya memang sudah saling mengenal cukup lama, sejak pertengahan abad 18, saat Jepang masih dipimpin Shogun Takagawa dan negeri Jerman masih berada di bawah panji-panji Prussia.

Hubungan itu kian mesra saat Adolf Hitler menjadi Der Fuhrer yang memimpin Jerman Raya. Heinrich Himmler, tangan kanan Hitler, bahkan pernah menyebut bangsa Jepang sebagai etnis berbeda yang merupakan keturunan para dewa, sejalan dengan ras Arya yang dibanggakan sebagai ras terunggul di Eropa.

Hitler pun sepaham dengan Himmler. Dalam "kitab suci" Partai Nazi, Mein Kampf [Perjuanganku], Hiter begitu sering mengungkapkan rasa hormat dan kekagumannya terhadap orang Jepang ketimbang bangsa-bangsa Eropa tetanggnya. Di era Hitler itu, orang Jepang yang tinggal di Jerman bahkan dianugerahi gelar kehormatan ras Arya. Pendeknya: Arya honoris causa.

Status kehormatan ini umumnya diberikan kepada darah non-Arya namun sangat berjasa bagi partai dan Jerman. Tetapi Jepang mendapatkan pengecualian. Kehormatan itu bukan hanya diberikan pada orang Jepang yang berjasa, tapi pada semua orang Jepang tanpa kecuali.

Memang benar bahwa Jerman dan Jepang di masa itu menjalin kerjasama politik, militer dan ideologi. Bersama Italia, dua negara ini menjadi poros terpenting dalam Perang Dunia II yang sanggup menjadi lawan sepadan negara-negara adidaya seperti Amerika, Uni Soviet, Inggris, dan Prancis. Tapi penghormatan Jerman kepada Jepang itu juga dipicu oleh kekaguman dan rasa hormat Hitler pada bangsa Jepang yang dianggapnya memeram ciri-ciri ras yang unggul.

Yasuhiko Okudera sebagai Tapal

Jerman memang banyak membantu perkembangan sepakbola Jepang. Sebelum Olimpiade Tokyo pada tahun 1964, timnas Jepang melakukan kunjungan ke Duisburg. Hampir sama dengan yang dilakukan PSSI ketika mengirim timnas ke Bremen.

Perbedaanya, bangsa yang dikenal visioner itu jalan-jalan ke Jerman tak sebatas bertanding bola seperti PSSI. Jepang belajar dasar-dasar dari sistem olahraga sepakbola, khususnya untuk mempelajari bentuk dasar kompetisi dan pembinaan usia muda. Dalam perjalanan itu, Jepang menemukan inspirasi yang mereka perlukan untuk liga mereka sendiri yang saat itu masih amatiran. Inilah "restorasi meiji" di bidang sepakbola.

13 Tahun kemudian, sejarah pemain Asia di Bundesliga dimulai pada tahun 1977 saat pemain tengah Yasuhiko Okudera bergabung dengan FC Koeln. Oku yang bermain di klub amatir Furukawa Electric dikenalkan oleh manajer timnas Jepang, Hiroshi Nimomuya, kepada pelatih Koeln, Hennes Weisweiler.

Keputusan untuk berangkat ke Jerman tidak mudah diambil Oku. Dia sebenarnya takut kepergiannya ke Jerman akan berimbas kehilangan posisinya di perusahaan Furukawa Electric Ltd. Setelah dirayu oleh otoritas sepakbola Jepang dan jaminan bahwa ia dapat pekerjaan yang sama di perusahaan sekembalinya nanti, Oku pun akhirnya berangkat.

Selama empat tahun memperkuat Koeln [1977-1981], Oku menjadi legenda bagi klub. Ia adalah pemain tengah yang disegani kawan atau lawan. Golnya ke gawang Nottingham Forest di semifinal Liga Champions tahun 1979 jadi gol pertama yang dicetak orang Asia di ajang tertinggi sepakbola antar klub Eropa itu. Semua catatan yang diukirnya itu sedikit banyak ikut mempengaruhi stereotipe masyarakat Eropa terhadap pesepakbola Asia.

Sejak itu, Oku terus berkiprah di Jerman. Selain Koeln, dia juga sempat beredar di Herta Berlin dan Werder Bremen. Di Bremen, selama lima musim, ia menjadi bagian inti dari generasi emas Die Werderaner.

Pada tahun 1986, Oku pulang dari perantauan panjangnya dan kembali ke Jepang untuk bergabung dengan mantan klubnya, Furukawa Electric. Kehadirannya sebagai pemain pertama yang pernah mencicipi kompetisi professional menjadi kuda pacu bagi otoritas sepakbola Jepang untuk segera memulai profesionalisasi kompetisi di Jepang.

Etos Kerja Pemain Jepang di Bundesliga

Beberapa dekade setelah kedatangan Oku, "invasi" pemain Jepang ke Jerman pun jadi fenomena penting dalam perkembangan sepakbola Eropa. Media Jerman menyebutnya sebagai fenomena: "Die Nippon Connection".

Kesuksesan Shinji Kagawa bersama Dormund menjadi pemicu berdatangannya para pemandu bakat ke J-Leaque. "Biaya transfer dan gaji pemain muda yang sering relatif murah membuat Jepang lebih menarik bagi klub Jerman," ucap Takehiko Nakamura, General Manager agensi pemain Lead Off Sports Marketing kepada Associated Press.

Saat mendatangkan Kagawa, Dortmund hanya merogoh kocek 350 ribu Euro. Saat dilego ke Manchester United, Kagawa membuat Dortmund mendapat keuntungan 15 Juta Euro. Keberuntungan Dormund itu yang kini dicoba klub-klub lain di Jerman.

Pierre Littbarski, mantan pemain timnas Jerman dan pernah jadi pelatih Wolsburg, lagi-lagi mengungkapkan persepsi tentang bangsa Jepang yang telah lama berkembang di Jerman. Dia memuji memuji pemain Jepang yang tak banyak omong besar saat diwawancara wartawan. Littbarski menyebut, pemain Jepang lebih suka bekerja keras untuk membuktikan semuanya di atas lapangan.

"Orang Jepang adalah pekerja keras dan berorientasi pada target yang jelas," kata Guido Buchwald. Mantan pemain belakang Jerman itu melanjutkan bahwa para pemain muda Jepang yang tiba di Jerman hanya memiliki satu tujuan: untuk menjadi sukses. Buchwald, yang kini menjadi Direktur Sepakbola di Stuttgarter Kickers, juga menekankan bagaimana para pemain muda Jepang tidak seperti pemain muda yang tiba dari Amerika Selatan yang kerap membuat masalah.

Dalam soal taktik, mereka juga amat mudah dan terbuka untuk dikelola dan sering dapat bermain di berbagai posisi hingga memudahkan pelatih dalam merotasi pemain atau mengubah taktik permainan. "Orang Jepang memiliki kecepatan, teknik, disiplin, serta bermain layaknya pekerja keras dan taat terhadap tim, kelebihan itu membuat mereka selalu fokus bekerja untuk tim," puji Felix Magath yang pernah melatih Atsuto Uchida di Schalke dan Makoto Hasebe di Wolfsburg.

Di musim 2012/2013 tercatat 11 pemain berkenegaraan Jepang bermain di Bundesliga. Itu angka terbesar pemain dari negara Asia yang bermain di sebuah liga Eropa. Dari 28 orang anggota skuat timnas yang berlaga di Piala Konfederasi kemarin, sembilan di antaranya berkiprah di Bundesliga.

Fans Schalke yakin bahwa full-back kanan, Atsuto Uchida, lebih baik ketimbang Phillip Lahm. Tergesernya Lahm dari skuad dream team Bundesliga musim lalu oleh Uchida seakan menegaskan keyakinan itu. Musim lalu memang jadi puncak karir Uchida. Dia bermain 24 kali untuk Schalke dan jadi instrumen penting yang membuat klub itu mengakhiri kompetisi di peringkat empat.

Belum lagi jika menilik catatan Hiroshi Kiyotake. Pemain yang mungkin akan jadi suksesor Kagawa sebagai bintang Jepang di pentas Bundesliga ini bukan hanya menyumbangkan 4 gol bagi FC Nurenberg, tapi dengan gemilang mencatatkan 11 assist. Inilah yang membuat Paul Lambert, manajer Aston Villa, tak henti-hentinya menggoda Nurenberg untuk melepas Hiro dengan tawaran transfer 10 Juta Euro.

Mengirim Pemandu Bakat, Bukan Direktur Pemasaran

Banjirnya pemain Jepang ke Bundesliga tentu meningkatkan profil Bundesliga di Jepang. Dengan mata sayup-sayup orang Jepang kini rela bangun tengah malam untuk menonton Bundesliga guna melihat saudara-saudara Jepang mereka berlaga. Pemberitaan Bundesliga selalu jadi sajian utama, terlebih berita soal pemain Jepang.

Ini pasar yang tentu saja tak luput dari pengamatan orang Jerman. Jangan heran jika pengelola Bundesliga membuat kanal khusus di situs resmi mereka yang tampil dalam bahasa dan huruf Jepang.

Stefan Bienkowsk, seorang kolumnis pengamat Bundesliga, meyakini bahwa Bundesliga masih akan mengandalkan pemain Jepang di masa-masa mendatang. Bundesliga seperti jadi antinomi bagi sepakbola Eropa. Di hadapan pasar sepakbola Asia, mereka datang bukan hanya menjual tetapi juga membeli. Asia yang dulunya dilihat sebagai peluang pemasaran kini berubah dilihat sebagai sumber bakat sepakbola.

Sayangnya hal itu belum berlaku untuk Asia Tenggara, apalagi Indonesia. Klub-klub luar datang ke mari dengan mengirimkan direktur pemasaran ketimbang para pencari bakat.

Untuk Ke Piala Dunia, Tiap Negara Butuh Ekspor-Impor

Pertanyaan “Dari 250 juta orang di Indonesia, mengapa tidak ada 11 yang bisa bermain timnas ke Piala Dunia?” adalah sesuatu yang klise. Soalnya, kualitas sepakbola tidak bisa cuma mengandalkan 11 pemain jago. Ada banyak unsur lain yang membentuknya, terutama ditinjau dalam segi ekonomi.

Di era globalisasi seperti sekarang ini, hubungan antarnegara jelas tak bisa dikesampingkan. Jarang ada negara yang 100 persen mandiri. Dalam beberapa hal, mulai dari sumber daya alam dan manusia, hingga urusan membuang sampah sekalipun, satu negara bergantung dengan negara lain.

Hal ini ternyata ada hubungannya dengan sepakbola. The Economist, menggambarkan bagaimana kegiatan ekspor-impor juga berpengaruh besar bagi kemajuan sepakbola sebuah negara.

Mengimpor Ilmu Sepakbola dari Negara Lain
Hal pertama yang diperlukan untuk membangun negara sepakbola adalah menyiapkan bibit-bibit unggul. Hal ini dilakukan Uruguay dan Cina. Kedua negara tersebut berusaha agar anak-anak bermain bola sedari kecil. Presiden Cina, Xi Jinping, ingin agar sepakbola diajarkan di 50 ribu sekolah pada 2025.

Kalau anak-anak sudah tertarik untuk bermain bola, maka yang diperlukan adalah pembinaan berjenjang dan berkualitas. Hal ini dilakukan oleh Federasi Sepakbola Jerman, DFB, yang memulai pengembangan akademi sepakbola pada 2001. Ini merupakan hasil dari buruknya timnas Jerman di era 2000-an yang dianggap tak bisa bersaing dengan kesebelasan negara lain.

Jerman menginvestasikan 1 miliar euro sejak 2001. Uniknya, sesi latihan lebih banyak dihiasi dengan latihan yang memaksimalkan kreativitas. Jerman pun mengombinasikannya dengan teknologi robotik untuk para pemainnya latihan umpan dengan akurat.

Akan tetapi, teknologi robot tak akan sebagus manusia dalam pengembangan manusia itu sendiri. Hal ini yang dilakukan Korea Selatan pada 2001 dengan mendatangkan Guus Hiddink. Kehadiran Hiddink memberikan dimensi baru buat Korea Selatan. Bukan cuma dalam jangka pendek, tapi juga jangka panjang.

Hiddink memerhatikan bahwa para pemain Korea Selatan tak punya kepercayaan diri untuk berekspresi. Padahal, itu amat diperlukan agar para pemain mereka bisa beradaptasi dengan sepakbola yang lebih cair di masa itu juga di masa depan. Menanamkan pemahaman untuk bermain kreatif pula yang hingga saat ini diterapkan Korea Selatan. Kalau ini tak dilakukan, mungkin kita tak akan mengenal nama-nama seperti Son Heung-Min atau Ki Sung-yeung.

Kehadiran Hiddink juga membuat para pencari bakat di Korea Selatan tak lagi cuma menyaksikan pertandingan di level klub. Mereka juga menyaksikan pertandingan tentara juga universitas. Ini tak lepas dari peran Hiddink yang merasa kalau sejumlah pemain bagus justru bergabung dengan angkatan bersenjata atau tetap menjalani kegiatan akademik mereka.

Hal yang sama juga dilakukan Hiddink ketika menangani Rusia. Ia meminta dibuatkan program pemanduan bakat dengan skala nasional. Akan tetapi permintaan ini tidak dikabulkan. Apa yang terjadi sekarang? Rusia menjadi kesebelasan dengan skuat tertua di Piala Dunia. Mengapa? Karena mereka tak punya pemain muda yang bagus.

Mengekspor Pemain Sebagia Pengalaman
Negara-negara Afrika biasanya lebih berprestasi di Piala Dunia ketimbang negara Asia. Mereka punya permainan yang lebih konsisten juga lebih dikenali publik karena para pemainnya juga bermain di Eropa.

Pantai Gading misalnya, mereka mengirimkan pemain ke Liga Belgia. Para pemain baru lebih mudah beradaptasi dengan kompetisi di Eropa, untuk kemudian dipantau kesebelasan yang lebih besar. Menurut Economist, ketika Senegal mengalahkan Prancis pada 2002, semua pemain Senegal, kecuali dua orang, bermain di kesebelasan Liga Prancis.

Akan tetapi, negara juga penting untuk mengetahui siapa saja yang bermain di luar negeri. Jangan sampai kasus Patrick Vieira terulang. Kala itu, karena Senegal tak pernah mengontaknya, Vieira pun akhirnya bermain untuk Prancis. Ia bahkan menjadi satu di antara sejumlah imigran yang menjuarai Piala Dunia 1998.

Hal senada juga dilakukan oleh Kroasia. Sejak 1991, tidak ada kesebelasan Kroasia yang bisa berbicara banyak di Liga Champions. Akan tetapi, para pemain mereka justru bisa bermain di Real Madrid, Barcelona, dan kesebelasan besar Eropa lainnya. Manfaatnya terasa saat ini ketika Kroasia berhasil ke final Piala Dunia 2018.

Akan terasa apabila para pemain tetap bermain di negaranya sendiri–kecuali di negara tempat kompetisi top Eropa. Seperti Meksiko U-17 yang berjaya di kelompok umurnya, tetapi di tim senior mereka justru melempem. Hal ini bisa dijelaskan bahwa mayoritas pemain di timnas senior Meksiko, bermain di liganya sendiri. Salah satu alasannya karena kesebelasan di Meksiko bisa membayar sama mahalnya dengan yang didapatkan para pemain ini kalau main di Eropa.

Ini juga yang mungkin menjadi jawaban kenapa timnas Indonesia bisa berjaya di kelompok usia U-16 atau U-19, tetapi selalu gagal di tingkat senior.

Perubahan Struktural
Selalu ada pertanyaan, mengapa negeri pengimpor, tidak mempelajari barang impornya dan memproduksi sendiri? Apalagi sepakbola juga tidak bicara soal sumber daya, karena setiap pemain pada umumnya punya kemampuan yang sama. Yang dibutuhkan adalah program-program. Lantas, mengapa jarang berhasil?

Menurut Szymanski ini merupakan bagian dari “jebakan kelas menengah” yang biasa dialami negara berkembang. Mereka bisa menyalin program yang sama, tapi gagal mengimplementasikannya secara struktural.

Sir Alex Ferguson adalah pelatih yang jenius. Apakah dia bisa sukses menangani timnas Indonesia? Bisa saja. Dengan bakat-bakat yang dipunya Indonesia, Fergie bisa saja memaksimalkan itu semua. Akan tetapi, bisakah Fergie tahan kalau-kalau PSSI bikin “Tur Timnas U-19 Keliling Indonesia”?

Di sinilah struktur itu berpengaruh. Akan sulit mengembangkan pemain kalau secara struktur tidak ada yang direformasi. Bagaimana sepakbola Indonesia mau maju kalau pemimpinnya saja cuti dan kini punya dua jabatan. Bagaimana suporter Indonesia mau rukun kalau anak buah pemimpinnya saja berulah di lapangan.

Login and hide ads.