6
SimpleMan @SimpleM81378523
-BISIKAN IBLIS- (Nyawa yang tergadaikan) HORROR THREAD- @bacahorror #bacahorror pic.twitter.com/UjCKTBRWBp
Expand pic
SimpleMan @SimpleM81378523
Malam ini, gw mau cerita sebuah cerita nyata yang pernah di ceritakan oleh salah satu teman gw waktu SMP. Sebuah cerita yang membuat bulukuduk gw selalu merinding tiap mendengar detail dari sebuah peristiwa yang lebih dari sebuah terror!!
SimpleMan @SimpleM81378523
Sebuah cerita yang akan membuat gw berpikir ulang dari apa arti sebuah kematian yang sebenarnya. Sebuah cerita tentang sebuah keluarga yang terikat dengan sebuah takdir yang akan membawa mereka dalam satu bencana yang di sebut “SIREP DUNYOTO” (Hidup namun Mati)
SimpleMan @SimpleM81378523
Disini gw akan menceritakan semuanya dari sudut pandang Andi, teman SMP gw yang pernah menjadi saksi peristiwa ini. Berlatarkan tahun awal 2000’an cerita ini terjadi di sebuah kabupaten di jawa timur, yang gak bisa gw katakan dimana tempatnya berada.
SimpleMan @SimpleM81378523
Dan disinilah semuanya kita mulai. ***
SimpleMan @SimpleM81378523
“Ndi, ki omahe sopo to? Gede bener” (Ndi, ini rumahnya siapa? Kok besar sekali) Tanya teman gw, Randu.
SimpleMan @SimpleM81378523
Seperti biasa, setiap minggu pagi adalah waktu yang tepat bagi gw untuk bersepeda keliling kampung, dan pagi ini menjadi lebih special ketika teman baik gw di SMP, Randu dan Riven, datang jauh dari kota untuk bisa berlibur dan menginap di kampung gw.
SimpleMan @SimpleM81378523
sebenarnya, alasan teman gw menginap bukan untuk sekedar menginap dan mengenal rumah dan kampung gw, namun untuk melihat saksi bisu dari peristiwa yang tempo hari gw ceritain ke mereka, sebuah cerita yang akan berhubungan dengan rumah besar di depan gw ini.
SimpleMan @SimpleM81378523
“iki omahe sing tak ceritak’ne wingi” (ini rumah yang aku ceritakan kemarin) kata gw, sembari menatap jauh jendela-jendela serta pintu yang sudah rusak tergerus jaman. Peristiwa ini sendiri sudah terjadi sekitar 4 tahun yang lalu dan sampai saat ini, rumah ini tak terurus,
SimpleMan @SimpleM81378523
seolah menyimpan semua kengerian itu sendiri, di atas tanah ini. Gw sendiri selalu merinding tiap melewati jalanan ini, terlebih bila melihat rumah besar ini, dengan pagar berkaratnya, rumput liar di halamanya, dan terlebih setiap melihat ke jendela-jendela yang kacanya sudah
SimpleMan @SimpleM81378523
pecah disana-sini, gw merasa, di dalamnya, seperti ada yang sedang mengamati gw darisana. Apapun itu, gw merinding. “oh iki ta. Oleh melbu ora iki?” (oh ini ta. Boleh masuk gak nih?)
SimpleMan @SimpleM81378523
“Haa” gw menatap Randu yang baru aja turun dari sepedanya, sementara Riven masih menimbang apakah dia mau senekat itu, apalagi bila tau sejarah rumah ini. Suara berderit dari pagar besi yang berkarat terbuka, ketika Randu sudah masuk dan memasuki halaman rumah yang di penuhi
SimpleMan @SimpleM81378523
rumput liar dengan tumbuhan putri malu disana-sini dimana durinya harus di hindari. Seolah gw tau kelakuan teman gw Randu yang memang sudah penasaran sejak awal gw ceritain cerita ini maka gw pun terpaksa mengikuti, Riven pun mau tak mau juga harus ikut.
SimpleMan @SimpleM81378523
Setelah susah payah, melewati semak belukar dan rerumputan yang tingginya hampir sedengkul akhirnya kami sampai di teras rumahnya, keramiknya masih tampak bagus meski di penuhi debu dan dedaunan yang entah tertiup angin dari pohon yang mana di sekitar sini.
SimpleMan @SimpleM81378523
“isok di buka gak iki” (bisa di buka gak ini?) kata Randu “ojok” (jangan) kata gw khawatir, gw udah buat perjanjian sebelumnya bahwa kami seharusnya hanya melihat dari pagar luar rumah, namun realitanya malah kita masuk sampai di teras Dasar Randu kebangetan, dia malah memutari
SimpleMan @SimpleM81378523
rumah dan bergerak pergi ke pintu belakang. Mau tak mau gw dan Riven mengikuti. Di samping Rumah ada tanah lapang yang juga di penuhi rerumputan liar, banyak pohon disana, mulai dari mangga hingga rambutan, di balik langkah kaki kami, gw terpaku menatap jendela-jendela yang
SimpleMan @SimpleM81378523
berjejer di sisi rumah, berharap gak mendapatkan pemandangan yang tidak di inginkan. Syukurlah, kami sampai di pintu belakang, dengan pemandangan yang gak kalah tak karuan seperti teras depan, bau amis dan pesing tercium disana-sini, beberapa kali gw menahan penciuman hidung gw,
SimpleMan @SimpleM81378523
di lain hal, Riven hanya diam memandang kesana-kemari, nyalinya menciut manakala dia melihat kearah ayunan besi yang gak kalah berkarat di bandingkan pagar rumah depan.
SimpleMan @SimpleM81378523
“Iku ta ayunan sing mok ceritak’ke” (itu kah ayunan yang kamu ceritakan itu) Randu pun menatap ayunan itu, kami bertiga tampak tegang, karena gw pernah mendengar bahwa setiap malam hari, ayunan itu selalu berayun sendiri, meninggalkan suara berdencit dari besi yang sudah lama
SimpleMan @SimpleM81378523
tidak di lumasi, namun hari ini, tampaknya semua baik-baik saja. Toh, itu hanya cerita dari warga kampung. Randu yang pertama mencoba membuka pintu, sesaat, gw di buat mengangah, karena pintu belakang tampak terbuka lebar di depan kami.
SimpleMan @SimpleM81378523
“isok di buka loh” (bisa di buka loh rupanya) kata Randu, yang entah begitu antusias. “melbu yok” (masuk yok) Gw berpikir, mungkin benar kata beberapa pemuda kampung gw, banyak yang bilang , semenjak kosong, rumah ini di gunakan untuk anak-anak nakal menenggak miras namun gak
SimpleMan @SimpleM81378523
sedikit dari sana muncul cerita-cerita bahwa terkadang ada penghuni tak kasat mata yang tinggal di dalam rumah ini. Gw terdiam lama, sampai Randu menarik tangan gw, sementara Riven, mulai berjalan mengikuti.
SimpleMan @SimpleM81378523
dari rumah kebanyakan, mungkin karena sudah lama tidak berpenghuni. Pikir gw Hal yang pertama gw rasain saat melihat bagian dalam rumah adalah, dingin. Hawanya benar-benar berbeda.
SimpleMan @SimpleM81378523
Randu yang memimpin. Gw melihat di tembok kiri kanan, penuh dengan coretan vandalisme, kadang gw miris melihatnya, namun bila gw lihat lagi coretan-coretan itu, gw rasa ini berhubungan dengan cerita masalalu rumah ini, terlebih saat gw tertuju pada sebuah kalimat yang membekukan
Load Remaining (267)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.