2
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
TEROR GUNUNG LAWU Cerita dari teman Foto diambil dari Google pic.twitter.com/vls4gvi5yM
Expand pic
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Gunung Lawu adalah gunung yg pertama kali saya daki bersama Pitaloka, Rully dan Desta. Di antara kami ber-4 hanya Pitaloka yg sudah pernah naik gunung, kami mendaki sekitar tahun 2016 dan sampai puncak dengan payah. Kami menumpang tidur di warung, pendakian Lawu Via Cemoro Sewu.
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Dari dulu hingga kini, gunung Lawu terkenal dengan mitos angkernya dan saya rasa itu bukan sekedar mitos sih, karena saya sendiri pernah mengalaminya saat pertama mendaki pada tahun 2016. Menuju pos 5 via Cemoro Sewu, saya mendengar keriuhan seperti suasana pasar,
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
niat hati ingin beli buah (pisang) mendadak saya lari kencang menerjang semak-semak untuk mendekati sumber suara yang sebenarnya tidak ada, untung saja waktu itu Pitaloka menarik saya dari semak-semak, tak bisa membayangkan akhirnya bila tak ada Pitaloka saat itu.
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Menurut kawan pendaki, saya sedang terkena pasar setan, bila suara keriuhan pasar diikuti maka yang mengikuti tersebut akan hilang dan tak akan pernah kembali, huft ngeri.
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Dan itu adalah pertama kali saya mendaki ke Gunung Lawu, jadi masih belum benar-benar tahu jalur hingga seberapa terjal jalan yang harus ditempuh. Yang terbayang oleh saya adalah perjalanan yang begitu menantang dan terjal sehingga bisa memacu adrenalin.
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Oh ya, saya orangnya memang suka ceplas ceplos. Jadinya ketika menempuh perjalanan ke Puncak Lawu, tepatnya di salah satu pos ketika itu, dalam hati aku berucap sesuatu yang sebenarnya tidak boleh diucapkan ketika melakukan pendakian.
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
ucapan dalam hati itu kurang lebih seperti ini "ah, ternyata gunung lawu cuma segini" Padahal, kata seperti ini seharusnya tidak diucapkan. Namun saya pribadi khilaf, hingga akhirnya kejadian aneh itu terjadi.
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Jadi karena saya kebiasaan ketika melakukan perjalan selalu membawa buah, dan kali ini kebetulan yang luar biasa karena saya tidak menyiapka bekal itu. Lalu, tiba-tiba saya mendengar suara ramai seperti ada pembicaraan ibu-ibu. Kurang lebih seperti susasana pasar
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
saya tidak curiga, karena memang itu pertama kalinya ke Gunung Lawu. Terlebih lagi, saya hanya berfikir "alhamdulillah akhirnya bisa makan buah di perjalanan" masih dalam keadaan positif thinking...
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Karena mendengar suara "gedaang.... gedaaang... gedaaang". Akhirnya saya mencari dimana sumber suara itu berada. Namun anehnya, semakin saya cari semakin terdengar jauh suara itu. Dan tanpa saya sadar saya sudah masuk ke semak-semak, begitu yang dikatakan Pitaloka.
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Yang saya lihat hanya sebuah tanah lapang, tetapi ternyata tanah lapang yang saya lihat sebenarnya adalah semak-semak. Dan ketika itu hampir saja saya hilang dari rombongan, kalau saja Pitaloka tidak segera sadar saya bergerak ke semak-semak.
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
dan dengan polosnya, Pitaloka hanya bertanya "kamu mau buang aer Fril?" saya bilang tidak, lalu menceritakan kalau saya mendengar suara ibu-ibu penjual Pisang (gedang dalam bahasa jawa).
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Bulan januari lalu tepatnya tanggal 2, ada seorang pendaki yang hilang di Lawu dan belum ditemukan sampai sekarang. Terlepas dari itu semua memang sudah sepantasnya kita menjaga ucapan, sikap serta meluruskan tujuan bila hendak mendaki gunung.
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Sebenarnya tidak hanya di gunung saja sih, tindakan baik tersebut bisa digunakan saat kita berada di mana saja. Ada lagi kisah satunya ketika Leader Saya hilang. Lanjut ga nih? atau next aja ?
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Perjalanan itu kembali saya ulangi dengan kawan lain, mereka bertiga entah di mana sekarang. Cukup lama tak bersua, hanya bertukar kabar. Awalnya tim kami cuma ber-7, leader Sinto, Hanif, Slamet, Eko, Narwoto, Fitri dan saya.
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Sempat was was dengan jumlah ganjil rombongan. Mitos di Lawu tidak boleh mendaki dengan jumlah rombongan yang ganjil, memakai baju berwarna hijau serta blacklist untuk pendaki yang berasal dari kabupaten Cepu.
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Namun Sinto menyangkal semua pantangan itu, dia sudah 14 kali mendaki Lawu dengan jumlah rombongan ganjil ataupun genap dan semua baik-baik saja, wallahu’alam. Meeting Point di UNS (Universitas Sebelas Maret) Solo,
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Kami ber-7 bertemu dengan Fajar, Fery dan Tria, mereka rombongan dari Semarang dan Pekalongan. Rupanya Fajar sudah kenal Fitri lewat instagram, Sinto mengajak mereka untuk bergabung dan jadilah kita ber-10. Sebenarnya pendakian kali ini bukan hanya puncak yg jadi tujuan,
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
namun Sinto punya niatan menjadi relawan yang akan membawa rumah dupa hingga pos 5 (Gupak Menjangan). Rumah dupa tersebut beratnya mencapai 25kg, entah bagaimana nanti cara membawanya, kami berniat membersamai Sinto dalam pendakian serta menuntaskan misi baiknya.
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Rumah dupa akan ditacapka di pos 5, sepanjang pos terdapat rumah dupa untuk beribadah kaum Hindu serta berziarah. Dan pendakian-pun dimulai, kami berdo’a menurut kepercayaan masing-masing. Meski ada ragu karena beban rumah dupa, namun semoga bisa sampai pos 5 dengan selamat
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Kami ber-10 melangkah terpisah, Slamet dan Fitri sudah jalan terlebih dulu disusul Eko dan Hanif. Lepas dari Candi Cetho nafas mulai susah diatur. Saya Berjalan beriringan dengan Narwoto, Fery, Fajar dan Tria yang tak banyak bicara
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
Tiba di pos 1, Sinto sudah megap-megap. Tak dipungkiri beban yang dia bawa lumayan berat, rumah dupa yg beratnya sekitar 25kg. Rumah dupa ini difungskan untuk beribadah kaum Hindu dan untuk para peziarah. Teman-teman yang lain sudah menawarkan diri untuk ikut memikul rumah dupa
Pengagum Rahasiamu @blogsadli
namun Sinto tidak nyaman membawanya bersama-sama. Yah kami hanya bisa membersamai dan berdo’a. Sampai di pos 2 Tria nampak kelelahan namun tak ada sepatah kalimatpun yang ia utarakan, ia hanya menggigit madu saset
Load Remaining (19)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.