0
Qaris Tajudin @QarisT
Anak teman di Solo di-bully karena ke sekolah gak pake jilbab. Seblmnya dia cuek, tp kemarin dia pulang nangis krn teman2nya blg kalo ortunya salah didik. Membolehkan dia tdk berhijab. Dikatakan orang tua macam apa? Knp pendidikan agama buat anak pemarah & intoleran? A thread.
Qaris Tajudin @QarisT
Sedih dengernya. Saya gak akan membahas siapa yg salah didik di kasus ini. Saya cuma mau sharing tentang memberi pendidikan agama kepada anak.
Qaris Tajudin @QarisT
Semangat beragama boleh saja, tapi kalau sampai anak-anak jadi korbannya, ya jangan. Saya coba sharing pendapat pribadi dan pengalaman soal ini. Belum tentu ini benar dan tepat, tp utk sementara inilah yg saya alami.
Qaris Tajudin @QarisT
Sebelum teman cerita soal kejadian di Solo itu, saya sudah sedih ngeliat anak-anak sejumlah teman yg tumbuh sebagai pribadi yang marah. Sebabnya sih bisa macem2. Tp, uniknya, beberapa anak kenalan ini dididik dg cara “Islami”. Bahkan beberapa di antaranya hafiz/ah Al-Quran.
Qaris Tajudin @QarisT
Saya tanya ke sejumlah teman psikolog dan pengajar. Jawaban mrk kurang lebih sama: “Saya jg nemuin kasus serupa. Masalahnya bukan hanya konten yg diajarkan, tp bagaimana mengajarkannya. Jd, meski kontennya bagus, kalau caranya salah ya jadinya bisa gak sesuai.”
Qaris Tajudin @QarisT
Jadi ada dua hal: konten dan cara. Konten agama seperti apa yang kita ajarin ke anak-anak dan bagaimana caranya? Bagaimana kedua hal itu gak membuat anak2 trauma dan juga tidak membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yg berpikiran sempit.
Qaris Tajudin @QarisT
Saya awali dulu dengan cara. Byk teman yg mengajarkan agama ke anak2 dg cara keras, obsesif, penuh target. Saya coba berbaik sangka, mgk teman2 yg baru hijrah ini lg semangat mengajarkan kebaikan secara maksimal ke anak2nya. Tp caranya (dg tekanan berlebih) mungkin kurang tepat.
Qaris Tajudin @QarisT
Tekanan yg diniatkan agar anak menjadi saleh itu kemudian jd bumerang. Bahkan mengintimidasi anak lain. “Mgk krn mereka dapat tekanan di rumah. Biasanya, anak yg ditekan di rumah cenderung menekan anak lain.” Ya, beberapa di antaranya memang gampang mem-bully temannya.
Qaris Tajudin @QarisT
Dari pengamatan singkat (yg bisa jadi salah), saya tahu perilaku emosional itu mereka mendapat karena ada tekanan cukup kuat dr ortu. Termasuk dlm belajar agama dan Al-Quran. Mereka diminta untuk belajar ini-itu, menghapal ini-itu, ikut pengajian, gak boleh suka ini-itu.
Qaris Tajudin @QarisT
Soal gak boleh suka ini list-nya bisa panjang banget. Gak boleh suka semua princess-princess-an, gak boleh suka (apalagi) K-Pop, gak boleh suka musik, bahkan ada yang gak boleh suka sepakbola dan catur. Trus, mereka main apaan?
Qaris Tajudin @QarisT
Efektifkah cara itu? Mungkin ada yg berhasil, tapi banyak jg yang gagal. Bahkan berbalik. Beberapa remaja yg "berontak" kemudian bilang: “Ya, yg pengen gue jd hafiz/ah kan ortu, bukan gue.”
Qaris Tajudin @QarisT
Sekali lagi, saya bukan ingin mengecilkan makna tahfiz. Hal itu baik, tentu selama cara yang kita pakai juga baik. Tanpa tekanan. Banyak kok anak teman2 yang hafiz/ah tapi berperilaku baik.
Qaris Tajudin @QarisT
Hal mendasarnya dulu deh, KENAPA kita beragama? Jawabannya penting krn jd salah satu dasar kita mendidik anak. Saya dan istri sepakat bhw beragama adl utk membuat kita jd orang yg lbh baik.
Qaris Tajudin @QarisT
Jd konsentrasinya adalah karakter yg baik. Bukan obsesi ini dan itu. Kami memutuskan untuk gak maksa agar anak menghapal sekian ayat dan hadits, gak ada paksaan mereka pakai baju ini dan itu, gak ada larangan berlebihan
Qaris Tajudin @QarisT
Kami juga yakin, soal surga-neraka itu bukan kita yg nentuin. Karenanya, dlm mengajarkan agama, kami gak pernah ngancem/kasih harapan dengan: “Nanti kamu masuk neraka kalau gak salat.” Atau, “Kalau gak nakal, nanti masuk surga.” Kenapa?
Qaris Tajudin @QarisT
1. Surga-neraka itu abstrak bgt buat anak kecil. Mrk bisa salah mengerti dan punya persepsi salah. Kalau udah keliru, kebawa sampe gede. 2. Esensi agama kan mmg buat orang jd baik (Sesungguhnya aku diutus utk menyempurnakan karakter manusia, kata Rasul).
Qaris Tajudin @QarisT
Jd kalau nyuruh salat, kami bilangnya, ini cara kita berterima kasih. Waktu minta mereka puasa, ya kasih tau kalau ini latihan pengendalian diri. Hasilnya? Tanpa ditakut-takuti neraka pun mereka rajin salat dan puasa.
Qaris Tajudin @QarisT
Ibadah adalah sebagian dr agama. Ada hal lain yg gak kalah penting: karakter dan etika. Sama, ini jg mestinya diajarinnya gak pake ancaman. Yg penting mereka tahu apa dan kenapa mereka ngerjain hal itu.
Qaris Tajudin @QarisT
Memberi pengertian ini penting, karena pengertian ini yang akan menimbulkan kesadaran. Tanpa kesadaran, mereka hanya melaksankan perintah dan paksaan.
Qaris Tajudin @QarisT
Termasuk soal doa. Saya lbh sering mengajarkan doa dg bahasa Indonesia yg mereka ngerti. Misalnya, saat mau tidur, kami berdoa: “Tuhan, terima kasih untuk cinta yg Kau berikan hari ini. Bangunkan besok pagi agar kami bisa mencintai-Mu dan mengasihi orang lain.”
Qaris Tajudin @QarisT
Anak-anak itu cukup mengerti kok kalau diajak bicara serius. Jadi gak semua hal harus diajarkan lewat perintah. Ajak dialog, ajak mereka mengerti, perlakukan dengan dewasa, kasih kepercayaan.
Qaris Tajudin @QarisT
Hal kedua adalah soal konten apa yang diajarin. Saya dan istri cenderung utk ngajarin tentang cinta kasih. Semua ajaran agama diinformasikan dalam kerangka cinta kasih. Utk saat ini kami sepakat tidak mengajarkan takut kepada Tuhan. Loh kok? Bukannya itu penting?
Qaris Tajudin @QarisT
Banyak yg menganggap ketakutan ini penting dan bahkan ada sekolah yang motonya: “Ingin menciptakan generasi yang takut pada Allah.” Saya gak mau nyalahin mereka, tapi saya yakin semua ada waktunya. Bagi kami, saat ini anak-anak kami masih dalam tahap memahami cinta kepada Tuhan.
Qaris Tajudin @QarisT
Mengajarkan sesuatu yg belum saatnya bisa kontra produktif, loh. Ada kisah lucu paman saya yg ngajarin anak-anaknya (sepupu saya) takut kepada Tuhan. Eh, pas malem-malem disuruh ke dapur, sepupu saya gak mau: “Takut, nanti ada Tuhan di dapur.”
Qaris Tajudin @QarisT
Lanjut yaaa Konsep itu kayaknya terlalu abstrak untuk mereka, blm bisa dicerna oleh anak-anak. Mrk blm bisa bedain takut ke hantu dan ke Tuhan. Jd, kami saat ini konsen dulu di mencintai Tuhan. Caranya? Ya bergaul dg anak2 dg cinta.
Load Remaining (25)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.