2
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
[THREAD] SOCIAL MEDIA INFLUENCER - Is It Really Good For Your Marketing Business?? Tempo hari netijen sempet rame soal influencer sosmed sebelah yg dianggap cari jasa 'gratisan' dgn imbal balik exposure. Apa sih social media influencers itu?? Seberapa efektif peran mereka?? pic.twitter.com/CgjrqeHYuK
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑ ุฎู…ู† ุงู„ุฑ ุญูŠู…. Dengan menyebut nama Allah yg Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sebagai generasi muda yang aktif berinteraksi melalui social media, apakah kalian pernah membeli suatu produk hasil dari rekomendasi/promosi seorang influencer medsos?
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Menurut uraian @lifewiretech, Social Media Influencer (SMI) adalah orang yg punya tingkat interaksi cukup tinggi di postingan medsosnya dan punya followers banyak, MINIMAL dlm satu platform medsos ya. Dari situ mereka kemudian sering promo brand/layanan jasa di akun medsosnya. pic.twitter.com/p2ZNqBOVDa
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Menurut @globalwebindex (2016), youtube menempati urutan pertama top social media platforms. Disusul facebook dan instagram. Inilah yg kemudian membuat social media jadi alternatif baru para marketeers untuk memasarkan brandnya. pic.twitter.com/NmRspU82r9
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Meskipun youtube merupakan top social platform, namun platform sosmed populer yg digunakan untuk strategi influencer marketing didominasi oleh INSTAGRAM (89%). Setidaknya itu ditunjukkan dari riset yg dilakukan oleh @BigCommerce (2018). pic.twitter.com/c77RxzhSKp
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Apalagi kalo melihat data dari @globalwebindex (2018), yg menyimpulkan bahwa 54% customers melakukan research product di social media. Ada yg sekadar ngintip, ada yg langsung follow brand itu, ada yg bahkan tanya2 lebih detail, dll. pic.twitter.com/ikLnyTn3OY
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Menurut artikel yg ditulis Business.com, customers skrg menganalisa online reviews dulu sebelum dia memutuskan beli barang (71%). 53% cewek bahkan WAJIB hukumnya membaca review sebelum beli kategori produk tertentu. Hanya 1% yg nganggap online review tidak penting. pic.twitter.com/HE8YBIF4dN
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Inilah kenapa sosok influencers kemudian punya peran VITAL dalam melakukan online reviews. Setidaknya itu sudah dibuktikan oleh @eMarketer (2019) dlm risetnya yg menjelaskan gimana peran influencer dalam mempengaruhi minat beli dan membentuk persepsi customers pd brand. pic.twitter.com/FSyCYMQ90Q
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Karna peran influencer di social media mulai diperhitungkan, riset dari @BigCommerce menunjukkan kalo perusahaan siap menambah budget lebih untuk promo brand mereka melalui jasa influencers social media. Mereka siap berkolaborasi untuk membangun brand awareness produknya. pic.twitter.com/OY3uyutAJd
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Emang berapa budget yang siap diinvestasikan untuk pake jasa influencer? Riset dari @BigCommerce (2018) menjelaskan bahwa budget yg disiapkan beragam. Mulai dr budget brand sekelas homemade product sampe brand premium. Ada yg cm kisaran $1000 dan ada yg sampe $1m dollars. ๐Ÿ˜ถ pic.twitter.com/sHzMlqScpy
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Aktivitas marketing itu kan macem2. Ada yg lewat reklame, ada yg lewat iklan tv, ada yg lewat promo minimarket, dll. Dan itu tentu ada proporsi budgetnya sendiri. Nah, riset dr @BigCommerce ini menunjukkan ada 17% perusahaan yg anggarin budget sampe 50% untuk influencer loh. ๐Ÿ˜„ pic.twitter.com/kRzTI1HLXP
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Krna udah keluar duit buat investasi di influencer, tentu sebuah perusahaan berharap adanya Return Of Investment (ROI) dong. Minimal impas lah ya. ๐Ÿ˜„ 41% mengatakan ROI dari jasa influencer 50:50 dibanding medium marketing lain. 34% bilang ROI lebih baik. 14% bilang sangat baik. pic.twitter.com/1PihyWFGU9
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Oke kita tau social media medium yg sangat powerful untuk influencer marketing. Lalu format konten apa yg dirasa efektif untuk strategi itu? Menurut data @BigCommerce, responden menilai instagram post adalah format yg paling disukai (78%). disusul Instastory dan Youtube video. pic.twitter.com/lI7TaGS6br
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Apa sebetulnya yg dicari sebuah perusahaan dgn menggunakan jasa influencer? Bagi perusahaan yg lagi rilis brand baru, building brand awareness adalah koentji utama mereka. Bagi brand yg udah cukup populer, jasa influencer jg bisa digunakan untuk meraih target audience baru. pic.twitter.com/rWSyHaWb0T
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Apa kriteria perusahaan dlm menggaet influencer yg pas untuk brand mereka? 81% berpendapat kualitas konten influencer jadi pertimbangan utama. 78% berpendapat followers influencer tsbt masuk dlm segmen pasarnya. 73% berpendapat tingkat interaksi dgn followers jg penting loh. pic.twitter.com/afyEiWuXUA
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Uraian Influencer marketing diatas kemudian dibahas lebih detail sbg salah satu marketing tools oleh thesis dari Biaudet (2017). Gimana customer menilai pentingnya online reviews. Lalu apa pentingnya reviews tadi untuk unit bisnis brand yg bersangkutan. pic.twitter.com/9YymonkV3A
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Lalu apa bedanya influencers sm brand ambassadors?? Kalo melihat uraian @TechCoHQ, sederhananya gini : Brand Ambassadors itu terikat kontrak dan wajib support perusahaan yg dia ikuti. Sedangkan influencers lebih pd kolaborasi untuk melakukan exposure/review suatu brand. pic.twitter.com/fXEzMPFuTR
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Ohh.. Berarti mulai sekarang kita rame2 pake jasa influencer aja ya? Eitss tunggu dulu. @eMarketer dalam risetnya ttg influencer, ada tantangan serius yg dihadapi. Yaitu adanya potensi FAKE FOLLOWERS. Dimana itu kemudian berdampak pd minimnya engagement rate. pic.twitter.com/isbca2ctVY
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Inti sebuah brand ingin dapat exposure adalah agar brand awareness netijen ttg produk itu semakin meningkat. Lah kalo followersnya FAKE, investasi mereka ke influencer percuma dong? Apalagi kalo tingkat fakenya tinggi. Ini contoh aja. Hasil dari Igaudit.io ๐Ÿ™ƒ pic.twitter.com/VgPWgjebtF
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Ada istilah INFLUENCER FRAUD terkait fenomena fake followers ini. Dijelaskan dengan sangat simpel oleh @Entrepreneur dalam artikel ini. Maka sebuah brand harus selektif dan hati2 dalam memilih partner influencer untuk program marketing mereka. pic.twitter.com/Z8q3xnuW2w
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
CONCLUSION Berbeda dgn brand ambassador, kerjasama dgn influencer sifatnya KOLABORASI. Namanya kolaborasi, tentu harus sama2 saling menguntungkan dong ya. Perusahaan ingin brandnya dikenal. Dan influencer getting paid dgn memberikan exposure/reviews sbg timbal baliknya.
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Gimana format exposure yg digunakan? Kembali pada perjanjian hitam putih atas kedua pihak. Apakah mau pake format youtube videos? Apakah dgn postingan instagram? Atau cukup dengan mention di instastory aja? Ini tergantung pd kesepakatan dua pihak yg bersangkutan.
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Perlu dipahami bahwa yg PERLU mendapat exposure adalah brand nya. Jd, yg BUTUH influencer adalah brandnya. Lalu kalo ada case si influencer punya project, terus menawarkan jasa exposure sbg ganti produk/jasanya, menurutku ini sudah melenceng dari fungsi influencer sendiri.
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Tapi semua kembali pd kesepakatan dua pihak yg berkepentingan. Kolaborasi jangan sampe ada yg merasa berat sebelah atau dirugikan. Klausul hitam putihnya harus jelas. Jangan sampe terkesan influencer cari gratisan krna gak mau invest kebutuhan projectnya sendiri.
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Customers ingin melihat review suatu brand berdasar pengalaman yg Anda rasakan. Sosok Anda sbg influencer lbh punya value bagi customers, drpd brand yg Anda review. Kalo Anda rekomen, besar kmgknan bnyak yg akan coba brand tersebut. Inilah yg jd alasan perusahaan invest ke Anda.
Load Remaining (1)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.